Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) menyatakan pembukaan kembali Selat Hormuz bagi lalu lintas maritim hanya dapat dilakukan apabila Amerika Serikat menghentikan intervensi militernya di kawasan tersebut. Iran juga meminta negara-negara pesisir menghormati kedaulatan wilayah perairannya.
Dilansir dari Anadolu Ajansi, Senin (13/7), pernyataan tersebut disampaikan IRGC melalui kantor berita Fars di tengah meningkatnya ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat di Selat Hormuz.
IRGC menegaskan penghentian campur tangan militer AS merupakan satu-satunya syarat agar jalur pelayaran strategis tersebut kembali dibuka untuk aktivitas maritim internasional.
Dalam pernyataannya, IRGC juga mengklaim telah menghancurkan sejumlah fasilitas dan infrastruktur militer Amerika Serikat sebagai bagian dari fase kelima operasi balasan atas serangan Washington terhadap Iran.
Target yang disebut diserang meliputi fasilitas militer AS di wilayah Al-Jufeir, Bahrain, serta radar udara jarak jauh FPS dan radar pendeteksi sasaran maritim di Oman menggunakan rudal dan drone.
IRGC memperingatkan bahwa apabila Amerika Serikat terus melakukan intervensi di Selat Hormuz, eskalasi konflik berpotensi semakin meluas dan memengaruhi stabilitas pasar minyak serta gas alam dunia.
Sebelumnya, Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) mengumumkan telah melancarkan serangan baru setelah tengah malam. Washington menyatakan operasi tersebut bertujuan melemahkan kemampuan Iran menyerang kapal-kapal dagang yang melintasi Selat Hormuz.
Tak lama setelah serangan itu, sejumlah ledakan dilaporkan terdengar di beberapa wilayah Iran, termasuk Bandar Abbas, Sirik, Jask, dan Pulau Qeshm. Sebagai respons, militer Iran mengumumkan telah melancarkan serangan rudal dan drone skala besar yang menargetkan pangkalan-pangkalan musuh di kawasan.