Fasilitator Nasional Lentera Hijau Indonesia, Syahrul Ramadhan, menegaskan bahwa krisis iklim saat ini bukan sekadar masalah lingkungan, melainkan sebuah krisis spiritual. Oleh karena itu, institusi keagamaan didorong untuk aktif menjadi bagian dari solusi, bukan hanya menjadi penonton.
Hal tersebut disampaikannya dalam Seminar Lingkungan Hidup bertema “Mengarusutamakan Isu Lingkungan dalam Gerakan Berkemajuan” yang digelar Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Serang di Aula Gedung Dakwah Muhammadiyah Kota Serang, Rabu (3/6). Acara ini diadakan untuk memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia.
"Banyak pendekatan lingkungan berbicara soal teknologi atau regulasi. Semua itu penting, tetapi tidak cukup. Kita juga membutuhkan perubahan kesadaran. Menjaga bumi adalah bagian dari tanggung jawab moral dan spiritual manusia," ujar Syahrul.
Selain Syahrul, seminar ini juga menghadirkan Deputi Direktur WALHI Tubagus Soleh Ahmadi dan aktivis Rekonvasi Bumi N.P. Rahadian. Para narasumber menyoroti lemahnya tata kelola sumber daya alam serta berbagai bencana ekologis yang kini berdampak langsung pada sektor kesehatan, pendidikan, dan kesejahteraan masyarakat, khususnya di wilayah Banten.
Sebagai langkah nyata, Syahrul mendorong rumah ibadah untuk bertransformasi menjadi pusat edukasi dan aksi lingkungan melalui khotbah, pengajian, dan gerakan sosial. Melalui seminar ini, PDM Kota Serang berharap isu lingkungan dapat terintegrasi penuh dalam gerakan dakwah dan pemberdayaan masyarakat demi membendung kerusakan bumi.