Pemerintah Kuba menyatakan kesiapan untuk melakukan dialog yang bermakna dengan Amerika Serikat (AS), namun menegaskan tidak akan membahas perubahan sistem pemerintahan atau konstitusi negara tersebut.
Wakil Menteri Luar Negeri Kuba Carlos Fernández de Cossío mengatakan, Kuba terbuka untuk berdialog, tetapi tidak dalam konteks membicarakan sistem politiknya.
“Kami tidak siap membahas sistem konstitusional kami, sebagaimana kami juga menganggap Amerika Serikat tidak siap membahas sistem konstitusional, sistem politik, dan realitas ekonominya sendiri,” kata De Cossío dilansir dari CNN, pada Kamis (6/2).
Presiden Kuba Miguel Díaz-Canel menguatkan pernyataan tersebut dengan menegaskan bahwa dialog tidak dapat dilakukan di bawah tekanan.
“Dialog di bawah tekanan adalah sesuatu yang mustahil,” ujarnya.
Pernyataan Kuba muncul beberapa hari setelah Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengatakan bahwa AS ingin melihat terjadinya perubahan rezim di Kuba, meski tidak secara eksplisit menyebutkan langkah konkret untuk mencapainya.
Sebelumnya telah mengganggu pasokan minyak Kuba dari Venezuela setelah menggulingkan Presiden Venezuela Nicolás Maduro. Selain itu, AS juga mengancam akan mengenakan tarif terhadap negara-negara yang mengekspor minyak ke Kuba.
AS menuding Kuba sebagai ancaman luar biasa karena dianggap beraliansi dengan negara-negara bermusuhan dengan AS, serta menjadi tempat aktivitas militer dan intelijen mereka.
De Cossio membantah keras tudingan tersebut dengan menegaskan bahwa Kuba tidak menimbulkan ancaman bagi Amerika Serikat.
“Kuba tidak menimbulkan ancaman bagi AS. Kuba tidak agresif, tidak bermusuhan, tidak menampung terorisme, dan tidak mensponsori terorisme,” tegasnya.
Pejabat Kuba menilai kampanye tekanan AS telah memberikan dampak serius bagi kehidupan masyarakat. Negara itu kini menghadapi pemadaman listrik berkepanjangan serta antrean panjang di stasiun pengisian bahan bakar akibat menipisnya pasokan energi.
“Kondisi yang dialami Kuba setara dengan perang dalam hal tekanan ekonomi koersif,” kata De Cossío.
Ia mengungkapkan bahwa pemerintah kemungkinan harus menerapkan langkah penghematan dan pengorbanan tertentu untuk menjaga cadangan bahan bakar, meski tidak merinci berapa lama pasokan yang tersisa.
Meski menolak membahas perubahan rezim, Kuba menegaskan tetap terbuka untuk membicarakan isu-isu yang dapat menguntungkan kedua negara. De Cossío menyebut kerja sama keamanan regional sebagai salah satu bidang potensial.
“Jika Amerika Serikat menginginkan kerja sama dalam memerangi perdagangan narkoba, Kuba bisa membantu. Kami pernah membantu di masa lalu, dan kami dapat terus membantu terkait lalu lintas narkoba di kawasan," ujar De Cassio.