Ekspor China melonjak pada dua bulan pertama tahun ini meskipun hubungan dagang dengan Amerika Serikat masih diwarnai ketegangan akibat kebijakan tarif yang diterapkan Presiden AS, Donald Trump.
Data resmi menunjukkan ekspor China pada Januari dan Februari meningkat lebih dari 20%, hampir tiga kali lipat dari perkiraan para ekonom. Kinerja ini membuat negara tersebut berpeluang melampaui rekor surplus perdagangan tahunan pada 2025.
Lonjakan ekspor ini terjadi menjelang rencana kunjungan Presiden AS Donald Trump ke China pada awal April untuk bertemu Presiden China Xi Jinping, sebagaimana dilansir dari BBC, Rabu (11/3).
China, yang merupakan ekonomi terbesar kedua di dunia, masih sangat bergantung pada sektor ekspor di tengah sejumlah tantangan domestik, termasuk lemahnya konsumsi masyarakat, penurunan jumlah penduduk, serta krisis di sektor properti.
Pemerintah China biasanya menggabungkan data perdagangan Januari dan Februari untuk menghindari distorsi akibat libur Tahun Baru Imlek yang tanggalnya berubah setiap tahun.
Kinerja ekspor China didorong oleh tingginya permintaan produk elektronik, sementara pengiriman barang pertanian dan manufaktur juga meningkat.
Pertumbuhan perdagangan terlihat kuat di beberapa kawasan. Perdagangan dengan negara-negara Eropa naik 27,8%, sementara ekspor ke negara-negara ASEAN seperti Thailand, Singapura, dan Filipina meningkat hampir 30%.
Namun, ekspor China ke Amerika Serikat justru turun lebih dari 10% setelah pemerintahan Trump menerapkan tarif dan kebijakan lain untuk mengatasi ketidakseimbangan perdagangan antara kedua negara.
Pekan lalu, pemerintah China menetapkan target pertumbuhan ekonomi tahun ini di kisaran 4,5% hingga 5%, lebih rendah dibandingkan target 5% pada 2025 yang sebagian besar tercapai berkat kinerja ekspor.
Sektor ekspor selama ini menjadi pendorong utama ekonomi China, terutama ketika konsumsi domestik melemah dan sektor properti mengalami perlambatan.
Pertemuan antara Trump dan Xi juga berlangsung ketika China, seperti banyak negara di Asia, menghadapi dampak ekonomi dari perang AS–Israel dengan Iran yang mengganggu pasar energi global.