Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengancam akan menjatuhkan "hukuman militer besar-besaran" terhadap Iran dan kelompok Houthi setelah dua kapal tanker minyak Arab Saudi diserang di Laut Merah. Serangan tersebut memicu kekhawatiran meluasnya konflik Timur Tengah ke salah satu jalur pelayaran energi paling penting di dunia.
Melansir CNA, Jumat (24/7 ), kelompok Houthi mengklaim telah menyerang dua kapal tanker minyak Saudi, Encelia dan Layla, sebagai bagian dari blokade laut terhadap Arab Saudi. Houthi menyatakan langkah itu diambil setelah Riyadh mengalihkan jutaan barel minyak per hari melalui Laut Merah untuk menghindari blokade Iran di Selat Hormuz.
Menanggapi serangan tersebut, Trump menegaskan Iran akan dimintai pertanggungjawaban apabila Houthi kembali menyerang kapal-kapal di Laut Merah.
"Jika mereka melakukan ini lagi, AS akan meminta pertanggungjawaban Iran, karena Houthi adalah boneka dan/atau proksi Iran, dan hukuman militer besar akan dijatuhkan kepada Iran dan, tentu saja, kepada Houthi sendiri," tulis Trump di Truth Social.
Dalam wawancara dengan Axios, Trump juga mengatakan sedang mempertimbangkan kembali operasi tempur besar-besaran terhadap Iran.
"Mereka belum merasakan cukup penderitaan," ujar Trump.
Sementara itu, militer AS kembali melancarkan serangan udara ke Iran pada Kamis (23/7) malam hingga Jumat (24/7) dini hari, menandai malam ke-13 berturut-turut operasi militer Washington. Media pemerintah Iran melaporkan serangan rudal juga menghantam Pulau Qeshm di Selat Hormuz, sementara serangan AS di Kota Ahvaz dilaporkan menewaskan empat orang dan melukai lima lainnya.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi menanggapi ancaman Trump dengan memperingatkan dampak penyitaan aset negara asing. Ia menilai langkah tersebut dapat menciptakan preseden berbahaya dalam hubungan internasional.
Di sisi lain, sumber di Iran dan Yaman mengatakan kepada Reuters bahwa Teheran telah mengirim komandan Garda Revolusi, penasihat militer, serta peralatan rudal dan drone ke Yaman beberapa hari sebelum Houthi mengumumkan blokade Laut Merah. Namun, Houthi membantah laporan tersebut.
Menurut sumber keamanan maritim, kapal tanker Encelia sempat mengirim sinyal darurat setelah dihantam rudal di dekat Pelabuhan Jizan, Arab Saudi. Kantor berita pemerintah Saudi, SPA, menyebut serangan itu memicu kebakaran di bagian haluan kapal.
Serangan Houthi juga meningkatkan kekhawatiran terhadap keamanan Bab el-Mandeb, selat yang menghubungkan Laut Merah dengan Samudra Hindia dan menjadi jalur penting pengiriman energi dunia setelah Selat Hormuz. Sejumlah kapal tanker dilaporkan mulai mengubah rute pelayaran untuk menghindari kawasan tersebut.