logo alinea.id logo alinea.id

Ahmad Muzani bongkar isi obrolan Prabowo-Megawati

Pada menit-menit terakhir, Fraksi Gerindra melabuhkan dukungan kepada Bambang Soesatyo setelah Prabowo menemui Megawati.

Fadli Mubarok Marselinus Gual
Fadli Mubarok | Marselinus Gual Jumat, 04 Okt 2019 00:35 WIB
Ahmad Muzani bongkar isi obrolan Prabowo-Megawati

Pada menit-menit terakhir, Fraksi Gerindra melabuhkan dukungan kepada Bambang Soesatyo setelah Prabowo menemui Megawati.

Sekretaris Jenderal Partai Gerinda Ahmad Muzani harus mengalah setelah rivalnya Bambang Soesatyo dari Fraksi Partai Golkar terpilih menjadi Ketua MPR periode 2019-2024 pada Kamis (1/10) malam.

Bamsoet terpilih setelah Ketua Umum Gerinda Prabowo Subianto bertemu dengan Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri. Pertemuan itu membuat hubungan kedua petinggi partai politik yang sempat menjadi Capres-Cawapres ini semakin dekat.

Akan tetapi, pertemuan itu justru memunculkan rumor transaksi kursi jabatan. Disebut-sebut dalam pertemuan itu ada kesepakatan antara Mega-Prabowo. Muzani diisukan bakal mendapatkan kursi menteri dalam kabinet Presiden Joko Widodo-Ma'ruf Amin.

Ketika dikonfirmasi usai Rapat Paripurna MPR, Ahmad Muzani membantah mentah-mentah rumor tersebut. "Siapa bilang? Saya baru dengar," kata Muzani di Gedung MPR/DPR.

Politikus Gerinda yang kini menjabat Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad mengatakan terpilihnya Bambang Soesatyo sebagai Ketua MPR merupakan hasil musyawarah mufakat antara fraksi-fraksi.

"Ini kan hasil kesepakatan secara musyawarah mufakat," ujar Dasco.

Pembicaraan Mega-Prabowo

Sponsored

Calon Ketua MPR yang akhirnya kandas, Ahmad Muzani, membeberkan isi pembicaraan antara Megawati Soekarnoputri dengan Prabowo Subianto sebelum Gerindra melabuhkan pilihan kepada Bambang Soesatyo.

"Pak Prabowo menyampaikan kepada Ibu Megawati tentang perlunya keseimbangan politik nasional," kata Muzani usai Rapat Paripurna MPR RI.

Muzani menjelaskan, Prabowo meminta Megawati kalau memungkinkan memberikan dukungan kepada kader Gerindra menjadi Ketua MPR RI periode 2019-2024.

Menurut dia, Megawati berterus terang bahwa agak sulit menolak permintaan Prabowo tersebut namun bagaimana cara menerimanya karena proses pemilihan Ketua MPR sudah berlangsung.

"Karena itu, Ibu Mega memohon pengertian Pak Prabowo agar bisa menerima proses ini dengan baik dan menjaga MPR dengan musyawarah untuk mufakat," ujarnya.

Namun menurut dia, Megawati sepenuhnya menyerahkan keputusan itu kepada Prabowo dan Gerindra sebagai partai politik yang mandiri.

Muzani menjelaskan, setelah komunikasi tersebut, Prabowo memanggil dirinya untuk meminta penjelasan peta fraksi-fraksi pemilihan calon Ketua MPR RI.

"Saya laporkan kepada beliau tentang hasil pembicaraan dengan partai-partai dalam lobi fraksi-fraksi MPR. Kemudian, saya bicara juga hasil pembicaraan dengan Amien Rais, dengan Zulkifli Hasan, PKS, Demokrat melalui Sekjen, saya bicarakan semua dan partai-partai semua," katanya.

Menurut dia, akhirnya Prabowo mengambil keputusan demi kepentingan lebih besar meminta dirinya tidak meneruskan proses pencalonan sebagai Ketua MPR RI.

Muzani mengatakan Prabowo tidak ingin MPR larut dalam kepentingan-kepentingan proses pencalonan Ketua MPR.

"MPR adalah salah satu alat perjuangan dan sebagai alat perjuangan tentu kita harus memandang ini sebagai alat mencapai tujuan sehingga beliau harapkan ada hal-hal lain yang lebih strategis yang akan kita capai nanti," ujarnya. (Ant)