sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

Airlangga Hartarto dinilai akan dipilih secara aklamasi

Kursi ketua umum Partai Golkar dipastikan kembali dipegang Airlangga Hartarto.

Akbar Ridwan Marselinus Gual
Akbar Ridwan | Marselinus Gual Rabu, 04 Des 2019 12:01 WIB
Airlangga Hartarto dinilai akan dipilih secara aklamasi

Airlangga Hartarto diyakini akan kembali memimpin Partai Golkar untuk periode mendatang. Ini setelah bergugurannya bakal calon ketua umum Partai Golkar, baik karena mengundurkan diri ataupun tidak memenuhi persyaratan yang telah ditentukan. 

Politikus Partai Golkar Ace Hasan Syadzily mengatakan, bakal calon ketua umum Partai Golkar tinggal menyisakan Airlangga Hartarto dan Ridwan Hisjam. Melihat kondisi lapangan, kemungkinan besar pemilihan ketua dilakukan secara aklamasi.

"Ya aklamasi untuk menunjuk Airlangga sebagai ketua umum sangat mungkin terjadi," kata Ace di sela-sela acara Munas Golkar, Jakarta, Rabu (4/11).

Agenda munas pada saat ini tinggal mendengarkan pandangan dari Dewan Pimpinan Pusat (DPD) I (tingkat provinsi) dan DPD II (tingkat kabupaten) tentang laporan pertanggungjawaban Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Golkar.

Pandangan tersebut untuk mengevaluasi sekaligus mengkritisi kepemimpinan Airlangga selama lima tahun terakhir.

"Kita melihat dulu pandangan daerah. Kalau mengerucut ke Pak Airlangga, maka bisa ditetapkan aklamasi," jelas dia.

Pantauan Alinea.id, beberapa daerah sudah menyampaikan pandangan umum. DPD Jawa Barat yang dipimpin Dedy Mulyadi menyatakan mendukung kembali Airlangga. Dukungan yang sama muncul dari DPD Gorontalo.

Seperti diketahui dari sembilan bakal calon ketua Partai Golkar, pada hari kedua penyelenggaraan munas, hanya menyisakan dua bakal calon ketua umum, yakni Airlangga Hartarto dan Ridwan Hisjam. Adapun sisanya dinyatakan tidak memenuhi syarat atau memutuskan mundur sebelum munas dimulai.

Sponsored

Ada empat bakal calon yang dinyatakan tidak lolos administrasi oleh komite pemilihan. Mereka adalah Derek Lopatty, Aris Mandji, Indra Bambang Utoyo, serta Achmad Annama. Adapun tiga bakal calon lainnya memilih mundur dari bursa pemilihan, termasuk calon kuat Bambang Soesatyo alias Bamsoet, Agun Gunandjar Sudarsa dan Ali Yahya.

Ketua Komite Pemilihan Ketua Umum Partai Golkar, Maman Abdurrahman menyebut ada empat dari sembilan bakal calon ketua umum (caketum) Partai Golkar yang belum memenuhi syarat. Mereka adalah Indra Bambang Utoyo, Aris Mandji, Derek Lopatty dan Achamad Annama.

Menurut Maman, empat orang itu memiliki alasan yang variatif sehingga dianggap belum memenuhi syarat. Terkait Indra Bambang Utoyo, yang bersangkutan tidak bersedia memenuhi poin tidak mendirikan partai politik lain apabila kalah. Poin itu tertuang dalam surat pernyataan.

"Karena dasar itulah akhirnya kami dari Komite Pemilihan tidak bisa memasukan dia dalam kategori memenuhi syarat," kata Maman di Ritz-Carlton, Kuningan, Jakarta Selatan, Selasa (3/12).

Sedangkan Achamad Annama, belum menjadi pengurus Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Golkar selama kurang lebih lima tahun.

Derek Lopatty tersandung persyaratan terkait prestasi dan beberapa lainnya. Derek dianggap tidak memiliki prestasi di tingkat DPP Partai Golkar. Namun, apabila dilihat dari sisi organisasi kepemudaan, Maman mengatakan yang bersangkutan memiliki prestasi luar biasa.

"Ini kontestasi Munas Partai Golkar yang dilihat adalah prestasi di internal DPP Partai Golkar," jelas dia.

Untuk Aris Mandji, Maman menyebut tidak memenuhi syarat karena pernah menjadi calon legislatif dari partai lain.

Sebelumnya, politikus Partai Golkar Indra Bambang Utoyo dan Agun Gunandjar Sudarsa memutuskan mundur dari bursa calon ketua umum (caketum) Golkar. Keduanya mengaku memutuskan mundur untuk mengikuti jejak Bambang Soesatyo (Bamsoet). 

Diketahui Bamsoet menyatakan mundur dari bursa caketum usai bertemu Airlangga dan sejumlah politikus senior Golkar di Kemenko Maritim, Jakarta Pusat, sore tadi (3/12). Menurut Bamsoet, ia memutuskan mundur demi menghormati nasihat para tokoh senior. 

Jika Bamsoet, Agun, dan Indra memutuskan mundur, bakal caketum Golkar lainnya Ali Yahya justru tersingkir karena tidak memenuhi syarat administrasi. 

Menurut Ketua Panitia Pelaksana Musyawarah Nasional (Munas) X Golkar Adies Kadir, Ali tidak berhasil mengantongi dukungan tertulis dari 30% pemilik suara. 

"Mengkin kurang kesiapan karena terkait persyaratan 30% dukungan. Kalau susah didapat, percuma juga maju. Mungkin itu ya, saya juga kurang tahu," kata Adies.