sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Geliat para pendengung di belakang Anies Baswedan 

Di jagat maya, sejumlah buzzer aktif mempromosikan kebijakan-kebijakan Anies sebagai gubernur dan memojokkan Jokowi.

Kudus Purnomo Wahidin
Kudus Purnomo Wahidin Kamis, 26 Mar 2020 05:58 WIB
Geliat para pendengung di belakang Anies Baswedan 
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 506.302
Dirawat 64.878
Meninggal 16.111
Sembuh 425.313

Di tengah terus bertambahnya jumlah warga yang positif terjangkit Covid-19, Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian menyempatkan diri menyambangi kantor Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan di Kebon Sirih, Jakarta Pusat, Selasa (17/3). 

Setelah menggelar pertemuan tertutup, Anies dan Tito lantas hadir dalam konferensi pers bersama. Anies bicara duluan. Kepada para pewarta yang hadir, Anies menyebut keduanya membahas penanganan wabah Covid-19 di Jakarta. 

Saat diberi kesempatan bicara, Tito menyampaikan ia memang sengaja berkunjung. Pasalnya, ada pesan Presiden Joko Widodo (Jokowi) soal lockdown atau kuncitara yang harus disampaikan pada Anies. 

Di depan para pewarta, ia menegaskan, lockdown adalah kewenangan pemerintah pusat. "Menjadi urusan absolut pemerintah yang merupakan pemerintah pusat dalam hal ini Presiden," ucap mantan Kapolri itu. 

Pesan tersebut disampaikan Tito setelah wacana opsi lockdown untuk menghentikan penyebaran Coronavirus atau Covid-19 di Ibu Kota sempat berembus. Padahal, Jokowi tidak pernah menginstruksikan kepada kepala daerah untuk mengambil opsi itu. 

Tak hanya soal lockdown, Anies dan pejabat pusat juga sempat berselisih soal situs informasi Covid-19 yang dirilis Pemprov DKI Jakarta, sejak Januari 2020. Ketika itu, Menkominfo Johnny G Plate yang turun tangan menegur Anies.

Johnny mengkritik kebijakan Anies lantaran Kemenkes sudah punya situs serupa. Apalagi, data yang dilansir pemprov dan Kemenkes soal jumlah pasien yang positif Covid-19 sempat berbeda dan menuai kontroversi. 

"Dalam rangka komunikasi publik, pemerintah daerah mengikuti protokol pemerintah pusat saja supaya satu saja narasi dari pemerintah," kata Plate. 

Sponsored

Selain soal penanganan Covid-19, Anies juga kerap tak sejalan dengan pemerintah dalam beragam isu, mulai dari penanganan banjir awal tahun 2020, revitalisasi Monas, hingga penyelenggaraan Formula E. Kritik pedas pun kerap dilayangkan para pembantu Jokowi terhadap Anies. 

Para pegiat media sosial pun turut mencela kebijakan-kebijakan Anies yang kerap menuai kontroversi. Meski demikian, Anies bukan tanpa pembela. Di jagat maya, para pendengung (buzzer) pro-Anies bekerja menghalau serangan-serangan terhadap mantan Mendikbud itu. 

Tak hanya oleh politikus, kebijakan Anies juga dibela tokoh-tokoh Persaudaraan Alumni (PA) 212, individu, dan akun-akun anonim. Menurut riset Alinea.id, setidaknya ada 40 akun yang aktif menghalau isu-isu negatif yang menyerang Anies di Twitter. 

Dalam penanganan Covid-19, para pendengung rajin memproduksi narasi agitasi untuk menyerang balik pihak yang memojokkan Anies. Bahkan, ada pula yang rajin membingkai Anies sebagai sosok kuat calon presiden di Pilpres 2024.

Itu misalnya dilakukan oleh Marlina Mawar atau pemilik akun @marlina_idha. Marlina tercatat mulai aktif di Twitter sejak April 2016. Di laman akunnya, Marlina memajang profesinya sebagai CEO Raso Kopi Solok. 

Dari penelusuran Alinea.id, Marlina aktif membela Anies di isu banjir, Formula E dan penangangan Covid-19. Dalam satu unggahan, Marlina juga pernah mengomentari tautan berita terkait kans Anies di Pilpres 2024.

"Kata Pengamat loh Pak @aniesbaswedan Kandidat kuat di Pilpres 2024," cuit akun yang punya lebih dari 15 ribu pengikut itu.

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan menyampaikan sambutan disela-sela penandatanganan kerja sama (MOU) proyek pembangunan MRT fase 2A dan lingkup kerja CP201 di Stasiun Bundaran Hotel Indonesia (HI), Jakarta, Senin (17/2). /Foto Antara

Testimoni para buzzer Anies

Saat dikonfirmasi, Marlina mengungkapkan rela jadi buzzer tanpa bayaran demi Anies sejak 2017. Ia mengaku jatuh hati kepada sosok Anies sebagai Gubernur DKI Jakarta. "Saya suka kepemimpinan beliau," ucap Marlina kepada Alinea.id di Jakarta, Rabu (18/3).

Ia menyebut terdorong mempromosikan kebijakan-kebijakan Anies karena merasa Anies terus diserang dari berbagai sisi. Padahal, menurut dia, kinerja Anies selama dua tahun telah banyak dirasakan warga DKI Jakarta. 

"Makin banyak warga yang merasakan hasil kerja beliau yang bermanfaat, semakinlah tembakan itu diarahkan kepada beliau. Begitu ada bencana banjir, momen itu dipakai untuk menekan beliau," ucap dia.

Soal narasi yang terkesan berat sebelah, Marlina berkilah, tak semua kebijakan Jokowi ia kritik. "Hanya yang bersamaan dengan kebijakan yang diambil Pemprov DKI Jakarta saja. Tapi, balik lagi, jika itu sudah kewenangan pemerintah pusat, legowo saya terima," kata dia. 

Terkait narasi mempromosikan Anies untuk kandidat di Pilpres 2024, Marlina mengaku, tak ada pesanan khusus. Menurut dia, Anies bakal otomatis muncul menjadi kandidat kuat jika mampu menunjukkan kinerja terbaik sebagai penguasa ibu kota. 

Aktivitas serupa juga ditunjukkan akun @4smara1701 yang punya lebih dari 19 ribu pengikut. Di Twitter, akun yang baru lahir pada November 2019 itu intens membelas Anies hampir di setiap unggahan. 

Biasanya, @4smara1701 bekerja me-retweet unggahan yang memojokan Jokowi dan menyebarluaskan kebijakan Anies. Sesekali, akun itu juga menjadikan mantan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok sebagai sasaran tembak. 

Maudy Asmara sang pemilik akun pun tak membantah sebutan buzzer yang dialamatkan pada dirinya. Ia mengaku memang terbuka membela Anies lantaran kepincut dengan sosok mantan rektor Paramadina itu sejak Pilgub DKI Jakarta pada 2017. 

"Dorongan untuk melindungi Pak Anies itu murni dari saya sendiri sebagai pendukung Pak Anies di pilgub. Saya merasa perlu menjadi penyeimbang dalam setiap serangan ke Pak Anies," ujarnya kepada Alinea.id di Jakarta, Rabu (18/3).

Selain kedekatan emosional, Maudy mengaku terjun ke medan perang para buzzer lantaran Anies kerap dirisak para pendengung Jokowi. Bahkan, menurut dia, serangan-serangan terhadap Anies cenderung bersifat personal. 

"Seperti disebut 'wan abud' dan kata-kata yang tidak pantas. Nah, sering saya amati bully-an itu dilakukan serempak dan sistematis. Sebenarnya (tidak akan masalah) bila yang dikritik itu adalah kebijakan," kata dia. 

Soal Pilpres 2024, ia membantah, anggapan para buzzer bergerak untuk mengamankan elektabilitas Anies. "Itu masih kejauhan. Fokus dulu saat ini karena masih banyak masalah yang lebih urgen untuk diselesaikan. Kalau Pak Anies berpeluang di 2024, menurut saya, itu bonus," tutur dia. 

Akun-akun anonim lebih tak malu-malu. Akun @kafirradikal yang punya hampir 20 ribu pengikut, misalnya, aktif menyandingkan Jokowi dan Anies. Dalam penanganan Covid-19 misalnya, Anies dibingkai lebih mampu ketimbang pemerintah pusat. 

Kepada Alinea.id, anggota DPRD DKI Jakarta Gembong Warsono menyayangkan penanganan wabah Covid-19 jadi bahan jualan para buzzer. Menurut Gembong, tak sepatutnya para pendengung mempolitisasi isu tersebut. 

"Ya, kita mestinya kerja barenglah. Penanganan corona lebih mendesak. Mestinya harus sadar, pemerintah pusat dan pemerintah daerah perlu bekerja sama," ujar politikus PDI-Perjuangan itu. 

Lebih jauh, Gembong mengaku tak mau ambil pusing dengan keberadaan para buzzer yang berusaha merawat elektabilitas Anies lewat serangkaian isu di DKI Jakarta. "PDI-P belum konsen dan melihat ini sebagai hal yang penting," ucapnya.

Berisiknya para buzzer juga sempat mengusik rekan Gembong, Zuhairi Misrawi. Lewat unggahan di Twitter, Gus Mis, sapaan akrab Zuhairi, mengkritik dengungan mereka. 

"Di saat musibah corona masih saja menggerakkan buzzer untuk politik 2024. Inalillahi," tulis @zuhairimisrawi. 

Namun, saat Alinea.id mengklarifikasi cuitan itu, Gus Mis ogah berkomentar. "Kita fokus penanganan pasien. Kita tunda dulu soal politik," ujarnya via pesan WhatsApp. 

Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra Prabowo Subianto (ketiga kiri) memberikan nasi tumpeng kepada Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan (kedua kanan) disaksikan Wakil Ketua Dewan Pembina Sandiaga Uno (kanan), Wakil Ketua Umum Edhy Prabowo (ketiga kanan) dalam peringatan HUT ke-12 Partai Gerindra di kantor DPP Partai Gerindra, Jakarta Selatan, Kamis (6/2). /Foto Antara

Bau pemodal dan residu Pilpres 2019

Pakar komunikasi politik dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Nyarwi Ahmad menilai perang wacana antara buzzer pro-Jokowi dan pro-Anies di jagat maya merupakan residu dari Pilpres 2019. Itu terlihat dari pola narasi yang bernuansa kontestasi ketimbang proyeksi. 

"Proses politik yang basisnya polarisasi atau fragmentasi yang hanya fokus pada tokoh saja. Kalau enggak bela, ya, menjelek-jelekkan tanpa rasionalisasi," ucapnya kepada Alinea.id, Kamis (19/3).

Menurut Nyarwi, perang wacana semacam itu tak elok dilakukan saat Indonesia tengah berjuang keluar dari wabah Covid-19. Apalagi, para pendengung kecenderungannya hanya mengkritik kinerja pemerintah berbasis preferensi persona. 

"Nah, ini kadang menjadi tidak masuk akal atau tidak rasional. Itu hanya memunculkan sentimen yang tidak kondusif. Terlebih, bagi proses penanganan corona. Yang harus dikedepankan adalah komunikasi publik. Bukan secara komunikasi politik," ujar dia. 

Terkait aroma Pilpres 2024 yang digaungkan para buzzer Anies, Nyarwi memandang hal itu minim faedah. Menurut dia, tanpa promosi gila-gilaan di media sosial pun, Anies bisa tetap muncul sebagai kandidat kuat. Syaratnya, kinerja Anies di DKI ciamik. 

Lebih jauh, ia memandang upaya menggiring opini yang berbasis fragmentasi bukan strategi pemasaran politik yang tepat. 

"Ini hanya akan berdampak pada masing-masing segmen politik, baik yang mendukung dan yang anti. Jelas tidak memperluas segmen pemilih. Cara ini hanya melanggengkan polarisasi semata," tuturnya. 

Infografis Alinea.id/Oky Diaz

Kepada Alinea.id, Ketua Komite Pemeriksa Fakta Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (Mafindo) Aribowo Sasmito tak yakin para buzzer bekerja hanya karena ikatan emosional. Menurut dia, ada kapital besar yang menggerakan para pendengung Anies. 

"Sikap balas-balasan ini menciptakan pasar. Selama ada pasar, akan ada produsen yang tertarik menggarap. Dalam hal ini, ya para pendengung. Hoaks juga begitu, ujung-ujungnya soal persediaan dan permintaan," ucap dia.

Lebih jauh, ia yakin para pendengung Anies rata-rata merupakan akun yang terorganisasi. Pasalnya, narasi yang dimainkan hampir serupa dan kerap direplikasi oleh akun-akun yang masih satu jaringan. "Jadi kalau disebut sistematis. Iya betul," imbuhnya. 

Terkait elektabilitas, Aribowo tak heran bila buzzer Anies begitu bergairah mempromosikan Anies sebagai calon kuat di Pilpres 2024. Menurut dia, media sosial memang sudah menjadi "lapak dagangan" untuk meracik elektabilitas.

"Kalau diibaratkan perang, pendengung ini adalah salah satu alatnya untuk (mendongkrak elektabilitas). Media sosial plus pendengung sudah umum jadi perangkat buat politik," kata dia.

Berita Lainnya