sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Mesra Mega-Prabowo dan kalkulasi capres terkuat Pilpres 2024

Ada wacara duet ulangan Mega-Prabowo. Namun, banyak pula sosok potensial untuk memenangkan Pilpres 2024.

Kudus Purnomo Wahidin
Kudus Purnomo Wahidin Sabtu, 19 Jun 2021 07:40 WIB
Mesra Mega-Prabowo dan kalkulasi capres terkuat Pilpres 2024

Bak cinta lama bersemi kembali, hubungan Megawati Soekarnoputri dan Prabowo Subianto tampak “mesra” belakangan ini. Mereka sempat berjuang bersama untuk memenangkan Pemilihan Presiden (Pilpres) 2009, namun kalah dari pasangan Susilo Bambang Yudhoyono-Boediono. Lalu, sempat renggang karena pertarungan Pilpres 2014 dan 2019.

Setidaknya, potret lekat Mega dan Prabowo bisa dilihat saat peresmian patung Bung Karno menunggang kuda di lapangan Bela Negara Kementerian Pertahanan (Kemenhan), Jakarta, Minggu (6/6). Dalam kesempatan itu, Mega menyampaikan ucapan terima kasih secara khusus kepada Prabowo.

Kata Mega, peresmian itu sangat spesial lantaran bertepatan dengan peringatan hari lahir ke-120 Sukarno. “Jadi sungguh menurut kami keluarga, sangat istimewa,” ujar Ketua Umum PDI-P itu, seperti dilansir dari Antara, Minggu (6/6).

Hubungan akrab pun tergambar ketika Prabowo hadir dalam pengukuhan Mega sebagai Profesor Kehormatan Universitas Pertahanan (Unhan) pada Jumat (11/6). Ketika itu, sang Menteri Pertahanan sekaligus Ketua Umum Gerindra datang dan tiba bersamaan dengan Mega di Aula Merah Putih, Unhan, Jakarta.

Sinyal duet ulangan?

Alinea.id telah berusaha menghubungi politisi PDI-P Arif Wibowo, Bambang Wuryanto, Sadarestuwati, dan Charles Honoris, serta politisi Gerindra Habiburokhman, Andre Rosiade, Sugiono, Arief Poyuono, dan Dahnil Anzar untuk mengonfirmasi kemungkinan koalisi PDI-P dan Gerindra dan duet Meda-Prabowo pada 2024. Namun, mereka bungkam.

Beberapa waktu lalu, dikutip dari CNN Indonesia edisi Senin (7/6), Wakil Ketua Umum Gerindra, Habiburokhman pernah mengatakan, semua opsi pasangan calon presiden dan wakil presiden yang akan dijagokan partainya di Pilpres 2024 masih terbuka. Tak menutup kemungkinan akan menduetkan Megawati dengan Prabowo.

“Usulan dari masyarakat kita tampung,” ucapnya di Kompeks Parlemen, Jakarta, dikutip dari CNN Indonesia, Senin (7/6).

Sponsored

Ketua Umum PDIP, Megawati Soekarnoputri (kanan), menerima Ketua Umum Partai Gerindra, Prabowo Subianto, di kediamannya, Jalan Teuku Umar, Jakarta, pada Rabu (24/7/2019)./Foto Antara/Puspa Perwitasari.

Di Pekanbaru, Riau, DPC PDI-P Kota Pekanbaru mengusulkan Puan Maharani sebagai calon presiden pada Pilpres 2024. Usulan itu timbul ketika rapat pimpinan anak cabang (PAC) DPC PDI-P se-Kota Pekanbaru pada 31 Mei 2021.

“Saat itu, 15 PAC seragam menyampaikan untuk merekomendasikan Puan Maharani sebagai capres 2024,” ujar Ketua DPC PDI-P Pekanbaru, Robin P Hutagalung, seperti dikutip dari Antara, Rabu (16/6).

Robin mengungkapkan, alasan pengusulan Puan adalah melihat figurnya yang dinilai mumpuni sebagai presiden. Ia menganggap, Puan sukses memimpin sebuah organisasi, seperti saat menjadi pimpinan partai, Menteri Koordinator bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK), serta sekarang sebagai Ketua DPR. Robin pun menilai, Puan punya banyak kesamaan dengan Mega.

Di sisi lain, Direktur Eksekutif Parameter Politik Indonesia, Adi Prayitno menafsirkan dua kemungkinan hubungan Mega-Prabowo yang makin lekat. Pertama, bisa jadi Mega ingin mengakhiri spekulasi liar terkait siapa calon presiden yang akan diusung PDI-P pada Pilpres 2024.

“Kedekatan itu mengisyaratkan bahwa pencapresan hanya ditentukan Megawati, supaya tak ada lagi desakan atau dukungan publik kalau Ganjar (Pranowo) yang diusung,” kata Adi kepada Alinea.id, Senin (14/6).

“Kalau sudah begini, tidak mungkin Ganjar (berani) dihadapkan dengan Megawati.”

Kedua, kata Adi, kedekatan ini juga sangat mungkin merupakan bentuk konsolidasi awal koalisi Mega-Prabowo jilid 2. Pasalnya, kedua tokoh ini sangat otoritatif di partai politik masing-masing.

“Duet ini bisa maju lagi. Apalagi PDI-P, tanpa partai politik lain, bisa mencalonkan sendiri karena sudah memiliki modal presidential threshold 20%,” ucapnya.

Namun, menurut Adi, masalahnya ada pada Mega. “Apakah Mega mau, maju pilpres bersandingan dengan Prabowo, seperti Pilpres 2009?”

Ketua Umum PDIP, Megawati Soekarnoputri (kiri), menyerahkan berkas rekomendasi kepada bakal calon Gubernur Jateng, Ganjar Pranowo, di Kantor DPP PDIP, Jakarta Selatan, pada Minggu (7/1/2018). Foto Antara/Sigid Kurniawan.

Sementara itu, Direktur Riset Indonesian Presidential Studies (IPS) Arman Salam memandang, sangat kecil kemungkinan duet Mega-Prabowo akan terulang pada Pilpres 2024. Justru ia melihat, Mega sedang memoles Puan untuk memimpin PDI-P di masa depan.

“Bayangan saya, Megawati itu akan pensiun. PDI-P sendiri sebenarnya banyak kader potensial, seperti Ganjar dan Risma (Tri Rismaharini, Menteri Sosial),” ujar Arman saat dihubungi, Senin (14/6).

Menurut Arman, koalisi PDI-P dan Gerindra sudah mulai dibangun sejak Pilkada 2020. Hal itu cukup memberikan sinyal bahwa dua partai politik ini akan koalisi pertarungan politik pada 2024.

Ia melihat, poros PDI-P dan Gerindra bakal lebih mengarah pada pasangan Prabowo-Puan. Puan, kata Arman, lebih dijagokan PDI-P ketimbang Ganjar. Hal itu tecermin dari perang dingin yang terjadi antara Puan dan Ganjar beberapa waktu lalu.

Pada Mei 2021 saat acara pembekalan kader PDI-P di Semarang, Jawa Tengah, Puan sempat menyindir bahwa pemimpin sebaiknya dikenal pendukungnya di dunia nyata, bukan cuma terkenal di media sosial.

Meski tak menyebutkan nama, tetapi Ganjar adalah sosok pemimpin yang sangat terkenal di media sosial. Hal itu bisa dilihat dari pengikut di akun Instagram miliknya yang berjumlah 3,5 juta. Sedangkan Puan, hanya punya 485.000 pengikut.

“Ganjar itu menurut saya realistis. Kasus kemarin itu cuma bargaining terkait dengan posisi kekuatan saja. Puan ingin menunjukkan kepada Ganjar bahwa kekuatan politik dia jauh lebih kuat,” kata Arman.

Sosok-sosok potensial

Adi menyebut, PDI-P dan Gerindra bakal jadi kekuatan paling dominan, bahkan potensial memenangkan pilpres, bila mengusung figur yang memiliki popularitas dan elektabilitas tinggi. PDI-P, menurut Adi, sangat mungkin mengendalikan agar partai politik lain merapat kepada jagoan yang diusungnya.

Dalam survei yang diadakan pada 23-28 Mei 2021 oleh Parameter Politik Indonesia, elektabilitas PDI-P memang ada di urutan pertama, dengan 22,1%. Diikuti Gerindra, dengan 11,9%.

Namun poros PDI-P dan Gerindra terancam tak akan mudah memenangkan pilpres, jika berhadapan dengan figur sekaliber Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan atau Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil.

Sebab, sejauh ini dua kepala daerah itu sering bertengger dalam 10 besar survei politik. Apalagi, jika diasumsikan PDI-P dan Gerindra mengusung pasangan Prabowo-Puan Maharani.

“Anies dan Ridwan Kamil sedang digandrungi publik. Tentu sangat potensial menjadi lawan yang cukup tangguh dan bisa saja dimanfaatkan kelompok lain yang ingin jadi pemain dalam Pilpres 2024,” ucap Adi.

Survei Parameter Politik Indonesia menunjukkan, Prabowo ada di urutan teratas, dengan 22,3%. Diikuti Ganjar dengan 19,7% dan Anies dengan 18,1%.

Selain itu, Anies juga bisa dipasangkan dengan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY). Pasangan ini pun bisa jadi lawan berat koalisi PDI-P dan Gerindra. Adi melihat, ada beberapa partai politik yang ingin mencoba memasangkan Anies-AHY.

“Rumornya, Anies akan didukung PKS. Lalu, AHY dari Demokrat,” tuturnya.

Seandainya Anies, Ridwan, dan AHY tak maju, Adi melihat pasangan dari PDI-P dan Gerindra tak akan mendapat hambatan berarti memenangkan Pilpres 2024 karena sejauh ini belum ada figur lain di luar tiga tokoh itu yang potensial.

Dari sisi ketua umum partai, Adi tak melihat sosok yang potensial, selain Prabowo dan AHY. Sementara dari kepala daerah, selain Ridwan dan Anies, Adi menyebut sosok kuat lainnya, seperti Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo dan Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa.

Menyoal partai politik, sebagai salah satu partai politik besar, kata Adi, NasDem juga ingin punya jagoan sendiri. Alasannya, sangat sulit bagi NasDem mengusung jagoan dari PDI-P dan Gerindra pada 2024.

“Karena sudah menjelma menjadi partai yang relatif solid dan kuat, wajar kalau di 2024 NasDem ingin jadi pemain utama,” ujar Adi.

Meski begitu, menurut Arman, PDI-P dan Gerindra belum tentu bakal mudah memenangi pilpres karena sangat bergantung elektabilitas figur yang dicalonkan. Situasi itu pernah terbukti pada Pilpres 2004, ketika pasangan Mega-Hasyim Muzadi yang diusung PDI-P, Partai Damai Sejahtera, dan kader Nahdlatul Ulama (NU) kalah dari SBY-Jusuf Kalla yang didukung Partai Demokrat, Partai Bulan Bintang (PBB), dan Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia (PKPI).

“Terbukti, figur calon yang menentukan menang atau kalahnya dalam pertarungan pemilihan presiden,” kata Arman.

Infografik Alinea.id/Oky Diaz.

Senada dengan Adi, Arman menyebut, koalisi PDI-P dan Gerindra bisa kewalahan bila berhadapan dengan figur sekelas Anies, yang saat ini digandrungi publik berdasarkan hasil aneka lembaga survei.

“Asumsikan saja, Prabowo-Puan melawan Anies-Ganjar atau Anies-AHY. Saya kira, itu jauh lebih kuat. Puan kurang mendongkrak. Sementara, tren Prabowo juga terus turun. Saya kira akan menjadi berat kalau dipaksakan,” katanya.

Prediksi Arman, bakal ada tiga poros yang akan saling bertarung di Pilpres 2024, yakni PDI-P dan Gerindra, Golkar dan NasDem, serta partai oposisi. Sedangkan tokoh yang potensial meramaikan Pilpres 2024 adalah Prabowo, Ganjar, dan Anies.

“Tiga nama itu berada di papan atas survei elektabilitas calon presiden 2024,” katanya.

Terutama PDI-P, Arman menilai, partai banteng moncong putih itu sedang bimbang merancang skema calon presiden. Sebab, Puan masih punya elektabilitas yang rendah, dibandingkan kader PDI-P lain, seperti Ganjar.

“Apakah akan memaksakan Puan atau realistis mendukung kader lain yang lebih populer? Tampaknya PDI-P sedang galau,” ucap Arman.

Berita Lainnya