sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Pemerintah diminta bentuk tim investigasi ABK tewas

Abdul Kadir Karding yakin, ada persoalan serius karena menyangkut pelanggaran HAM.

Fatah Hidayat Sidiq
Fatah Hidayat Sidiq Jumat, 08 Mei 2020 21:16 WIB
Pemerintah diminta bentuk tim investigasi ABK tewas
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 29521
Dirawat 18308
Meninggal 1770
Sembuh 9443

Pemerintah diminta membentuk tim investigasi bersama China dalam mendalami meninggalnya empat anak buah kapal (ABK) berpaspor Indonesia yang bekerja di Long Xing 629 dan Tian Yu 8. Jangan sekadar meminta klarifikasi.

Anggota Komisi I DPR, Abdul Kadir Karding, mendorong demikian karena meyakini ada persoalan serius. Apalagi, menyangkut pelanggaran hak asasi manusia (HAM).

"Seandainya itu benar dan dilakukan oleh kapal yang notabene dari China, maka pemilik kapal dan kru perusahaan kapal tersebut harus mendapatkan sanksi berat sesuai hukum internasional," ujarnya, Jumat (8/5).

Dalam merespons skandal ini, Kedutaan Besar RI (KBRI) di Beijing baru mengirim nota diplomatik kepada China. Pemerintah meminta "Negeri Tirai Bambu" mengklarifikasi ulang mengenai kasus pelarungan jenazah warga negara Indonesia (WNI) ini.

Berdasarkan keterangan yang diterima, baik pemerintah maupun perusahaan pengelola kapal ikan Long Xing 629 dan Tian Yu 8, menyebut, pelarungan tiga jenazah ABK sesuai prosedur internasional dan disetujui keluarga yang bersangkutan.

"Pihak kapal telah memberi tahu pihak keluarga (dari seorang ABK berinisial AR) dan telah mendapat surat persetujuan pelarungan di laut tertanggal 30 Maret 2020. Pihak keluarga juga sepakat untuk menerima kompensasi kematian dari kapal Tian Yu 8," papar Menteri Luar Negeri, Retno Marsudi, pada jumpa pers daring, beberapa saat lalu.

AR adalah ABK Long Xing 629. Dia sakit pada 26 Maret dan dipindahkan ke Tian Yu 8 untuk dibawa berobat ke pelabuhan. Lantaran kritis, meninggal dunia pada 30 Maret pagi. Esok paginya, jenazah dilarung di laut lepas.

Sedangkan kasus dua ABK lain yang dilarung, terjadi Desember 2019. Keduanya juga ABK Long Xing 629 dan meninggal kala kapal berlayar di Samudra Pasifik.

Sponsored

"Keputusan pelarungan jenazah dua orang ini diambil kapten kapal, karena kematian disebabkan oleh penyakit menular dan hal itu berdasarkan persetujuan awak kapal lainnya," tutup Retno. (Ant)

Berita Lainnya