Pertemuan antara Prabowo Subianto dan Megawati Soekarnoputri dinilai tidak sekadar silaturahmi, melainkan bagian dari komunikasi politik yang memiliki makna lebih luas.
Pengamat politik Arifki Chaniago menilai, pertemuan tersebut mencerminkan adanya kebutuhan menjaga komunikasi antar-elite di tengah situasi global yang tidak menentu.
“Ini bukan sekadar silaturahmi. Ada konteks yang lebih besar, terutama karena situasi global sedang tidak stabil,” kata Arifki, Kamis (19/3).
Menurut Direktur Eksekutif Aljabar Strategic Indonesia ini, dari sisi Presiden Prabowo, pertemuan tersebut sejalan dengan langkah membangun komunikasi luas dengan berbagai tokoh, termasuk para mantan presiden, sebagai bagian dari upaya menjaga stabilitas politik.
“Prabowo membangun komunikasi yang luas. Itu memberi pesan bahwa stabilitas menjadi prioritas,” ujarnya.
Namun, Arifki melihat pertemuan dengan Megawati memiliki karakter yang berbeda karena dilakukan secara khusus, tidak dalam forum bersama seperti pertemuan mantan presiden dan wakil presiden, serta tokoh lainnya sebelumnya.
“Pertemuan ini lebih spesifik. Ada ruang komunikasi yang tidak sama dengan forum bersama,” jelasnya.
Ia menilai, pendekatan tersebut menunjukkan bahwa Megawati memiliki posisi tersendiri dalam dinamika politik nasional, sekaligus mencerminkan adanya ruang tawar yang tetap dijaga oleh Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan.
“Ada pesan bahwa PDIP tetap berada di posisi penyeimbang, tetapi komunikasinya dilakukan dengan cara yang lebih khusus,” katanya.
Dalam konteks itu, Arifki menyebut pertemuan ini sebagai momentum yang mempertemukan dua kepentingan: konsolidasi politik dari pemerintah dan penegasan posisi dari PDIP.
“Di satu sisi ada konsolidasi, di sisi lain ada upaya menjaga posisi tawar. Itu hal yang wajar dalam politik,” tambahnya.
Ia menegaskan, pertemuan seperti ini tidak perlu langsung dimaknai sebagai perubahan peta politik, melainkan bagian dari dinamika komunikasi antar-elite dalam membaca situasi yang berkembang.
“Ini lebih pada menjaga komunikasi dan membaca arah, bukan keputusan politik yang langsung terlihat,” pungkasnya.