logo alinea.id logo alinea.id

Puan Maharani atau Prananda disiapkan jadi Ketum PDIP untuk 2024

Nama Puan dan Prananda merupakan nama yang sudah disepakti oleh banyak kader PDIP.

Cantika Adinda Putri Noveria
Cantika Adinda Putri Noveria Jumat, 02 Agst 2019 21:30 WIB
Puan Maharani atau Prananda disiapkan jadi Ketum PDIP untuk 2024

Menteri Koordinator bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Puan Maharani atau Ketua Bidang Ekonomi Kreatif PDI Perjuangan, Prananda Prabowo, disiapkan bakal menggantikan orang tua mereka, Megawati Soekarnoputri untuk menjadi Ketua Umum PDI Perjuangan pada periode 2024 sampai 2029.

Demikian dikatakan Ketua DPP PDI Perjuangan, Aria Bima. Aria mengungkapkan, baik Prananda Prabowo atau pun Puan Maharani merupakan calon kuat sebagai Ketua Umum PDI Perjuangan. Menurutnya, pihaknya memastikan PDIP akan melakukan regenerasi struktur pada 10 tahun mendatang. 

“Nama Puan dan Prananda merupakan nama yang sudah disepakti oleh banyak kader PDIP.  Partai akan menyiapkannya di tahun 2024, yang pasti antara Puan (Puan Maharani) atau Prananda (Prananda Prabowo)," kata Aria saat ditemui di Jakarta pada Jumat, (2/8). 

Aria menjelaskan, nama Puan dan Prananda cocok sebagai calon Ketua Umum PDIP karena keduanya memiliki karakter yang kuat sebagai cucu kandung Presiden RI pertama, Soekarno. Apalagi banyak masyarakat memilih partai berlambang kepala banteng tersebut karena melihat latar belakang penggagas partai ini, yakni anak kandung dari Presiden Soekarno. 

"Maka itu kalau kepemimpinan itu diserahkan kepada putra-putri beliau, saya sangat yakin mereka akan mengedepankan kepentingan partai, bangsa, dan negara," kata Aria.

Peneliti senior Centre for Strategic and International Studies (CSIS), J. Kristiadi, menilai PDI Perjuangan merupakan partai poliik yang punya suatu mitologi dari sosok Bung Karno. Kendati demikian, kata Kristiadi, seharusnya mitologi itu bisa dibawa dalam proses kepemimpinan. 

Artinya, dalam hal kepemimpinan partai, paham Sukarnois bukan hanya urusan keturunan biologis semata.  Tapi juga bisa produk ideologis. “Ada orang yang mungkin secara biologis keturunan, tetapi tidak menyerap ideologinya,” ucap Kristiadi.

“Saya kira kalau perspektif itu diperluas dan pengganti Ibu Mega harus orang Sukarnois, maka saya kira tidak terbatas kepada urusan biologis. Bisa keturunan orang muda yang mampu memahami menghayati Sukarnoisme.” 

Sponsored