close icon
Scroll ke atas untuk melanjutkan
Ilustrasi: Jokowi kembali turun gunung. Sekadar mengangkat PSI atau sedang menyiapkan jalan bagi Gibran menuju 2029? Foto: dibuat oleh AI.
icon caption
Ilustrasi: Jokowi kembali turun gunung. Sekadar mengangkat PSI atau sedang menyiapkan jalan bagi Gibran menuju 2029? Foto: dibuat oleh AI.
Politik
Kamis, 04 Juni 2026 10:15

Membaca misi safari politik Jokowi: Menyelamatkan PSI atau menyiapkan Gibran untuk 2029?

Safari politik Jokowi ke sejumlah daerah dinilai tidak hanya bertujuan mengangkat elektabilitas PSI, tetapi juga membaca peluang dan menyiapkan panggung politik Gibran menuju Pemilu 2029.
swipe

Safari politik Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) ke sejumlah daerah memunculkan pertanyaan baru dalam peta politik nasional: apakah langkah tersebut ditujukan untuk memperkuat elektabilitas Partai Solidaritas Indonesia (PSI), atau justru menjadi bagian dari strategi jangka panjang menyiapkan Gibran Rakabuming Raka menghadapi Pemilu 2029? Sejumlah pengamat menilai kedua agenda itu berjalan beriringan dalam manuver politik terbaru Jokowi.

Jokowi dijadwalkan memulai rangkaian kunjungannya ke tiga provinsi, yakni Lampung, Nusa Tenggara Timur (NTT), dan Jawa Barat. Kunjungan tersebut disebut sebagai pembuka dari agenda yang akan berlangsung di berbagai daerah lain sepanjang Juni 2026.

Ketua DPP PSI Bidang Politik, Bestari Barus, mengatakan agenda tersebut tidak hanya melibatkan kader PSI, tetapi juga relawan serta tokoh masyarakat yang memiliki kedekatan dengan Jokowi.

“Diutamakan PSI, tetapi ada juga relawan di daerah dan kelompok tokoh masyarakat yang memiliki akses kepada Pak Jokowi serta mengundangnya,” ujar Bestari.

Analis politik Citra Institute, Efriza, menilai safari politik Jokowi tidak semata-mata bertujuan meningkatkan citra dan elektabilitas PSI agar naik kelas menjadi partai menengah. Menurutnya, langkah tersebut juga dapat dimaknai sebagai upaya memetakan peluang Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka untuk kembali mendampingi Presiden Prabowo Subianto pada Pilpres 2029.

“Jika dicermati, Jokowi kemungkinan akan menyerap informasi dari masyarakat mengenai penilaian terhadap Prabowo sebagai presiden dan Gibran sebagai wakil presiden. Dari situ dapat terlihat apakah keduanya masih memiliki peluang untuk melanjutkan duet kepemimpinan selama dua periode,” kata Efriza kepada Alinea.id.

Efriza menilai manuver politik Jokowi berpotensi memicu elite partai lain untuk mempercepat konsolidasi dan memanaskan mesin politik masing-masing. Menurutnya, langkah tersebut juga dapat menjadi strategi menjaga soliditas internal partai sekaligus mengantisipasi pergeseran dukungan pemilih.

“Politik menuju Pemilu 2029 datang lebih awal. Kemungkinan akan muncul safari politik dari elite partai lain maupun konsolidasi ke daerah-daerah untuk memantau pergerakan politik yang dilakukan Jokowi dan PSI,” ujarnya.

Namun, Efriza mengingatkan bahwa menghangatnya dinamika politik terlalu dini berpotensi mengganggu fokus pemerintahan Prabowo. Menurutnya, perhatian elite politik bisa lebih banyak tersedot pada upaya mengamankan posisi dalam kontestasi mendatang dibanding menjalankan agenda pemerintahan.

“Elite politik akan berusaha mencari peluang menjadi pendamping Prabowo sambil mengamati manuver Jokowi. Kondisi ini dapat membuat suasana politik nasional semakin memanas dan perang pernyataan antaraktor politik makin intens,” katanya.

Di sisi lain, Efriza menilai PDI Perjuangan (PDIP) menjadi partai yang paling perlu mengantisipasi manuver Jokowi. Pasalnya, basis pemilih PSI dan PDIP memiliki irisan yang cukup besar.

“Kecenderungan terbesar adalah Jokowi dan PSI memang menargetkan suara simpatisan maupun kader PDIP. Ini tentu menjadi tantangan tersendiri bagi PDIP,” ujarnya.

Sementara itu, pengamat politik Universitas Terbuka, Insan Praditya, menilai langkah Jokowi turun ke daerah tidak ditujukan untuk meningkatkan posisi tawar Gibran agar kembali mendampingi Prabowo pada Pilpres 2029. Menurutnya, agenda tersebut lebih diarahkan untuk memperkuat citra PSI dan Gibran sebagai kekuatan politik yang mandiri.

Insan melihat langkah Jokowi sebagai bentuk persiapan menghadapi berbagai kemungkinan politik menjelang 2029, termasuk apabila tingkat kepuasan terhadap pemerintahan Prabowo mengalami penurunan akibat kondisi ekonomi.

“Saya melihat PSI dan Jokowi dapat memanfaatkan momentum ini dengan mengangkat keberhasilan era Jokowi yang tidak dimiliki era Prabowo. Jokowi tampaknya lebih fokus memoles sosok Gibran untuk membawa narasi pembangunan dan maju sebagai calon presiden,” katanya.

Menurut Insan, safari politik Jokowi juga berpotensi mendorong tokoh-tokoh politik lain untuk lebih aktif membangun pengaruh. Ia menilai Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono dan Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri berpeluang menjadi figur yang paling menonjol dalam merespons manuver politik Jokowi.

Selain itu, sejumlah nama seperti Agus Harimurti Yudhoyono, Anies Baswedan, hingga Sherly Tjoanda disebut berpotensi masuk dalam bursa kandidat pada Pilpres 2029. Sementara itu, partai-partai besar seperti Partai Golkar dan Partai Keadilan Sejahtera dinilai berpeluang memainkan peran lebih signifikan dalam membentuk konfigurasi politik baru menuju kontestasi mendatang.

img
Purnomo Dwi
Reporter
img
sat
Editor

Untuk informasi menarik lainnya,
follow akun media sosial Alinea.id

Bagikan :
×
cari
bagikan