Survei: Elektabilitas Prabowo-Sandi naik, Jokowi-Maruf turun

Elektabilitas Jokowi-Ma'ruf 53,2%, sementara Prabowo-Sandi 31,2%.

Survei: Elektabilitas Prabowo-Sandi naik, Jokowi-Maruf turun
Calon Wakil Presiden nomor urut 02, Sandiaga Salahudin Uno menyampaikan sambutan saat silaturahmi dengan kalangan ulama Aceh di Hotel Hermes Palace, Banda Aceh, Selasa (21/11)./ Antara Foto

Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA, mengungkap adanya penurunan elektabilitas pasangan calon presiden dan wakil presiden nomor urut 01, Jokowi-Ma'ruf Amin. Sebaliknya, elektabilitas Prabowo-Sandiaga Uno justru mengalami kenaikan. 

Peneliti senior LSI Denny JA, Rully Akbar, mengatakan perbedaan tersebut dibandingkan dengan hasil survei LSI sebelumnya. Rully mengatakan, penurunan elektabilitas Jokowi-Ma'ruf terjadi di angka 4,5%, sementara Prabowo-Sandi naik 2,6%.

"Elektabilitas Jokowi-Ma'ruf 53,2%, sementara Prabowo-Sandi 31,2% dengan selisih 22% dengan 15,6% lainnya tidak menjawab," kata Rully saat merilis hasil survei Pilpres 2019 yang dilakukan pada 10-19 November 2018, di Kantor LSI Denny JA di Rawamangun, Jakarta Timur, Kamis (6/12).

Pada hasil survei LSI Denny JA yang dilakukan pada Oktober 2018, elektabilitas Jokowi-Ma'ruf masih berada di angka 57,7%. Adapun elektabilitas Prabowo-Sandi berada di angka 28,6%.

Meski terjadi kenaikan dan penurunan, namun selisih keduanya pada dua hasil survei tersebut masih sama, yaitu 22%. Rully mengatakan, hal ini menunjukkan tidak ada perubahan signifikan dari elektabilitas kedua pasangan tersebut.

Isu populer

Menurut Rully, hal ini disebabkan kedua kubu peserta Pilpres 2019 itu lebih sibuk memainkan perang isu. Sementara kampanye program dan visi-misi, justru diabaikan.

"Pembicaraan di media sosial dan media konvensional ternyata dikuasai oleh perang isu yang sensasional saja. Namun terbukti tidak mengubah secara signifikan elektabilitas keduanya" ujarnya. 

Karenanya Rully pun menyarankan agar kubu Jokowi maupun Prabowo, menyampaikan visi dan misi melalui program-program konkret, guna merebut suara lawan maupun swing voters.

"Kalau sudah masuk ranah program, masyarakat bisa melihat diferensiasi antara kedua paslon, Jokowi diuntungkan karena masih menjabat sebagai presiden sehingga bisa menunjukkan prestasinya," ujarnya.

LSI Dennya JA juga menyampaikan adanya enam isu populer selama dua bulan kampanye Pilpres 2019. Isu populer yang dimaksud, adalah isu yang diketahui oleh 50% responden, dan memiliki tingkat kesukaan atau ketidaksukaan di atas 60%. Rully mengatakan, semakin publik mengetahui suatu isu, baik menyukai ataupun tidak, maka isu tersebut akan semakin populer.

Berdasarkan survei LSI Denny JA, enam isu populer itu terdiri atas tiga isu yang disukai, yaitu penyelenggaraan Asian Games (96,5%), kunjungan Presiden Jokowi kepada korban gempa dan tsunami Palu (93,7%), kunjungan Jokowi ke korban gempa Lombok (94,5%).

Sementara itu, tiga isu yang tidak disukai responden adalah hoaks Ratna Sarumpaet (89,5%), nilai tukar dolar Rp15 ribu (84,3%), serta pembakaran bendera HTI (83,6%).
 
Survei LSI dilakukan pada 10-19 November 2018, dengan melibatkan 1.200 responden. Survei dilakukan dengan wawancara langsung menggunakan kuisioner, di mana tingkat margin of error plus minus 2,9%. (Ant)


Berita Terkait

Kolom

Infografis