sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

Jakarta Art Week jadikan Jakarta bagai kanvas

Pemprov DKI Jakarta ingin melibatkan warganya semakin terlibat dalam penataan kota.

 Alfiansyah Ramdhani
Alfiansyah Ramdhani Selasa, 27 Agst 2019 11:19 WIB
Jakarta Art Week jadikan Jakarta bagai kanvas

Pemandangan berbeda terlihat di halte bus Transjakarta dan stasiun MRT Jalan Sudirman Jakarta. Anda yang melintasi halte bus Transjakarta dan Stasiun MRT disuguhkan sejumlah lukisan unik. 

Rupanya, Jakarta sedang menggelar seni rupa yakni Jakarta Art Week. Jakarta Art Week merupakan program yang digagas oleh MRA Media bekerjasama dengan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta untuk mendukung program pemerintah menuju City 4.0. 

Melalui kolaborasi dalam program ini, Pemprov DKI Jakarta ingin melibatkan warganya untuk semakin terlibat dalam penataan kota. Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan menjelaskan, dipilihnya halte sebagai panggung seni rupa ini bertujuan untuk memberikan pengalaman baru bagi warga Jakarta ketika berada di ruang terbuka.

“Jadikan Jakarta sebagai kanvas untuk berekspresi. Maka kota akan menjadi hidup dan dinamis dan mereka yang tinggal disini akan merasakan kebaruan,” ujar Anies saat membuka Jakarta Art Week 2019 di Stasiun MRT Istora Mandiri, Senin (26/08). 

 

Salah satu spot yang menampilkan lukisan perempuan dalam Jakarta Art Week.Alinea/Alfiansyah

Head of MRA Media Business Growth Iwet Ramadhan berharap dengan lukisan-lukisan ini diharapkan dapat meningkatkan minat masyarakat untuk menggunakan transportasi umum. Sebab, para penjalan kaki di trotoar bakal lebih menikmati aktifitas mereka saat berjalan kaki. 

Pesan perempuan

Sponsored

Uniknya, lukisan yang dipamerkan dalam Jakarta Art Week berasal dari karya 10 seniman perempuan asal Indonesia. Mengusung tema keselarasan rambut dan karya seni sebagai ekspresi bagi perempuan, memiliki pesan kebebasan perempuan.

Head of Marketing Communications MRA Magazines Dedy Koswara menjelaskan, tema ini dipilih untuk mengubah pandangan masyarakat soal rambut yang mengekang perempuan. Misalnya, penilaian rambut pendek tidak pantas untuk perempuan. 

"Padahal yang seharusnya dilihat adalah kepribadiannya,” ucap Dedy.

Nah, lukisan-lukisan yang dipamerkan merupakan light painting hasil karya Patricia Untario. Patricia memanfaatkan teknik kaca patris yang mengandalkan pembiasan cahaya dengan warna-warna pada kaca untuk menyampaikan pesan tentang keberagaman model rambut sebagai wujud kebebasan berekspresi. 

Ini terlihat dari hasil karyanya yang menggambarkan perempuan berambut pendek hingga perempuan dengan rambut terurai panjang. 

Perempuan asal Bandung tersebut menjelaskan setiap orang memiliki hak untuk berekspresi dengan rambutnya dan tidak harus takut untuk mengekspresikannya.

“Jangan takut mengekspresikan diri. Semua punya hak untuk mengekspresikan rambutnya,” ujar Patricia. 

Selain Patricia ada juga karya Kayla Risangdaru yang lewat lukisannya, Kayla ingin ingin menyuarakan rasa kepercayaan dirinya. Meski dicemooh oleh kawan-kawannya karena memiliki rambut ikal.

“Padahalkan itu jati diriku ketika lahir. Jadi aku ingin menyebutkan dengan lantang lukisanku,” ujar Kayla. 

Tema yang dipilih dalam Jakarta Art Week soal perempuan dengan pesan dapat mengubah pandangan masyarakat soal rambut perempuan.Alinea/Alfiansyah