logo alinea.id logo alinea.id

92 juta penduduk Indonesia tidak punya akses ke bank

Google menyatakan masih banyak masyarakat Indonesia yang tidak memiliki akses perbankan (unbanked). 

Annisa Saumi
Annisa Saumi Senin, 07 Okt 2019 16:41 WIB
92 juta penduduk Indonesia tidak punya akses ke bank

Laporan yang disusun Google, Temasek dan Bain & Company menyatakan masih banyak masyarakat Indonesia yang tidak memiliki akses perbankan (unbanked people). 

Partner and Leader of Asia Pacific Digital Practice Bain & Company, Florian Hoppe, mengatakan di Indonesia, hanya 42 juta penduduk dewasa yang memiliki akses layanan penuh ke bank.

"Unbanked benar-benar menaruh uang mereka di bawah bantal dan segmen ini sangat sulit diatasi. Intervensi dari pemerintah jelas dibutuhkan," ujar Florian di Jakarta, Senin (7/10).

Dalam risetnya, Florian mencatat, ada sebanyak 47 juta penduduk dewasa di Indonesia yang belum mendapatkan cukup layanan keuangan. Sementara, 92 juta penduduk dewasa sama sekali tak memiliki akses, teknologi, dan data ke layanan perbankan atau unbanked.

Hal serupa juga sebetulnya terjadi di Asia Tenggara. Berdasarkan laporan tersebut, dari hampir 400 juta penduduk dewasa di Asia Tenggara, hanya 104 juta penduduk dewasa yang sepenuhnya menikmati layanan perbankan.

Sementara, 198 juta penduduk dewasa Asia Tenggara ada dalam kategori underbanked, memiliki akun bank tetapi tak bisa mengakses layanan kredit, investasi, dan asuransi. Sedangkan sebanyak 198 juta penduduk dewasa Asia Tenggara ada dalam kategori Unabanked dan tidak memiliki akun bank.

Peluang keuangan digital

Namun demikian, Florin menjelaskan, fenomena ini bisa menjadi peluang bagi industri finansial digital untuk masuk ke segmen tersebut.

Sponsored

“Kondisi ini dapat dimanfaatkan untuk mengubah cara orang Indonesia menangani pembayaran, transfer dana, pinjaman, investasi, dan asuransi online,” kata Florian.

Dengan demikian, lanjut Florian, segmen e-wallet atau dompet digital diperkirakan akan tumbuh mengisi kekosongan layanan perbankan. Florian memperkirakan transaksi e-wallet akan tumbuh US$22 miliar hingga akhir 2019.

"E-wallet tumbuh dengan cepat dan pada 2025 diperkirakan akan tumbuh lima kali lipat hingga US$114 miliar," tutur Florian.

Florian melanjutkan, dengan meluasnya penggunaan pembayaran digital dan opsi pembayaran dengan pulsa, semakin banyak orang dari luar area Jabodetabek yang menjadi pengguna berbayar layanan media online premium. Layanan media online premium tersebut seperti game, musik, dan video on-demand.

"Ini ditunjukkan oleh data sebanyak 46% dari semua penelusuran tentang paket internet di Google Search berasal dari area luar Jabodetabek," tuturnya.