close icon
Scroll ke atas untuk melanjutkan
Ilustrasi perbankan. Foto Freepik.
icon caption
Ilustrasi perbankan. Foto Freepik.
Bisnis
Rabu, 31 Januari 2024 19:40

Bank raksasa RI kantongi laba jumbo

Bank besar RI menutup tahun 2023 dengan kinerja yang solid. 
swipe

Emiten bank besar RI menutup tahun 2023 dengan kinerja yang solid. Dua dari 'the big four' mengantongi pertumbuhan laba secara tahunan alias year on year (yoy). 

Bank pelat merah PT Bank Rakyat Indonesia Tbk. (BBRI) mencatat laba Rp60,4 triliun atau tumbuh 17,5% secara tahunan. “Dengan strategic response yang tepat, perseroan dapat mengubah tantangan menjadi kesempatan, karena di tahun 2023 lalu banyak sekali tantangan yang bersifat eksternal, mulai dari era suku bunga dan inflasi tinggi, kondisi geopolitik yang penuh dengan ketidakpastian, serta beberapa bank di Amerika Serikat (AS) kolaps,” ujar Direktur Utama BBRI Sunarso, Rabu (31/1).

Menurut Sunarso, kinerja BBRI ditopang oleh penyaluran kredit yang tumbuh double digit dan di atas industri perbankan nasional, kualitas kredit yang terjaga, penghimpunan dana pihak ketiga (DPK) yang memadai dengan fokus pada dana murah (CASA), serta efisiensi yang terus meningkat hasil dari transformasi digital yang dilakukan perusahaan.

Hingga akhir Desember 2023, perusahaan mencatat penyaluran kredit tumbuh 11,2% yoy menjadi Rp1.266,4 triliun. Pencapaian ini tercatat lebih tinggi dibandingkan dengan penyaluran kredit industri perbankan nasional yang sebesar 10,4% yoy di sepanjang tahun 2023.

Apabila dirinci, seluruh segmen pinjaman BBRI tumbuh positif, segmen mikro tercatat tumbuh 10,9% yoy menjadi Rp611,2 triliun, segmen konsumer tumbuh 13,4% yoy menjadi Rp190,0 triliun, segmen kecil dan menengah tumbuh 8,6% yoy menjadi Rp267,5 triliun dan segmen korporasi tumbuh 13,8% yoy menjadi Rp197,7 triliun. Apabila ditotal, portofolio kredit usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) BBRI mencapai 84,4% dari total penyaluran kredit atau setara Rp1.068,7 triliun.

"Naiknya portofolio kredit UMKM merupakan akselerasi sumber pertumbuhan baru melalui integrasi ekosistem ultramikro, di mana hingga akhir Desember 2023 jumlah nasabah holding ultramikro tercatat mencapai 37,3 juta peminjam. Upaya BRI Group mengintegrasikan nasabah di segmen ultramikro tersebut berdampak terhadap penurunan jumlah nasabah yang belum mendapatkan akses keuangan formal," ujar Sunarso.

Adapun kredit bermasalah alias nonperforming loan (NPL) hingga akhir Desember 2023 berada di level 2,95% dengan NPL coverage sebesar 229,09%. Sementara itu loan at risk (LAR) tercatat sebesar 13,8% pada akhir Desember 2023. Menurut Sunarso, angka ini turun signifikan apabila dibandingkan dengan LAR perusahaan pada posisi tertinggi saat puncak Covid-19 di September 2020 yakni sebesar 29,8%.

“NPL di bawah 3% tersebut membuktikan prinsip risk management telah dijalankan dengan baik mengingat mayoritas portofolio kami ada di segmen UMKM”, tambah Sunarso.

Dari sisi DPK, hingga akhir Desember 2023 mencapai Rp1.358,3 triliun atau tumbuh 3,9% yoy. Pencapaian ini juga lebih baik dibandingkan dengan DPK industri perbankan nasional yang tumbuh 3,8% secara yoy pada akhir Desember 2023. Penghimpunan DPK BRI masih didominasi oleh dana murah dengan presentase mencapai 64,4% atau setara dengan Rp874,1 triliun.

Sementara, rasio pinjaman terhadap simpanan atau loan to deposit ratio (LDR) BBRI pada akhir Desember 2023 berada di level 84,2%. Rasio kecukupan modal (CAR) mencapai 27,3%.

"Dengan kondisi likuiditas dan permodalan yang memadai tersebut, kami masih memiliki ruang untuk tumbuh lebih baik di tahun 2024," ujarnya. 

Sementara itu, PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) mencatat pendapatan bunga bersih (net interest income/NII) tumbuh 17,5% yoy menjadi Rp75,4 triliun di sepanjang 2023. Lalu, pendapatan selain bunga tumbuh 5,5% yoy menjadi Rp23,9 triliun, sehingga total pendapatan operasional tercatat sebesar Rp99,3 triliun atau naik 14,4% yoy. Secara total, laba bersih tumbuh 19,4% yoy mencapai Rp48,6 triliun di sepanjang 2023.

Kenaikan ini ditopang kredit yang naik 13,9% secara tahunan menjadi Rp810,4 triliun, peningkatan volume transaksi dan pendanaan, serta perluasan basis nasabah.

"Meskipun terdapat tantangan berupa tekanan inflasi global serta peningkatan tensi geopolitik, kami melihat perekonomian domestik tetap tangguh dan stabil. Kami menggelar beberapa event yang berdampak positif terhadap penyaluran kredit ke segmen UKM (usaha kecil dan menengah) serta konsumer yang naik signifikan per Desember 2023," ujar Presiden Direktur BBCA Jahja Setiaatmadja.

Volume kredit BBCA tumbuh dua kali lipat dalam tiga tahun terakhir. Per Desember 2023, kredit korporasi tumbuh 15,0% yoy mencapai Rp368,7 triliun, sedangkan kredit komersial naik 7,5% yoy mencapai Rp126,8 triliun.

Sejak menembus level Rp100 triliun pada Mei 2023, kredit UKM terus bertumbuh mencapai Rp107,9 triliun pada akhir tahun 2023, atau naik 16,0% yoy. Pertumbuhan kredit UKM tersebut menjadi yang tertinggi di segmen kredit bisnis.

Penyaluran kredit ke sektor-sektor berkelanjutan tumbuh 10,6% yoy menjadi Rp202,6 triliun per Desember 2023, di atas target pertumbuhan 9%, dan berkontribusi 24,8% terhadap total portofolio pembiayaan BBCA. Capaian ini salah satunya ditopang kredit kendaraan bermotor listrik yang naik hampir empat kali lipat secara tahunan, mencapai Rp1,3 triliun. Sebagai bentuk diversifikasi pembiayaan berkelanjutan, BBCA berinvestasi pada obligasi atau sukuk hijau sebesar Rp1,6 triliun, naik 332% yoy.

Di sisi pendanaan, total DPK naik 6,0% yoy mencapai Rp1.102 triliun, sehingga mendorong kenaikan total aset sebesar 7,1% yoy menjadi Rp1.408 triliun. Dana murah giro dan tabungan (CASA) berkontribusi sekitar 80% dari total DPK.

NIM perbankan turun

Di sisi lain, Ekonom Senior Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Aviliani mengatakan margin bunga bersih atau net interest margin (NIM) perbankan dalam beberapa bulan terakhir mengalami penurunan. Hal tersebut terjadi di tengah kenaikan suku bunga acuan bank sentral RI yang diikuti merangkak naiknya suku bunga dana atau tabungan. Sementara, suku bunga kredit perbankan tak naik. 

"Bank banyak mengorbankan margin. NIM (margin bunga bersih) perbankan nasional terus mengalami penurunan," tuturnya. Hal itu dilakukan perbankan untuk mengungkit penyaluran kredit. 

Sebagai informasi, NIM perbankan sempat menjadi sorotan karena dinilai terlalu tinggi.

Aviliani menyebut Bank Indonesia (BI) tak ikut mengerek suku bunga acuan di tengah tren suku bunga tinggi di tingkat global. Misalnya, suku bunga acuan bank sentral Amerika Serikat (AS) pada November 2023 mencapai level 5,5%, sedangkan Indonesia masih di angka 6%.

"Jadi jaraknya terlalu kecil. BI hanya menetapkan kebijakan menaikkan suku bunga acuan saat kemarin terjadi aliran dana asing keluar menjelang pemilu (pemilihan umum)," ujar Aviliani. 

img
Satriani Ari Wulan
Reporter
img
Satriani Ari Wulan
Editor

Untuk informasi menarik lainnya,
follow akun media sosial Alinea.id

Bagikan :
×
cari
bagikan