sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

BI rate turun, IHSG dan rupiah melejit

Pemangkasan suku bunga acuan ke level 5,75% membuat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan rupiah ditutup melejit.

Sukirno
Sukirno Jumat, 19 Jul 2019 00:12 WIB
BI rate turun, IHSG dan rupiah melejit

Pemangkasan suku bunga acuan ke level 5,75% membuat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan rupiah ditutup melejit.

Pada perdagangan Kamis (18/7), IHSG ditutup menguat 0,13% sebesar 8,68 poin ke level 6.403,29. Penguatan itu membuat posisi IHSG sejak awal tahun tumbuh 3,37%.

Penguatan IHSG itu terjadi saat bursa di kawasan regional Asean ditutup bervariasi. Bahkan, bursa saham Asia Pasifik mayoritas ditutup di zona merah.

IHSG menguat didukung oleh mayoritas sektor dengan penguatan tertinggi pada sektor industri kimia dasar sebesar 2,02%. Namun, penguatan itu ditahan oleh tiga sektor dengan tekanan terbesar dari keuangan dengan koreksi 0,72%.

Meski ditutup di zona hijau, investor asing justru mencatatkan aksi jual bersih senilai Rp309,7 miliar. Capaian itu membuat net buy sejak awal tahun menipis menjadi Rp72,18 triliun.

Sementara itu, nilai tukar rupiah yang ditransaksikan antar bank di Jakarta pada Kamis (18/7) sore menguat setelah Bank Indonesia menurunkan suku bunga acuannya.

Rupiah menguat 23 poin atau 0,16% menjadi Rp13.960 per dolar AS dari sebelumnya Rp13.983 per dolar AS.

"Data fundamental baik secara eksternal maupun internal mendukung penguatan mata uang rupiah," kata Direktur Utama PT Garuda Berjangka Ibrahim Assuaibi di Jakarta.

Sponsored

Dari internal, sentimen positif bagi rupiah yaitu Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI pada hari ini yang memutuskan menurunkan suku bunga acuannya 25 basis poin menjadi 5,75%.

Kebijakan tersebut diambil bank sentral dengan pertimbangan rendahnya inflasi ke depan dan mendorong pertumbuhan ekonomi di tengah prospek pertumbuhan global yang sedang turun.

Dari eksternal, pelaku pasar kini kembali meyakini bahwa The Fed akan memangkas suku bunga tiga kali di tahun ini.

Dia menuturkan, yang paling dekat pemangkasan akan dilakukan pada 31 Juli 2019 atau 1 Agustus 2019 waktu Indonesia, kemudian dua lagi di bulan September dan Desember 2019.

Rupiah pada pagi hari dibuka menguat Rp13.979 dolar AS. Sepanjang hari, rupiah bergerak di kisaran Rp13.925 per dolar AS hingga Rp13.981 per dolar AS.

Sementara itu, kurs tengah Bank Indonesia pada Kamis ini menunjukkan, rupiah melemah menjadi Rp13.976 per dolar AS dibanding hari sebelumnya di posisi Rp13.949 per dolar AS.

Pada perdagangan Kamis (18/7), IHSG ditutup menguat 0,13% sebesar 8,68 poin ke level 6.403,29. / Bursa Efek Indonesia

Investor asing

Terpisah, Gubernur BI Perry Warjiyo meyakini aliran modal asing akan tetap masuk dengan deras ke pasar keuangan Indonesia meskipun per Juli 2019 pihaknya memangkas suku bunga acuan 7-Day Reverse Repo Rate sebesar 0,25% menjadi 5,75%.

Dalam jumpa pers di Jakarta, Perry mengklaim suku bunga di pasar keuangan Indonesia akan tetap menarik bagi investor global jika merujuk pada selisih suku bunga pasar (differential interest rate) antara Indonesia dan negara maju.

Perry membandingkan suku bunga obligasi pemerintah AS bertenor 10 tahun (US Treasury Yield) yang saat ini sebesar 1,9%-2%, dengan Surat Berharga Negara Indonesia bertenor 10 tahun yang masih berada di kisaran 7%.

Dengan selisih bunga atau marjin antara kedua instrumen itu yang masih sebesar 5%, Perry yakin investor global akan masih melirik pasar keuangan Indonesia.

"Ada spread (selisih) bunga sekitar 5% lebih dan (Indonesia) masih menarik," ujar Perry.

Selain selisih suku bunga dengan AS, menurut Perry, risiko investasi yang terlihat dari risiko gagal bayar (credit default swap/CDS) Indonesia juga kian menurun. Dia menyebut CDS Indonesia untuk pasar keuangan bertenor lima tahun saat ini berada di kisaran 80 poin, atau terus menurun dibanding Maret 2019 yang sebesar 100 poin.

"Premi risiko investasi di Indonesia semakin rendah dengan peningkatan peringkat kredit Standard and Poor's dan lembaga lainnya terhadap Indonesia yang membaik," kata dia.

Sebagai gambaran, aliran modal asing ke Indonesia sejak awal Januari 2019 hingga akhir Juni 2019 mencapai US$9,7 miliar atau sekitar Rp180 triliun.

“Meski begitu, risiko dana keluar masih ada, tapi kami meyakini bahwa investasi portofolio di Indonesia masih menarik dibanding negara lain,” kata Perry.

Parameter lainnya dalam stabilitas eksternal, yakni neraca pembayaran, diyakini Perry juga akan terjaga karena berlanjutnya surplus neraca modal dan finansial. Sedangkan defisit transaksi berjalan Indonesia hingga akhir tahun diperkirakan akan berada di kisaran 2,5%-3% terhadap PDB.

Di luar investasi portofolio, investasi asing langsung atau penanaman modal asing, menurut Perry, juga akan tetap deras mengingat sinyalemen kuat telah dikeluarkan Presiden Joko Widodo bahwa pemerintah hingga 2024 akan tetap menerapkan kebijakan yang probisnis dan investasi. Hal itu diyakini akan menggairahkan aliran investasi asing langsung.

Adapun pemangkasan suku bunga acuan Bank Indonesia ini adalah yang pertama kali sejak delapan bulan lalu atau November 2018 ketika suku bunga kebijakan dinaikkan ke level 6% untuk membendung keluarnya aliran modal asing pada 2018. Secara total, pada 2018, Otoritas Moneter menaikkan suku bunga acuan sebanyak 1,75% hingga ke level 6%.

Dengan pemangkasan suku bunga kebijakan tersebut, Bank Sentral juga menurunkan suku bunga penyimpanan dana perbankan di BI (deposit facility) dan bunga penyediaan dana bagi perbankan (lending facility), masing-masing ke 5% dan 6,5%.

Ekonom Bahana Sekuritas Satria Sambijantoro mengatakan penurunan suku bunga acuan yang dilakukan oleh BI merupakan sinyal dari akhir kebijakan moneter ketat yang telah berlangsung sejak lama.

Dengan kondisi ini, menurut dia, penurunan kembali suku bunga acuan masih dapat dimungkinkan karena bank sentral masih memiliki ruang untuk pelonggaran kebijakan moneter di 2019.

"Ini bukan 'pemotongan yang berhati-hati', mungkin ada lebih banyak pelonggaran moneter di sisa tahun 2019," kata Satria secara terpisah.

Satria mengatakan langkah dovish yang dilakukan Bank Indonesia dengan memotong suku bunga acuan 7DRRR sebesar 25 basis poin atau 0,25% telah sejalan dengan kebijakan serupa berbagai bank sentral global, termasuk The Fed.

Selain itu, langkah yang dapat menekan tingginya ketidakpastian global ini juga merupakan upaya untuk mendorong pertumbuhan ekonomi dan mengantisipasi perlambatan kinerja investasi maupun ekspor yang terdampak oleh tingginya tensi perang dagang.

"BI juga telah memproyeksikan adanya neraca berjalan yang lebih positif seiring dengan surplus neraca perdagangan selama dua bulan berturut-turut, yang dapat menjadi sinyal penurunan kembali suku bunga acuan," kata Satria.

Satria memperkirakan penurunan suku bunga acuan, untuk pertama kalinya sejak September 2017, dapat terus dilakukan hingga total mencapai 100 basis poin, seiring dengan kebijakan BI yang mulai berubah dari "ketat" menjadi "netral".

"Perubahan kebijakan ini sejalan dengan pemulihan posisi neraca eksternal Indonesia dan rendahnya imbal hasil global. Penurunan suku bunga ini juga tidak akan mengakibatkan keluarnya arus modal dan mengganggu penguatan rupiah," jelasnya. (Ant)

Berita Lainnya