logo alinea.id logo alinea.id

Utang menggunung, BUMN Waskita Karya jual jalan tol ke investor asing

Manajemen PT Waskita Karya (Persero) Tbk. (WSKT) harus menyiapkan siasat lantaran utang perseroan menggunung hingga Rp64 triliun.

Eka Setiyaningsih
Eka Setiyaningsih Sabtu, 05 Jan 2019 23:03 WIB
Utang menggunung, BUMN Waskita Karya jual jalan tol ke investor asing

Manajemen PT Waskita Karya (Persero) Tbk. (WSKT) harus menyiapkan siasat lantaran utang perseroan menggunung hingga Rp64 triliun.

Waskita Karya telah menyiapkan sejumlah startegi bisnis untuk memperbaiki kinerja pada 2019. Maklum, Badan Usaha Milik Negara (BUMN) ini tengah mencari cara untuk membayar utangnya.

Direktur Keuangan Waskita Karya Haris Gunawan mengatakan, saat ini perseroan mempunyai utang sebesar Rp64 triliun. Tahun ini diperkirakan hanya turun tipis. 

"Sekarang sisa utang kami tinggal Rp64 triliun. Jadi tahun 2019 kami targetkan Rp60 triliun, jadi turun lagi," ujar Haris saat paparan kinerja Waskita Karya di Jakarta akhir pekan lalu.

Lebih lanjut Haris mengatakan, utang perseroan turun tipis lantaran masih ada beberapa proyek infrastruktur yang harus diselesaikan di tahun ini seperti investasi jalan tol dan beberapa portofolio bisnis yang lain.

Sementara itu, dirinya mengaku, utang Waskita Karya dari 2017 ke 2018 mengalami kenaikan. "Jadi kami pada 2017 pencapaian pinjaman Rp43,9 triliun. Di 2018 tumbuh 35%, tapi sebetulnya utang kami sudah turun dari November kemarin," ungkapnya.

Untuk itu, pihaknya juga berupaya memastikan pembayaran utang dapat dilakukan dengan baik. "Utang kami dibedakan untuk modal kerja, investasi dan itu bisa bersumber dari bank atau obligasi," katanya.

Paparan publik PT Waskita Karya (Persero) Tbk. Sumber Foto: Facebook.

Sponsored

Jual tol

Selain itu, perseroan juga berencana untuk menjual lima ruas tolnya kepada investor asing. Direktur Utama PT Waskita Karya Tbk., I Gusti Ngurah Putra mengatakan, upaya bisnis dengan menjual ruas tol merupakan salah satu cara menjaga keuangan perusahaan agar tetap sehat. Apalagi, posisi utama Waskita selama ini sebagai kontraktor dan bukan operator tol.

"Kalau divestasi enggak jalan, Waskita tak mampu lagi investasi karena strategi awal Waskita masuk tol bukan sebagi operator tol tapi developer. Maka Waskita terus me-leverage asetnya bukan sebagai operator," kata Putra.  

Namun demikian, Gusti belum mengetahui ruas tol mana yang akan diprioritaskan untuk didivestasikan kepada investor. Dipastikan tol yang dimaksudkan itu sudah rampung pembangunannya, sehingga proses yang diharapkan segera berjalan.

Haris menambahkan, proses divestasi tol akan dilakukan dengan cara berbeda dari yang sebelumnya. Jika dulu menunggu peminat, kini Waskita Karya yang menawarkan secara langsung kepada calon investor. 

"Tapi mungkin konsepnya beda. Tahun ini akan merencanakan untuk mendatangi investor yang sudah di-list konsultan yang nantinya kita tunjuk. Tahun ini kita lakukan road show ke beberapa negara, di mana negara itu investornya berpotensi bisa membeli konsesi jalan tol yang ada di Indonesia," jelasnya. 

Sejauh ini, pihaknya belum mengetahui negara mana saja yang akan dikunjungi untuk proses penjualan tol ini. Pasalnya, konsultan yang ditunjuk Waskita Karya akan melakukan pemetaan. Namun, sudah ada beberapa perusahaan asing yang tertarik, yakni berasal dari Dubai, Perancis, dan Hong Kong.

Perusahaan BUMN yang bergerak di bidang konstruksi ini juga telah menyiapkan dana belanja modal (Capital expenditure/capex) Rp25,3 triliun. 

Mayoritas belanja modal skeitar 78,9% akan digunakan untuk mendanai proyek tol yang kini sedang dalam proses tender. Untuk diketahui, ada beberapa proyek tol yang kini tengah diincar Waskita, seperti Tol Semarang-Demak, Tol Bawen-Yogyakarta, serta Jembatan Tol Penajam-Passer Utara di Kalimantan Timur.

Selain tol, ada beberapa proyek lain yang juga mendapat alokasi belanja modal untuk digarap seperti energi sebesar 4,3%, pembelian alat konstruksi 9%, precast 3,6% dan sisanya sekitar 4% untuk properti.

Adapun Waskita menargetkan laba bersih Rp4,1 triliun dapat dibukukan sepanjang tahun 2019. Target ini turun bila dibandingkan capaian sebelumnya. 

Pada akhir 2017, kontraktor pelat merah itu berhasil mencetak laba bersih Rp4,2 triliun. Sementara, hingga September 2018 laba bersih yang telah tercatat mencapai Rp4,3 triliun. 

Menurut Haris, penetapan target laba yang relatif stagnan disebabkan karena adanya beberapa ruas tol yang sudah mulai beroperasi. 

"Tol yang beroperasi ini harus kita alokasikan top up untuk operasinya, karena seluruh utang sudah dikapitalisasi," kata Haris

Emiten bersandi saham WSKT tersebut juga menargetkan pendapatan senilai Rp54,13 triliun pada tahun ini. Target ini naik bila dibandingkan dengan tahun lalu. 

"Kinerja keuangan perseroan bahwa pendapatan usaha kita di 2017 sebesar Rp45,1 triliun. Tahun 2018 kemarin, kita targetkan tumbuh 10%. Saya belum bisa sebutkan angka karena masih dalam proses audit," pungkasnya.