logo alinea.id logo alinea.id

Devaluasi yuan, awas produk China banjiri RI

Devaluasi nilai tukar yuan terhadap dolar Amerika Serikat dikhawatirkan membuat banjir produk China ke Indonesia semakin deras.

Nanda Aria Putra
Nanda Aria Putra Jumat, 09 Agst 2019 00:56 WIB
Devaluasi yuan, awas produk China banjiri RI

Kebijakan Bank Central China menurunkan nilai tengah yuan menjadi 6.922 per dolar Amerika Serikat dikhawatirkan membuat produk Negeri Tirai Bambu semakin membanjiri Indonesia.

Presiden Direktur Sucor Asset Management Jemmy Paul Wawointana mengatakan pemerintah harus membuat sebuah kebijakan agar impor tidak semudah arus modal masuk.

“Karena kalau impornya semakin banyak akan bisa memperbesar defisit neraca perdagangan,” katanya dalam konferensi pers market update 2019 di Jakarta, Kamis (8/8).

Jemmy menyatakan, penurunan nilai tengah yuan telah terbukti berhasil meningkatkan ekspor produk China ke Indonesia.

“Ini sangat mungkin karena mereka akan pindah dari Amerika ke kita (Indonesia),” ujarnya.

Namun demikian ia menyatakan, dampaknya tidak akan terlalu signifikan. Sebab, produk yang dijual China di Amerika, sama dengan yang mereka jual ke Indonesia.

Lagi pula, katanya, produk manufaktur yang dikembangkan di Indonesia berbeda dengan produk manufaktur China. Lebih lagi, produk-produk seperti minyak kelapa sawit mentah (crude palm oil/CPO) dan batu bara adalah produk yang tidak diproduksi China.

“Justru mereka yang akan membeli ke kita. Jadi sebenarnya kalau kita bicara ekspor, kita akan terganggu dengan China melemahkan mata uang, tapi tidak akan terganggu dari kompetitif produknya,” ujar Jemmy.

Sponsored

Paparan langsung, ujarnya, mungkin akan dirasakan pada industri manufaktur suku cadang kendaraan bermotor.

“Mungkin kalau pemerintah pintar, bisa melakukan hambatan-hambatan seperti pengenaan tarif juga. Mungkin bisa membantu lah,” katanya.

Jemmy juga menjelaskan ekspor Indonesia tidak akan terlalu bergantung pada China. Meski selama ini ekspor Indonesia ke China cukup besar, dengan penurunan nilai tengah yuan ini dikhawatirkan permintaan China menjadi menurun. 

“Mungkin demand dari China akan menurun dibandingkan sebelumnya. Tapi kelihatannya sih (kita) tidak terkonsentrasi hanya di China, negara kita banyak melakukan diversifikasi tujuan ekspor,” tuturnya.