sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

Ekonom ramai-ramai dukung Sri Mulyani jadi Menko Perekonomian

Sri Mulyani Indrawati dinilai cocok menjadi Menteri Koordinator Bidang Perekonomian pada kabinet Jokowi-Amin.

Nanda Aria Putra
Nanda Aria Putra Jumat, 18 Okt 2019 12:04 WIB
Ekonom ramai-ramai dukung Sri Mulyani jadi Menko Perekonomian
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 2956
Dirawat 2494
Meninggal 240
Sembuh 222

Indonesia harus memiliki sosok-sosok yang liat dan tangguh dalam menakhodai perekonomian. Apalagi negara saat ini berhadapan dengan ketidapastian ekonomi global.

Sosok yang bisa mengambil keputusan dengan cepat, berwibawa, dan tangguh diharapkan bisa menjadi Menteri Koordinator Bidang Perekonomian dalam kabinet baru di bawah Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan Wakil Presiden Ma’ruf Amin.

Ekonom dan Peneliti Center of Reforms on Economics (CORE) Piter Abdullah menyebutkan sosok tersebut ada pada Menteri Keuangan 2014-2015, Sri Mulyani Indrawati. 

"Untuk menjadi Menko Perekonomian, harus punya pamor, wibawa, aura yang kuat untuk bisa mengendalikan semua kementerian di bawahnya. Saya lihat Sri Mulyani cocok," katanya di Jakarta, Kamis (18/10). 

Hal senada juga disampaikan oleh Direktur institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Tauhid Ahmad, menurutnya Sri Mulyani adalah sosok yang tepat menggantikan Darmin Nasution sebagai Menko Perekonomian. Pamor dan keuletan Sri Mulyani dinilai dapat memimpin kerja-kerja koordinasi antar kementerian.

"Kalau misalnya Sri Mulyani ada disana tepat," ucap Tauhid. 

Dia pun mengatakan, Menko Perekonomian akan lebih baik jika dipegang oleh kalangan akademisi dibandingkan politikus. Santer terdengar kabar soal politikus Partai Golkar Airlangga Hartarto akan menjadi Menko, menurut Tauhid tidak pas.

"Menurut saya lebih baik profesional lah ya, yang memahami, melihat perubahan global dengan cepat, tahu masalah birokrasi, tahu masalah koordinasi, tahu situasi rapat terbatas di level kementerian, sehingga pengambilan keputusan cepat sekali," ucap Tauhid.

Sponsored

Ibarat sepak bola

Piter menggambarkan pengelolaan ekonomi negara seperti bermain speak bola. Dibutuhkan tim yang solid dan tangguh untuk menjalankan laga. Untuk itu, Piter menyebut Menko Perekonomian harus didukung oleh Menteri Keuangan yang sama hebatnya.

"Menko harusnya seperti coach (pelatih) atau manajer dalam tim sepak bola. Dia yang punya strategi. Sedangkan Menteri Keuangan harusnya jadi kapten, dia yang harus memimpin semua kementerian di lapangan dan menjalankan perekonomian karena dia yang pegang anggaran," ujarnya.

Kedua menteri ini, menurut Piter, harus memiliki posisi yang saling melengkapi. Jika Menko berperan sebagai penggenjot kerja-kerja menteri-menteri bawahannya, maka Menkeu berperan sebagai pengerem dengan alokasi anggarannya.

"Dua sosok inilah yang paling sentral mau ke mana (arah perekonomian). Kalau dua ini kuat, relatif yang lain bisa merangkul dan menyinergikan," ucapnya. 

Namun demikian, Piter belum melihat adanya sosok yang tepat sebagai pengganti Sri Mulyani di Kementerian Keuangan. Pasalnya, lanjut Piter, dalam kondisi seperti sekarang ini dibutuhkan Menkeu yang berani mengambil keputusan dan kebijakan yang tidak populer.

Namun demikian, senada dengan Piter, Tauhid menilai peran bendahara negara nantinya harus sama kuatnya dengan sosok Sri Mulyani.

"Karena menurut saya kalau beliau ada disitu (Kemenko) ya Menteri Keuangannya harus sekuat beliau. Jangan sampai tidak, yang kita butuhkan dirigen yang lebih baik dari Sri Mulyani. Nah ada apa enggak?," ujarnya. 

Kurang berani

Di lain sisi, Piter mengkritik Sri Mulyani saat menjadi Menteri Keuangan era Presiden Jokowi. Menurut dia, Sri Mulyani terlalu main aman di kondisi sekarang ini, padahal Indonesia sedang menghindari ancaman resesi. 

Padahal, seharusnya yang dilakukan adalah kontra fiskal dengan pelanggaran tarif pajak dan menurunkan penerimaan pajak serta memberikan insentif pajak. 

Sehingga, ujarnya, penerimaan pajak akan menjadi turun, namun di lain sisi ekspansi fiskal belanja negara naik. Bila perlu katanya, naikkan gaji pegawai sehingga belanja naik, sementara penerimaan diturunkan dan membuat defisit melebar.

"Nah, di 2019 defisit ditekan jadi 1,8%, tahun 2020 ditekan jadi 1,7% ini kebijakannya mau kontras fiskal atau apa? Ini cari aman. Kita ini butuh pertumbuhan ekonomi kalau enggak bisa resesi," jelasnya.

Piter menuturkan, tidak melihat ada terobosan kebijakan yang diambil oleh Sri Mulyani terkait perlambatan ekonomi global untuk meningkatkan perekonomian Indonesia. Sri Mulyani, ujarnya, hanya bermain di wilayah aman dan tidak berani mengambil keputusan yang tidak populis.

"Makanya saya tidak sependapat Sri Mulyani jadi Menkeu. Mungkin banyak teman-teman yang memuja. Tapi menurut saya mungkin bisa dilihat sendiri selama dia jadi Menkeu apa terobosan yang sudah dia lakukan?," tutur Piter.

Berita Lainnya