sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Ekosistem baterai kendaraan listrik Indonesia diklaim jadi yang pertama di dunia

Investasi oleh dua perusahaan asing ini mencapai US$6 miliar dari CATL dan US$9,8 miliar dari LG di tahun ini.

Erlinda Puspita Wardani
Erlinda Puspita Wardani Jumat, 13 Jan 2023 17:51 WIB
Ekosistem baterai kendaraan listrik Indonesia diklaim jadi yang pertama di dunia

Menteri Investasi/ Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia, mengumumkan, kalau ekosistem hulu hingga hilir baterai kendaraan listrik yang melibatkan Contemporary Amperex Technology Co., Limited (CATL) dan LG sudah mulai dibangun tahun ini.

Kerja sama pembangunan ekosistem antara CATL dan LG ini memiliki konsep yang sama dengan holding pertambangan Badan Usaha Milik Negara (BUMN), yakni PT Indonesia Battery Corporation (IBC).

“Kalau LG sama CATL konsepnya sama. Dari mining, dia kerja sama dengan ANTAM, smelter sama IBC, yaitu BUMN yang sahamnya dimiliki ANTAM,” kata Bahlil dalam konferensi pers di Istana Negara, Jumat (13/1).

Bahlil pun mengklaim, ekosistem baterai kendaraan listrik ini menjadi yang pertama di dunia, yakni seluruh proses dari hulu hingga hilir seperti prekursor, katoda, sel baterai, hingga daur ulang baterai ada di Indonesia.

“Ini ekosistem yang mungkin salah satu pertama di dunia. Karena yang lain kan parsial,” ujarnya menambahkan.

Diketahui, investasi oleh dua perusahaan asing ini mencapai US$6 miliar dari CATL dan US$9,8 miliar dari LG di tahun ini. Adapun lokasi smelter ada di Maluku Utara, sesuai dengan sumber pertambangannya,. Sedangkan sebagian lokasi smelter prekursor dan katoda milik LG ada di Batang, Jawa Tengah.

Lebih lanjut, Bahlil mengungkapkan bahwa perusahaan baterai kendaraan listrik asal Inggris, Britishvolt juga siap berinvestasi di Indonesia dan saat ini sedang di proses dalam tahap perizinan final yang hampir rampung.

Kemudian ia juga menyampaikan jika pemerintah akan melakukan pembatasan terhadap pembangunan smelter yang tidak berorientasi pada pembangunan green energy.

Sponsored

“Ini sebagai bentuk dari kepedulian pemerintah dalam melakukan penataan terhadap pembangunan produk yang berorientasi pada green energy atau green industry,” ujarnya.

Selain itu, saat ini pemerintah juga menurutnya masih menggodok formulasi sweetener atau pemanis yang sesuai di Indonesia untuk pembangunan industri.

“Kami lagi atur formulasi tentang sweetener model apa yang pantas dan kompetitif, yang bisa kita bangun. Tujuannya agar bisa memberikan penciptaan lapangan kerja,” tutur Bahlil.

Hal ini seperti yang telah dilakukan oleh beberapa negara lain di ASEAN, seperti Thailand yang memberikan pemikat usaha agar industri kendaraan listrik bisa di bangun di sana. Tak hanya itu, Bahlil juga mewanti-wanti agar pasar Indonesia yang besar justru terpenetrasi oleh negara lain dengan produk-produk mereka. Selain itu Indonesia juga terus didorong untuk melakukan penetrasi pasar ekspor.

“Kita harus penetrasi pasar ekspor. Oleh karena itu, BUMN juga tadi disampaikan untuk melakukan penyiapan infrastruktur yang lain,” ucapnya menambahkan. 

Berita Lainnya
×
tekid