sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

Garuda resmi batalkan pesanan 49 pesawat Boeing 737 Max 8

PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk. resmi membatalkan pesanan 49 unit armada pesawat Boeing 737 Max 8 senilai Rp48 triliun.

Cantika Adinda Putri Noveria
Cantika Adinda Putri Noveria Kamis, 28 Mar 2019 19:41 WIB
Garuda resmi batalkan pesanan 49 pesawat Boeing 737 Max 8

PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk. resmi membatalkan pesanan 49 unit armada pesawat Boeing 737 Max 8 senilai Rp48 triliun.

Satu unit armada pesawat Boeing 737 Max 8 dibanderol senilai US$60 juta hingga US$70 juta, setara Rp980 miliar dengan asumsi kurs Rp14.000 per dolar Amerika Serikat.

Direktur Utama Garuda Indonesia I Gusti Ngurah Ashkara Danadiputra mengatakan manajemen telah menerima kedatangan tim Boeing pada Kamis (28/3) pagi di Cengkareng. Hasil pertemuan itu, Garuda resmi membatalkan pemesanan 49 unit pesawat 737 seri Max 8. 

Pria yang akrab disapa Ari Ashkara itu mengatakan, pagi tadi pihaknya telah menerima kedatangan senior representatif dari Boeing. 

"Untuk keselamatan penumpang Garuda dan masyarakat Indonesia pada umumnya, kami tidak dapat melanjutkan pemesanan 49 pesawat 737 seri Max 8 yang sedianya mulai dikirim pada 2020," ujar Ari seperti dikutip dalam pernyataan resmi yang diterima Alinea.id, Kamis (28/3). 

Lebih lanjut, Ari mengatakan, dalam kesempatan itu, pihak Boeing juga menyampaikan simpatinya kepada keluarga korban dan masyarakat Indonesia pada umumnya. 

Selain itu, Boeing juga memahami posisi Garuda dan akan mempelajari kemungkinan untuk merestrukturisasi kontrak yang berlaku dan bekerja sama. Serta memberikan dukungan penuh kepada Garuda untuk memenuhi kebutuhan Garuda kedepannya. 

Dalam pertemuan itu, kata Ari, Boeing juga menjelaskan akan lebih meningkatkan sistem argumentasi karakteristik manuver (Maneuvering Characteristics Augmentation System/MCAS) dan masih menunggu persetujuan dari Federal Aviation Administration (FAA), dan laporan akhir atas kecelakaan Ethiopian Air dan Lion Air

Sponsored

"Dari Garuda kami masih percaya terhadap brand Boeing, namun kami sudah tidak percaya lagi dengan produk Max-8 khususnya karena masyarakat yang notabene pelanggan kami sudah kehilangan confidence terhadap produk itu," kata Ari. 

Oleh karenanya, emiten bersandi saham GIAA itu akan mengganti ke merek lain, seperti yang sudah dilakukan oleh beberapa maskapai lainnya. Kendati demikian, pihaknya meminta Boeing untuk menawarkan produk lain selain Max 8 tersebut. 

"Sedangkan nilai, jenis, dan waktu delivery akan dibahas antar kedua tim. Untuk hal ini, Boeing terbuka dan akan membahas internal di Seattle," ujarnya. 

Mantan Dirut Pelindo III ini juga telah menawarkan kepada Boeing untuk memfasilitasi pertemuan dengan regulator dan memberikan masukan kepada Boeing untuk mengembalikan kepercayaan masyarakat dan regulator kepada brand Boeing. 

Pihaknya akan melakukan pertemuan lanjutan pada akhir April 2019 untuk mencari solusi win-win untuk kedua belah pihak.

Pada perdagangan Kamis (28/3), saham GIAA ditutup merosot 1,23% sebesar 6 poin ke level Rp480 per lembar. Kapitalisasi pasar saham GIAA mencapai Rp12,4 triliun dengan imbal hasil 63,27% dalam setahun.

Mengutip laporan keuangan perusahaan di BEI, Garuda Indonesia mencatatkan kerugian bersih sebesar US$114,08 juta pada periode kuartal III-2018. Kerugian tersebut turun sebesar 48,62% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya US$222,04 juta.

Penurunan kerugian ini, terutama berasal dari pertumbuhan pendapatan yang mencapai 3,43% menjadi US$3,21 miliar. 

Adapun rincian pendapatan usaha tersebut adalah pendapatan dari penerbangan berjadwal sebesar US$2,56 miliar, pendapatan usaha dari penerbangan tidak berjadwal US$254,75 miliar, serta pendapatan lainnya US$397,96 juta.