logo alinea.id logo alinea.id

Jatuhnya Ethiopian Airlines dan petaka Boeing 737 MAX

Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan mengambil keputusan larangan terbang sementara seluruh Boeing 737 MAX 8.

Annisa Saumi
Annisa Saumi Rabu, 13 Mar 2019 20:25 WIB
Jatuhnya Ethiopian Airlines dan petaka Boeing 737 MAX

Jatuhnya pesawat Boeing 737 MAX 8 milik maskapai Ethiopian Airlines RT-302 pada 10 Maret 2019 membuat beberapa negara bereaksi. Uni Eropa sudah mengambil keputusan grounded (larangan terbang) Boeing 737 MAX.

Selain Uni Eropa, negara lainnya, seperti Turki, Uni Emirat Arab, India, China, Mongolia, Brasil, Argentina, Meksiko, Afrika Selatan, Australia, Namibia, Oman, Singapura, Mesir, termasuk Eithiopia pun melakukan hal yang sama. Indonesia pun mengambil keputusan serupa.

Sikap Indonesia

Hal tersebut diungkapkan pihak Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan, yang mengambil keputusan larangan terbang sementara untuk seluruh pesawat Boeing 737 MAX 8. Keputusan tersebut mulai berlaku sejak 12 Maret 2019. Berlaku seminggu ke depan.

“Kami mengambil langkah preventif terhadap 10 pesawat Lion Air, dan 1 pesawat garuda. Kami menetapkan larangan penerbangan sementara untuk melakukan inspeksi mulai 12 Maret kemarin,” kata Dirjen Perhubungan Udara Polana Banguningsih Pramesti saat konferensi pers di kantor Kementerian Perhubungan, Jakarta, Rabu (13/3).

Polana mengatakan, pihaknya sudah melakukan koordinasi dengan Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) untuk mengirim tim gabungan, yang terdiri dari tim Kementerian Perhubungan dan KNKT ke Addis Ababa, Ethiopia.

Sementara itu, Ketua Investigasi Kecelakaan Penerbangan Nurcahyo Utomo mengatakan, sudah menawarkan tim untuk ke Ethiopia. Namun, belum ada jawaban.

“Kalau diminta kami bersedia membantu,” ujar Nurcahyo saat ditemui di Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman, Rabu (13/3).

Sponsored

Petugas Inspektur Kelaikudaraan DKPPU Kementerian Perhubungan dan tekhnisi GMF melakukan pemeriksaan seluruh mesin dan kalibrasi dengan menggunakan alat simulasi kecepatan dan ketinggian pesawat pada pesawat Boing 737-Max 6 milik Garuda Indonesia di Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, Banten, Selasa (12/3). (Antara Foto).

Menurut Polana, Kementerian Perhubungan masih menunggu airwothiness directive dari lembaga regulator penerbangan sipil di Amerika Serikat Federal Aviation Administration (FAA). Airwothiness directive merupakan aturan yang diterbitkan FAA untuk memperbaiki kondisi yang tak aman dalam sebuah produk.

Di dalam situs resminya, FAA mengeluarkan pemberitahuan kelaikan udara lanjutan kepada komunitas internasional (continued airworthiness notification to the international community/CANIC).

“Laporan-laporan eksternal menggambarkan kesamaan antara kecelakaan ini dan insiden penerbangan Lion Air 610 pada 29 Oktober 2018. Akan tetapi, investigasi ini baru saja dimulai dan hingga kini, kami tidak bisa memberikan data untuk mengambil kesimpulan atau mengambil tindakan apapun,” tulis FAA di situs resmi mereka.

Terkait hal itu, pihak maskapai Lion Air yang punya 10 pesawat sejenis, mengambil keputusan untuk mengistirahatkan dan melakukan investigasi terhadap pesawat-pesawat mereka. Penghentian penerbangan sementara ini, kata Managing Director Lion Air Daniel Putut Wicaksono Adi, tak banyak memengaruhi operasional Lion Air.

“Masih low season dan bisa di-backup dengan pesawat kami yang lain,” kata Daniel dalam konferensi pers di Kementerian Perhubungan, Jakarta, Rabu (13/3).

Menurut dia, maskapai Lion Air sebelumnya sudah memesan 218 unit Boeing 737 MAX 8 dan 4 unit Boeing 737 MAX 9. Pada 9 April 2019, Lion Air pun kedatangan 4 pesawat sejenis dari Boeing. Namun, menyusul kecelakaan di Ethiopia dan menunggu hasil investigasi dari KNKT keluar, Lion Air mempertimbangkan kembali keputusan tersebut.

“Kami belum sampai pada keputusan pembatalan. Apakah akan mengganti pesawat dengan Airbus, kami belum bisa jawab,” ujar Daniel.

Sementara itu, maskapai pelat merah Garuda Indonesia yang memiliki satu unit pesawat sejenis juga masih menunggu hasil investigasi kecelakaan sampai tuntas.

“Terkait kepastian apapun (pembatalan pesanan dan mengganti maskapai) belum ada keputusan,” ujar Direktur Teknik Garuda Indonesia I Wayan Susena di kantor Kementerian Perhubungan, Jakarta, Rabu (13/3).

Sementara itu, menurut Direktur Kelaikudaraan dan Pengoperasian Pesawat Udara Avirianto, pihaknya sudah melakukan pengawasan khusus untuk Boeing 737 MAX 8 sejak Oktober tahun lalu.

“Jadi kalau Lion sama Garuda ada masalah, kita langsung grounded. Pengawasan khusus pada MAX 8 ini kita lakukan setiap hari,” kata Avirianto di kantor Kementerian Perhubungan, Jakarta, Rabu (13/3).

Avirianto melanjutkan, pihaknya juga melakukan pengecekan ganda sejak kejadian kecelakaan pesawat di Ethiopia. Hal ini dilakukan untuk memberi kepercayaan pada masyarakat. Pihaknya pun sudah melayangkan surat ke FAA untuk memberikan pernyataan positif mengenai penghentian operasional sementara.

“Secepatnya April sudah ada keputusan dari FAA,” kata Avirianto.

Kecelakaan mirip dan saham anjlok

Petugas Inspektur Kelaikudaraan DKPPU Kementerian Perhubungan dan tekhnisi GMF melakukan pemeriksaan ruang kemudi pesawat pada pesawat Boing 737-Max8 milik Garuda Indonesia di Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, Banten, Selasa (12/3). (Antara Foto).

Dihubungi terpisah, pengamat penerbangan Alvin Lie melihat pola kecelakaan Ethiopian Airlines mirip dengan Lion Air PK-LQP ketika terbang dari Denpasar, Bali ke Jakarta. Alvin mencermati, Boeing 737 Max-8 milik Ethiopian Airlines tersebut menukik tajam pada ketinggian 8.000 kaki atau 2.400 meter.

“Pesawat PK-LQP dalam penerbangan JT093 dari Denpasar ke Jakarta tanggal 28 Oktober 2018 tidak jatuh karena pilot mengambil inisiatif mematikan semua auto-pilot. Antara pilot dan stall ini saling tarik menarik,” kata Alvin ketika dihubungi, Rabu (13/3).

Stall merupakan posisi ketika pesawat kehilangan daya angkat. Alvin pun mengatakan, analisanya dikuatkan dengan penuturan CEO Ethiopian Airlines Tewolde GebreMariam yang menuturkan pilot Ethiopian Airlines memiliki masalah flight control.

Dalam CANIC yang dikeluarkan FAA pada 11 Maret 2019, memandatkan kepada Boeing untuk mengubah desain maneuvering characteristics augmentation system (MCAS) atau fitur otomatisasi pesawat. Alvin juga mengatakan, ada kemungkinan perangkat lunak yang kurang tepat di Boeing 737 MAX 8.

Mengenai larangan terbang, Alvin pun mengingat sekitar 40 tahun lalu pesawat DC-10 mengalami dua kecelakaan fatal yang mengharuskan pesawat mereka dilarang terbang. Akhirnya, DC-10 berhenti mengangkut penumpang sejak 7 Desember 2017.

Dua kecelakaan fatal dalam waktu 5 bulan tersebut menurut Alvin telah memupus kepercayaan pengguna jasa penerbangan terhadap Boeing.

“Operator saja sudah melarang terbang, bahkan di beberapa negara tidak boleh melintas karena takut pesawatnya jatuh kena pemukiman warga,” ujar Alvin.

Terkait dengan larangan Boeing 737 MAX 8 masuk ke wilayah udara Indonesia, Dirjen Perhubungan Udara tak melalukan hal tersebut.

“Kenapa harus dilarang?” kata Polana Banguningsih Pramesti.

Alvin juga menuturkan, jatuhnya Boeing membuat saham mereka rontok. Saham Boeing yang berada di angka US$422,42 saat penutupan saham hari Jumat (8/3), menukik tajam ke angka US$371,40 di hari Senin (12/3) saat pembukaan, menyusul kecelakaan Ethiopian Airlines RT-302.