sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Gimik rumah untuk WFH ala pengembang properti

Pelaku bisnis properti mengembangkan inovasi hunian yang fungsional untuk bekerja dari rumah.

Nurul Nur Azizah
Nurul Nur Azizah Rabu, 10 Mar 2021 13:28 WIB
Gimik rumah untuk WFH ala pengembang properti

Setahun sudah Indonesia dibelit pandemi Covid-19. Bekerja dari rumah (work from home/WFH) maupun belajar dari rumah (school from home) menjadi kewajaran di era ini.

Memiliki hunian pun kini seolah bukan hanya untuk sekadar rebah. Rumah atau apartemen yang semula menjadi tujuan pulang usai penat bekerja, kini berpeluang untuk merangkap sebagai ruang kerja. 

Maraknya aktivitas WFH ini turut mengubah kebutuhan hunian. Rumah pun disulap menjadi tempat singgah sekaligus kantor.

Menyikapi ini, para pengembang hunian lantas berlomba-lomba untuk menggaet hati konsumen. Aneka produk dan tawaran promo menarik disodorkan untuk bisa memenuhi kebutuhan konsumen. Tak terkecuali, rumah dengan fasilitas penunjang WFH.

Ilustrasi bekerja dari rumah. Pexels.com.

Salah satu pemain dalam inovasi ini adalah PT PP Properti Tbk. Selain menawarkan lokasi strategis serta konsep hunian yang sehat, PP Properti juga memfasilitasi kebutuhan lifestyle venue. Perusahaan yang didirikan pada 2013 ini juga menawarkan infrastruktur konektivitas internet yang mendukung kegiatan WFH.  

Tak hanya soal akses koneksi, PP Properti juga mendukung kebutuhan WFH melalui adaptasi unit apartemen menjadi berkonsep Small Office Home Office (SOHO). Hunian ini dilengkapi dengan fasilitas Owner Lounge yang dapat difungsikan oleh penghuni.
  
Selain itu, PP Properti juga mengembangkan hunian tapak seperti di kawasan Permata Puri Cibubur. Pemukiman itu menyodorkan konsep green and sustainable house. Hunian yang didesain dengan sirkulasi udara dan penerangan yang baik sehingga akan menghemat energi untuk penggunaan AC dan lampu. 

Seluruh unit memiliki ciri khas lantai mezzanine yang berfungsi untuk memaksimalkan pemanfaatan ruang. Rumah juga dilengkapi dua taman yang terletak di bagian depan dan belakang kavling.

Sponsored

"Memasuki era pascapandemi, PP Properti dengan cepat beradaptasi dengan  menyesuaikan produk-produknya sesuai kebutuhan konsumen," ujar Direktur Operasi 1 PT PP Properti Tbk, Rudy Harsono kepada Alinea.id, Selasa (9/3). 
 
Direktur Utama PP Properti Tbk, Sinur Linda Gustina menambahkan, pihaknya tengah membidik target pemasaran sekitar Rp1,38 triliun dengan anggaran modal kerja sekitar Rp438 miliar pada tahun 2021 ini.

"Semester-I 2021, perseroan fokus pada portfolio management atau pengelolaan portofolio. Selanjutnya semester II-2021, perseroan menjalankan strategi market development dan market penetration," ujar Linda dalam diskusi virtual bertajuk Jurus PP Properti Menghadapi Bisnis Properti 2021, Kamis (4/2).

Hingga saat ini, Linda menyebut, perseroan setidaknya memiliki tiga lini bisnis yaitu residensial, terdiri atas pengembangan kawasan, apartemen dan rumah tapak (landed house). Lalu mall & edutainment, terdiri atas lifestyle mall dan edupark, serta hotel yang terdiri atas business and leisure hotel

Untuk rumah tapak, rencana pihaknya akan mengembangkan properti di daerah Semarang, Cibubur dan Bandung. Total luas lahan rencana pengembangan landed house ini mencapai 30 hektar.

Ilustrasi. Pixabay.com.

Guna menopang kinerja tahun ini, PP Properti menyiapkan capex (capital expenditure) sekitar Rp438 miliar. Modal itu digunakan untuk proyek carry over diantaranya setoran modal anak perusahaan sekitar 18%, mall & edutainment 25%, hotel 19%, dan pembayaran tanah yang telah dimiliki sekitar 37%.

Bukan hanya soal adaptasi produk properti, jurus promosi bisnis properti bertema WFH pun digaungkan di masa kini. Misalnya saja oleh Sinar Mas Land. 

Dikutip dari website resminya, saat ini perseroan tersebut tengah menjalankan program Wish For Home (WFH) periode Maret hingga Desember 2021. Berbagai keringanan pembayaran diberikan kepada konsumen.

Mulai dari pembelian tunai maupun KPR express yang mencakup diskon sampai dengan 15%, insentif huni/insentif bangun hingga 10% persen, dan gratis BPHTB (Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan). Ada pula subsidi DP (uang muka) sampai dengan 15%, subsidi cicilan KPR, gratis biaya pengalihan, gratis biaya KPR/KPA, dan diskon tambahan untuk beberapa produk.

Kebutuhan hunian penopang WFH

Senior Associate Director Research Colliers International Indonesia, Ferry Salanto tak menampik adanya kecenderungan kebutuhan bekerja di rumah dari konsumen properti. 

Jikapun tidak sepenuhnya WFH, para pekerja ini bisa lebih fleksibel dalam memanfaatkan kantor sebagai tempat bekerja. Sebab, aktivitas bekerja bisa dilakukan sekaligus di tempat tinggal. 

Namun, ia menegaskan, bukan berarti kebutuhan akan kantor lantas redup sama sekali. Kantor masih dibutuhkan untuk pekerjaan yang mesti terjun ke lapangan dan bersifat teknis interaksi langsung. 

"Tren memang kerja tidak harus full di kantor lagi, tapi bisa setengah-setengah atau 30% jam kerja bisa dilakukan di rumah," ujar Ferry ketika berbincang dengan Alinea.id, Senin (8/3). 

Kebutuhan atas hunian baik rumah atau apartemen sebagai tempat bekerja, menurut Ferry, memang perlu mempertimbangkan beberapa hal. Termasuk soal fasilitas dan infrastruktur pendukung yang mumpuni. 

Berbagai persiapan pendukung itu mulai dari ruang khusus tambahan, akses internet, hingga ruang sosialisasi dan refreshment (penyegaran) di sekitar hunian. Konsekuensinya, harga hunian pun bisa dibanderol lebih tinggi. 

"Kalau ada tambahan fasilitas, tentu ada cost-nya," imbuhnya.

Erwin Karya, Direktur Ray White Indonesia, salah satu perusahaan agen penjualan properti di Indonesia, juga mengungkap adanya kecenderungan tren seperti itu dari beberapa pengembang properti. Salah satunya, konsep SOHO (Small Office, Home Office) yaitu apartemen atau rumah yang dilengkapi dengan berbagai macam fasilitas kantor.    

Di negara seperti Amerika Serikat, tambahnya, penjualan properti termasuk berkonsep SOHO ini tengah melonjak. Selain bertujuan menjaga jarak sosial (social distancing) selama masa pandemi, pembelian properti ini juga untuk memenuhi kebutuhan bekerja dari rumah. 

"Untuk pekerjaan yang enggak perlu ke kantor mereka cocok. Misalnya, desain grafis, IT, e-commerce dan sebagainya yang enggak perlu hadir fisik," kata dia.

Ilustrasi. Pexels.com.

Sementara perkembangan di Indonesia memang tidak semasif seperti di AS. Namun Erwin menyebut, penurunan okupansi perkantoran yang diprediksi sebesar 20-30% saat ini, bisa jadi menjadi sinyal atas pergeseran pola bekerja. 

"Office itu cenderung kosong. Terjadi karena perusahaan memberlakukan WFH atau work from cafe," katanya. 

Hingga saat ini, Erwin memproyeksikan, rumah tapak (landed house) untuk primary market masih mendominasi bisnis properti. Angkanya mencapai 70% dibandingkan apartemen. 

Sementara itu, Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) bidang Properti dan Kawasan Ekonomi, Sanny Iskandar, mengatakan kebutuhan WFH tidak dimungkiri bisa menjadi celah peluang bagi pengembang properti. Tak heran bila promosi (gimmick) pun ditebar dengan mengusung WFH dalam pemasaran.   

"Makanya sekarang banyak yang orientasinya pakai semacam gimmick marketing, dilengkapi dengan akses internet yang baik di lingkungan perumahan hingga smart city dengan teknologi tinggi," kata Sanny kepada Alinea.id, Selasa (9/3). 

Menurut Sanny, tren properti yang saat ini berkembang utamanya di kalangan kategori hunian untuk milenial. Rumah paling laris ialah sekitar maksimal Rp1 miliar hingga Rp1,2 miliar. Adapun basis wilayah yang paling diminati adalah sekitaran Jabodetabek. 

Pemilihan properti penunjang WFH

Tren bekerja dari rumah (WFH) diperkirakan masih akan berlangsung lama. Bentuknya juga semakin bervariasi, mulai dari WFH penuh maupun sebagian yakni beberapa hari dalam seminggu.  

Perencana keuangan bidang properti dari Financial Advisor Community (IFAC), Ike Hamdan mengingatkan bahwa properti untuk menunjang WFH membutuhkan pertimbangan khusus. Utamanya, soal fasilitas hingga pengelolaan keuangan. 

Fasilitas rumah atau apartemen, setidaknya mesti memiliki ruang yang nyaman untuk bekerja seperti ventilasi udara terjaga sampai sinyal dan akses internet yang kuat di lingkungan hunian. Jika perlu, ada fasilitas penguat sinyal yang bisa disediakan. 

Selain itu, pilihan spot kerja dalam hunian atau sekitar tempat tinggal tersebut perlu diperhatikan. Tujuannya bisa menjadi variasi ketika bosan WFH. Bisa pula dipertimbangkan ada area publik yang aman dan memadai untuk sosialisasi. 

Ike juga menekankan, memilih hunian yang cocok termasuk menunjang WFH, juga mesti diimbangi dengan kemampuan finansial. Terlebih, saat ini banyak insentif dan promo bertebaran di lingkup pemasaran properti.

Kuncinya, jangan sampai jumlah cicilan melebihi kapasitas. Upayakan untuk setidaknya seluruh utang maksimal 30% dari penghasilan.

"Sangat disarankan bahwa utang produktif itu adalah mayoritas dari utang, atau berkisar 70% dari total utang keseluruhan," pungkasnya.  

Berita Lainnya