sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Hero Supermarket tekan kerugian jadi Rp2 miliar kuartal I-2021

Bisnis perseroan terus terkena dampak negatif dari pandemi selama kuartal I-2021.

Annisa Saumi
Annisa Saumi Senin, 03 Mei 2021 11:06 WIB
Hero Supermarket tekan kerugian jadi Rp2 miliar kuartal I-2021

PT Hero Supermarket Tbk. (HERO) mencatatkan penurunan pendapatan bersih menjadi Rp1,7 triliun di kuartal I-2021. Pendapatan bersih ini turun sebesar 32,2% dari periode yang sama di tahun lalu sebesar Rp2,6 triliun. 

Turunnya pendapatan bersih perseroan membuat laba kotor emiten berkode saham HERO ini ikut turun 29,7% di kuartal I-2021 menjadi Rp494 miliar, dari Rp703 miliar di kuartal I-2020. Meski pendapatan bersih dan laba kotor perseroan mengalami penurunan, HERO tercatat berhasil menekan kerugian menjadi hanya Rp2 miliar di kuartal I-2021, dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu yang mencatatkan kerugian Rp44 miliar.

Presiden Direktur HERO Patrik Lindvall mengatakan, bisnis groseri serta kesehatan dan kecantikan perseroan secara signifikan terus terkena dampak negatif dari pandemi. Pembatasan-pembatasan dalam PPKM menyebabkan perubahan dalam perilaku belanja pelanggan dan pola permintaan barang, serta berdampak pada penurunan jumlah kunjungan pelanggan ke toko-toko perseroan yang berada di dalam mal.

"Toko perabotan rumah tangga IKEA juga terkena dampak dari pembatasan kapasitas operasional di dalam toko. Sebagian dari hal tersebut dapat diimbangi pertumbuhan e-commerce yang solid," kata Patrik dalam keterangan persnya yang dikutip Alinea.id pada Senin (3/5).

Dia melanjutkan, kinerja bisnis kesehatan dan kecantikan Guardian secara signifikan terus dipengaruhi oleh pembatasan terkait pandemi di Indonesia dan perubahan pola belanja pelanggan. Pengurangan jam operasional, penutupan sejumlah mal, pemberlakuan pembatasan jumlah kapasitas di pusat perbelanjaan, dan berkurangnya jumlah kunjungan pelanggan secara signifikan, mempengaruhi penjualan dan profitabilitas Guardian.

Sementara, kinerja keuangan bisnis ritel Groseri Hero terus terkena dampak secara signifikan oleh pandemi. Pembatasan sosial yang ketat, larangan perjalanan domestik dan khususnya, penutupan atau pemberlakuan pembatasan-pembatasan yang ketat di pusat perbelanjaan atau mal, telah mengubah pola belanja pelanggan secara substansial dan mengurangi jumlah kunjungan pelanggan.

"Akibatnya, hal ini secara material mempengaruhi kinerja hipermarket sebagai destinasi belanja dalam format besar, yang merupakan penyewa utama di pusat perbelanjaan atau mal dan merupakan tempat mayoritas area toko-toko Giant berada," ujarnya.

Strategi bisnis

Sponsored

Paatrik melanjutkan, sektor ritel Groseri di Indonesia telah mengalami peningkatan persaingan dalam beberapa tahun terakhir, dengan pertumbuhan format toko yang berbeda, serta perubahan perilaku konsumen yang semakin meningkat selama pandemi. 

Selama kuartal tersebut, lanjutnya, perseroan terus mengembangkan program pengoptimalan ruang usaha, untuk menyediakan bisnis ritel groseri dengan fondasi keuangan yang lebih stabil. 

"Secara bersamaan, semua aspek bisnis perseroan sedang dievaluasi untuk memastikan portofolio perseroan berada pada posisi yang lebih baik, untuk bersaing secara efektif dan menghasilkan kinerja keuangan yang lebih baik di masa depan," tuturnya.

Dalam konteks ini, kata Patrik, Dairy Farm Group, sebagai pemegang saham terbesar perseroan, mengumumkan, pada tanggal 29 April 2021 tentang pemberian fasilitas pinjaman kepada HERO. 

Menurut Patrik, pemberian fasilitas pinjaman ini menegaskan komitmen Dairy Farm Group kepada HERO dan memberikan fleksibilitas pembiayaan tambahan kepada perseroan, agar dapat bertahan dalam kondisi perdagangan yang sulit yang disebabkan oleh pandemi dan demi kemajuan program optimasi yang sedang berlangsung.

Berita Lainnya