sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Holding Indonesia Battery akan terbentuk, apa peran Pertamina?

Holding akan fokus dalam membangun pabrik baterai di dalam negeri.

Nanda Aria Putra
Nanda Aria Putra Jumat, 16 Okt 2020 19:12 WIB
Holding Indonesia Battery akan terbentuk, apa peran Pertamina?
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 365.240
Dirawat 64.032
Meninggal 12.617
Sembuh 289.243

PT Pertamina (Persero), PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) atau PLN, dan holding BUMN Pertambangan MIND ID atau PT Indonesia Asahan Aluminium (Persero) alias Inalum bakal membentuk holding Indonesia Battery. Holding ini akan fokus dalam membangun pabrik baterai di dalam negeri.

VP Corporate Communication Pertamina Fajriyah Usman mengatakan, dalam holding tersebut Pertamina akan fokus pada pengembangan rencana manufaktur dalam perakitan komponen baterai.

“Nantinya Pertamina akan fokus di masing-masing proses bisnis terkait, terutama dalam pengembangan manufacturing plant, mengintegrasikan komponen sel di dalam baterai, dan merakitnya ke dalam pack sesuai dengan peruntukannya," katanya dalam keterangan tertulis, Jumat (16/10).

Dia menambahkan, Pertamina juga akan terlibat bersama perusahaan pelat merah lainnya yang tergabung dalam holding tersebut untuk proses daur ulang baterai. 

"Juga masuk dalam pemanfaatannya, serta bersinergi untuk proses recycle baterai tersebut,” ujarnya.

Saat ini, lanjutnya, Pertamina secara intensif melakukan kajian internal dan berkoordinasi dengan manajemen MIND ID serta PLN untuk mengatur tugas dan fungsi masing-masing perusahaan dalam proyek tersebut.

Fajriyah menyebutkan, keterlibatan Pertamina dalam proyek strategis tersebut untuk mendorong dan menguatkan posisi Indonesia sebagai pemasok baterai ke depan, yang diprediksi akan meningkat seiring dengan perkembangan kendaraan listrik atau electric vehicle (EV).

Rencananya, pabrik baterai pertama di Indonesia tersebut akan dibangun di daerah yang telah disurvei sebelumnya, yaitu antara Halmahera, Maluku Utara, Sulawesi Tenggara, dan Papua. 

Sponsored

Targetnya pembangunan pabrik dilakukan dalam waktu dua hingga tiga tahun ke depan, dengan investasi mencapai US$20 miliar.

Berita Lainnya