sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

IHSG berpotensi masih tertekan akibat The Fed & BI Rate

Indeks harga saham gabungan (IHSG) pekan ini diproyeksi masih akan tertekan akibat penaikkan suku bunga acuan Federal Reserve.

Sukirno
Sukirno Senin, 02 Apr 2018 05:29 WIB
IHSG berpotensi masih tertekan akibat The Fed & BI Rate

Indeks harga saham gabungan (IHSG) pekan ini diproyeksi masih akan tertekan akibat penaikkan suku bunga acuan Federal Reserve dan potensi dinaikkannnya BI Rate.

Analis PT KGI Sekuritas Indonesia Yuganur Wijanarko dalam risetnya memproyeksi dari kacamata teknikal support terdekat IHSG berada pada level 6.120.

"Apabila support tersebut ditembus, target selanjutnya di level 6.070 dan 6.000," dalam riset yang dikutip Senin (2/4). 

Dia menjelaskan, apabila terjadi koreksi IHSG di bawah level 6.000, maka target minimum koreksi mencapai 5.800-5.500. Sedangkan, resistance terdekat berada pada level 6.290 dan 6.370-6.449. 

Secara grafik, sambungnya, level support tersebut terhubung dengan tren penurunan IHSG pada 2008 dan tren kenaikan dari 2009.

Menurut dia, pelemahan IHSG diproyeksi akan disebabkan oleh banyak faktor. Misalnya, dia menafsirkan di antaranya yang paling kuat adalah kenaikan suku bunga acuan The Fed dengan potensi kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia atau BI 7-days repo rate untuk disesuaikan.

"Pasti bakal meningkatkan cost of capital sehingga membuat asset rupiah seperti saham dan obilgasi mengalami penurunan," tuturnya. 

Pelaku pasar disarankan untuk memperhatikan faktor global seperti pelemahan perekonomian ekonomi di China dan negara Asia lainnya seperti Korea. Saham-saham pilihan antara lain TLKM, SMGR, INDY, dan ELSA.

Sponsored

Sebaliknya, Vice President Research Department PT Indosurya Bersinar Sekuritas William Surya Wijaya, menjelaskan IHSG berpotensi menguat dengan rentang 6.081-6.288. 

Menurut dia, pergerakan IHSG saat memasuki bulan ke-4 tahun ini telah melewati kuartal pertama. Potensi pergerakan IHSG akan diwarnai oleh rilis data kinerja keuangan emiten kuartal I/2018.

"Rilis kinerja emiten Q1 akan memberikan warna terhadap pola gerak IHSG dalam beberapa waktu mendatang, pergerakan juga masih akan diwarnai oleh fluktuasi harga komoditas dan nilai tukar," paparnya.

Saham-saham yang direkomendasikan di antaranya TLKM, HMSP, ICBP, ASRI dan SRIL. Kemudian ada BBCA, BBNI, KLBF, SMCB, dan BJTM.

PT Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat laju IHSG pada sepanjang pekan lalu masih bergerak dalam volatilitas yang tinggi sebelum ditutup turun 0,35% ke posisi 6.188,98 poin dari 6.210,69 poin pada penutupan perdagangan akhir pekan sebelumnya.

Sementara itu, nilai kapitalisasi pasar BEI juga mengalami perubahan 0,34% ke posisi Rp6.884,88 triliun dari Rp6.908,34 triliun sepekan sebelumnya.

"Rata-rata nilai transaksi harian di BEI selama sepekan terakhir tumbuh 75,92% menjadi Rp15,20 triliun dari Rp8,64 triliun pada sepekan sebelumnya," kata Kepala Divisi Komunikasi Perusahaan BEI Oskar Herliansyah dalam keterangan tertulisnya, Jumat (30/3).

Dia menambahkan, rata-rata volume transaksi harian di BEI mengalami perubahan 5,01% menjadi 10,61 miliar unit saham dari 11,17 miliar unit saham, dan rata-rata frekuensi transaksi harian di BEI juga berubah 20,26% menjadi 290,98 ribu kali transaksi dari 364,93 ribu kali transaksi pada pekan lalu.

Investor asing kembali mencatatkan jual bersih pada perdagangan pekan lalu dengan nilai Rp2,44 triliun. Sepanjang tahun ini investor asing mencatatkan jual bersih senilai Rp23,49 triliun.

Meraup cuan dari kematian

Meraup cuan dari kematian

Jumat, 28 Feb 2020 06:06 WIB
Berita Lainnya