close icon
Scroll ke atas untuk melanjutkan
Ilustrasi. Pixabay
icon caption
Ilustrasi. Pixabay
Bisnis
Rabu, 24 Maret 2021 16:18

Imbal hasil global bond 10 tahun Indonesia lebih rendah dari Filipina

Kendati begitu, sebagian pemegang surat utang pemerintah, masih memiliki kepercayaan yang tinggi terhadap obligasi Indonesia.
swipe

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengungkapkan, Indonesia harus waspada dengan efek domino dari kebijakan fiskal di negara-negara lain, seperti di Amerika Serikat (AS), Rusia, dan China.

Pasalnya, pemerintah AS beberapa waktu lalu meluncurkan kebijakan yang menggelontorkan stimulus fiskal sebesar US$1,9 triliun, yang membuat imbal hasil US Treasury melonjak tajam. Hal ini jelas berdampak pada imbal hasil surat utang pemerintah Indonesia.

"Kita hidup di masa harus sangat waspada dengan implikasi spillover (limpahan) kebijakan AS. US Treasury seperti yang saya katakan sebelumnya, dari Januari hingga Maret sudah meningkat dari 0,9%, lalu 1,7%, dan sekarang menjadi 85%," katanya dalam webinar Fitch on Indonesia 2021: Navigating a Post-Pandemic World, Rabu (24/3).

Tak hanya, AS, negara-negara lain seperti Rusia juga meningkatkan imbal hasil surat utangnya menjadi 29%, dan Filipina menjadi 48%. Sementara Indonesia hanya bertahan di level 11%.

"Ini juga pertama kalinya Indonesia justru memberikan imbal hasil global bond 10 tahun kita lebih rendah dari Filipina," ujarnya.

Meskipun imbal hasil surat utang Indonesia tergolong rendah, dia menyampaikan bahwa sebagian pemegang surat utang pemerintah tersebut, masih memiliki kepercayaan yang tinggi terhadap obligasi Indonesia.

"Hari ini kita benar-benar harus melihat bagaimana akan mengelola stigma semacam ini. Apakah dianggap rapuh atau tidak, dan itulah mengapa kita benar-benar harus mengatasi masalah ini," ucapnya.

Bendahara negara ini pun menuturkan, pemerintah akan terus berupaya menjaga volatilitas pasar keuangan global tersebut dengan memperkuat fundamental ekonomi, agar tidak berdampak buruk terhadap perekonomian nasional.

Meskipun, gelombang kebijakan di sejumlah negara dengan kapasitas ekonomi yang besar tersebut, jelas membawa efek kepada sistem keuangan nasional secara keseluruhan.

"Kami pasti masih terpengaruh oleh spillover kebijakan yang datang dari negara besar seperti Amerika Serikat, atau China, tetapi kami akan terus meningkatkan fundamental sehingga ketika limpahan semacam ini terjadi, tidak akan merusak atau mengikis total dan meruntuhkan ekonomi kami," ucapnya.

img
Nanda Aria Putra
Reporter
img
Hermansah
Editor

Untuk informasi menarik lainnya,
follow akun media sosial Alinea.id

Bagikan :
×
cari
bagikan