logo alinea.id logo alinea.id

Indonesia berpotensi miliki ekosistem IoT senilai Rp444 Triliun

Pengembangan Internet of Things (IoT) akan memperkuat teknologi digital di era revolusi industri 4.0. 

Laila Ramdhini
Laila Ramdhini Senin, 06 Mei 2019 12:17 WIB
Indonesia berpotensi miliki ekosistem IoT senilai Rp444 Triliun

Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menyatakan pemerintah akan mendorong pengembangan Internet of Things (IoT) untuk memperkuat teknologi digital di era revolusi industri 4.0. 

Direktur Industri Elektronika dan Telematika Kemenperin, R. Janu Suryanto mengatakan Indonesia juga bakal bertransformasi menjadi ekosistem bisnis IoT bernilai Rp444 triliun pada tahun 2022.

“Peluang Indonesia menjadi ekosistem IoT sangat besar. Potensi ini juga bisa dilihat dari jumlah pengguna internet di Tanah Air yang lebih dari 140 juta orang,” kata Janu dalam keterangan resmi yang diterima Alinea.id di Jakarta, Senin (6/5).

Janu mengungkapkan, implementasi industri 4.0 akan mendorong peningkatan investasi oleh perusahaan, terutama yang terkait dengan penggunaan teknologi terkini seperti IoT. 

Langkah tersebut diyakini mendukung peningkatan produktivitas dan daya saing di sektor manufaktur serta dapat menciptakan ekosistem inovasi.

“Oleh karena itu, Indonesia jangan hanya jadi pasar dari ekonomi digital, tetapi juga memanfaatkan pengembangan ekonomi digital tersebut, sehingga industrinya semakin tumbuh dan berdaya saing,” ujarnya. 

Adapun lima teknologi utama yang menopang pembangunan sistem industri 4.0, yaitu IoT, artificial intelligence (AI), human–machine interface, teknologi robotik dan sensor, serta teknologi 3D printing.

Lebih lanjut, Janu mengatakan, penerapan industri 4.0 merupakan upaya untuk melakukan otomatisasi dan digitalisasi pada proses produksi. Hal ini ditandai dengan meningkatnya konektivitas, interaksi, serta batas antara manusia, mesin, dan sumber daya lainnya yang semakin konvergen melalui teknologi informasi dan komunikasi.

Sponsored

“Digitalisasi di sektor industri akan membawa perubahan terhadap sistem manufaktur, dengan dipengaruhi oleh gelombang teknologi baru,” jelasnya. 

Sebelumnya, Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto menyebutkan, implementasi industri 4.0 dapat membawa manfaat bagi perusahaan yang menerapkan. Terutama terhadap peningkatan produktivitas dan efisiensi yang bisa mencapai 40%. 

“Dengan demikian, keuntungannya juga bisa naik 40%. Maka bayar pajaknya pun bertambah. Dengan demikian perusahaan untung, kemudian pemerintah juga untung. Itu salah satu manfaat implementasi industri 4.0,” kata Airlangga.

Kompetisi IoT

Sementara itu, Janu menuturkan, untuk mendorong pengembangan SDM industri yang mampu kompeten dalam era digital, Kemenperin menggelar kompetisi pengembangan solusi IoT bertajuk Bosch IoT Hackathon 2019. Kompetisi diinisiasi oleh penyedia layanan dan teknologi global asal Jerman, Bosch, yang rencananya digelar pada bulan Oktober. 

Bosch IoT Hackathon 2019 bertujuan menumbuhkan kreativitas dan semangat inovasi di kalangan digital natives (pengguna perangkat teknologi) di Indonesia. 

“Harapannya, kompetisi tersebut memunculkan ide-ide baru yang kemudian bisa diwujudkan dalam prototipe produk yang siap dipasarkan. Sehingga, acara itu akan mendorong terciptanya produk-produk dengan kandungan lokal yang lebih besar," ujarnya.
 

Riwayat Stasiun Gambir, dahulu jadi tumpuan

Riwayat Stasiun Gambir, dahulu jadi tumpuan

Senin, 14 Okt 2019 21:28 WIB
Denny Siregar: Saya bekerja tanpa komando

Denny Siregar: Saya bekerja tanpa komando

Sabtu, 12 Okt 2019 07:57 WIB