sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Inovasi anak negeri demi melawan pandemi

Balitbang Pertanian menciptakan inovasi alat ukur untuk minyak atsiri yang akan mempermudah penggunaan atsiri dalam berbagai kemasan.

Kartika Runiasari
Kartika Runiasari Jumat, 08 Okt 2021 13:03 WIB
Inovasi anak negeri demi melawan pandemi

Di masa pandemi, essential oil jenis Eucalyptus mendadak naik daun. Tanaman dengan wangi yang melegakan hidung ini teruji klinis mampu melawan virus SARS CoV-2 atau Covid-19. Riset Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) Kementerian Pertanian (Kementan) menyebut Eucalyptus teruji mampu menahan Coronavirus bereplikasi.

Khasiat Eucalyptus pun akan diwujudkan dengan berbagai produk turunan. Sebut saja dalam kemasan inhaler, roll-on, diffuser, hingga kalung saset. Tidak berhenti sampai disitu, Unit Kerja Balai Besar Pengembangan Mekanisasi Pertanian Kementan juga menemukan inovasi yakni alat ukur evaporasi minyak atsiri.

Invensi yang melibatkan 16 peneliti ini akan mempermudah minyak atsiri digunakan dalam berbagai kemasan. Namun, sebelum sampai ke tangan konsumen, minyak atsiri itu perlu teruji dengan alat ukur yang mumpuni.

"Produk atsiri selama pandemi kan dibuat berbagai produk roll on, inhaler, saset nah ini kita uji seberapa tahan alat-alat ini kalau dihisap hidung manusia. Bertahan berapa lama, kami buat alat ukurnya," kata salah satu peneliti Invensi Alat Ukur Evaporasi Minyak Atsiri Kementan Teguh Wikan kepada Alinea.id, Jumat (1/10).

Alat ukur evaporasi atsiri hasil inovasi Unit Kerja Balai Besar Pengembangan Mekanisasi Pertanian Kementan.

Dengan meniru sistem kerja hisapan hidung manusia, alat ukur ini akan menguji seberapa lama minyak atsiri bertahan. Nantinya, akan terdeteksi berapa kapasitas minyak atsiri yang terpakai dengan alat ukur berbentuk sungkup.

"Jadi ketahuan berapa cc habis berapa lama. Dan yang paling bagus campuran apa untuk mengikat minyak atsiri itu," tambah Teguh. 

Temuan ini sudah mengantongi paten dengan nomor S00202010734. Sejauh ini uji coba dilakukan pada minyak atsiri jenis Eucalyptus yang bertujuan untuk menangkal corona. Adapun proses ujinya menggunakan hewan sebagai objek percobaan.

Sponsored

"Dibuat alatnya dengan mengacu protokol kesejahteraan hewan, binatang percobaan tapi perlakuannya enggak serta merta seenaknya," sebut Teguh.

Dia mengharapkan, penemuan alat ini bisa menambah daftar alternatif penangkal Coronavirus bagi manusia. Tidak tertutup kemungkinan, alat ukur ini juga bisa mengetes efektivitas minyak atsiri lain seperti jenis serai.

Penemuan ini, kata dia, dibuat dalam waktu relatif singkat dan tidak memakan banyak biaya. Namun, kegunaannya cukup bermanfaat di tengah tingginya permintaan minyak atsiri di masa pandemi.

"Alat ukur yang belum pernah ada, dan metodenya pun jadi acuan baik dari BPOM (Badan Pengawas Obat dan Makanan) maupun UI (Universitas Indonesia) yang punya uji pra klinis," sebutnya.

Alat ini tidak serta merta akan dipasarkan langsung ke konsumen, tetapi menyasar ke laboratorium-laboratorium maupun pabrikan yang memproduksi atsiri dalam kemasan. Selain itu, alat ini juga bisa berguna bagi pabrikan untuk merancang produk baru.

Produk kalung aromaterapi Balitbangtan diformulasikan berbasis minyak Eucalyptus sp. Dokumentasi Kementan.

"Misal untuk pewangi ruangan berapa semprot ml (mililiter), berapa menit akan berbau, pengharum kapur barus, pengharum mobil berapa lama tahannya, perlu apa untuk mengikat wanginya, untuk menguji produk dan merencanakan produk baru," papar Teguh.

Menurutnya, selama ini alat sejenis didatangkan dari impor yang memakan waktu lama karena harus pre-order. Dengan alat ukur evaporasi ini, pabrikan maupun laboratorium bisa menggunakan produk dalam negeri dengan manfaat yang sama, lebih murah, dan efisien.

Sementara itu, Direktur Tanaman Semusim Obat, dan Rempah Ditjen Perkebunan Kementan Hendratmojo Bagus Hudoro menyambut baik inovasi tersebut. Invensi itu, kata dia, tentu akan berimbas positif bagi peningkatan produksi, produktivitas dan mutu terutama minyak atsiri.

Ia justru mengharapkan temuan ini tak hanya menyasar industri atsiri skala besar yang sudah lengkap alat uji standarisasinya, tetapi juga ke industri skala usaha kecil dan menengah. "Bagaimana produksi yang meningkat di petani, bahan baku, diproduksi jadi minyak atsiri mempunyai standar yang bisa diterima oleh pasar," katanya kepada Alinea.id, Kamis (8/10).

Bagus juga mengharapkan invensi ini bisa dibuat secara massal dan digunakan para pelaku di hilirisasi tanaman atsiri. Pasalnya, program hilirisasi menjadi salah satu fokus Kementan untuk meningkatkan nilai tambah. Gerakan peningkatan produksi, nilai tambah dan daya saing itu nantinya berujung pada target peningkatan ekspor.

Dewan Atsiri Indonesia (DAI) yang menaungi berbagai stakeholder industri atsiri nasional menyambut positif terhadap alat ukur tersebut. Sekretaris DAI Nuriyah Siti Hazerah menyampaikan berbagai catatan teknis terhadap alat uji itu. 

"Alat uji tersebut menghisap udara di dalam wadah plastik, jika wadahnya kedap maka laju penguapan harus dikoreksi dengan perubahan tekanan yang semakin rendah. Jika wadah plastik tersebut tidak kedap maka baiknya diberikan indikator tekanan," katanya kepada Alinea.id, Kamis (7/10). 

Pengurus DAI, tambahnya, juga menyarankan agar alat ukur mempertimbangkan faktor suhu pada wadah sampel. 

Tak hanya Eucalyptus

Eucalyptus bukan satu-satunya tanaman yang berkhasiat. Bagus Hudoro menyebut Indonesia juga unggul dalam produksi tanaman atsiri lain, seperti Serai wangi (Cymbopogon nardus/Citronella grass), Nilam (Pogostemon cablin), Pala (Myristica fragrans), dan Cengkeh (Syzygium aromaticum). 

"Kita dorong Nilam, Serai wangi yang notabene hanya bisa digunakan untuk atsiri," tambahnya.

Sementara itu, Ketua Umum Dewan Atsiri Indonesia (DAI) Robby Gunawan menyatakan ada 97 jenis tanaman minyak atsiri yang tumbuh di Indonesia. "Menurut DAI sekitar 25-nya telah dikembangkan secara komersial menjadi industri minyak atsiri hulu–hilir sampai tahun 2020," kata Robby dalam Laporan Rantai Nilai Minyak Atsiri Indonesia.

Tanaman itu adalah adas, akar wangi, cendana, gaharu, jahe, jeruk purut, lada, kapulaga, kayu manis, kayu putih, kemenyan, kemukus, dan kenanga. Ada pula keruing, lajagoa, lawang, masoi,  nilam, pala, palmarosa, pinus, sereh dapur, serai wangi, dan sirih.

Nuriyah dari DAI juga menambahkan Eucalyptus lobulus yang digadang-gadang bisa menangkal Covid-19 sebenarnya diimpor dari China. Karena itu, DAI ingin mempromosikan tanaman kayu putih (Melaleuca leucadendron) yang habitatnya ada di Tanah Air.

"Supaya bisa mengalahkan subsitusinya, Eucalyptus sehingga impor enggak terlalu besar," ujarnya saat berbincang dengan Alinea.id, Kamis (7/10).

Ia mengisahkan, dahulu produsen utama kayu putih adalah Provinsi Maluku. Namun, keberadaan tambang emas mengalihkan minat para petani. Mereka beralih profesi jadi penambang. Alhasil, kebun kayu putih pun terbengkalai.

"Karena kandungan utama sama dengan Eucalyptus akhirnya dimasukkan ke Indonesia sebagai substitusi dari kayu putih, mirip-mirip aromanya tapi beda," paparnya.

Dia juga menyebut baik kayu putih maupun Eucalyptus sama-sama mengandung sineol. Kandungannya memang paling tinggi di dalam Eucalytptus yang terbukti sebagai anti inflamasi dan anti virus.

Selain kayu putih, pihaknya kini juga mendorong perkembangan serai wangi. Nuri menceritakan Indonesia sempat menjadi produsen serai wangi nomer satu di dunia. Sayangnya, harga serai wangi yang merosot membuat tanaman ini tak dilirik petani. Hingga akhirnya, pada 2015 produsen serai wangi nomor 1 bergeser ke China.

"Kami mulai mempromosikan supaya nanam sereh wangi bukan cuma mendapatkan posisi nomor 1 di dunia lagi tapi memang kebutuhannya banyak, bukan hanya sebagai crude oil tapi juga fraksinya," jelasnya.

Harga serai wangi pun sempat tinggi karena peristiwa terbakarnya pabrik BASF, perusahaan kimia terkemuka di dunia. Produsen utama untuk fraksi sintetis itu akhirnya tak berproduksi dan berimbas pada meningkatnya permintaan minyak natural.

"Indonesia pun akhirnya kembali jadi produsen nomer satu serai wangi karena itu," tambahnya.

Menurutnya, peluang minyak atsiri di Indonesia sangat besar karena penggunaannya sangat luas. Mulai dari perisa dan aroma makanan dan minuman, pembersih lantai, sabun, alternatif bio aditif untuk kendaraan bermotor hingga aromaterapi.

"Bahkan untuk serai wangi kami rekomendasikan untuk ditanam di lahan yang tidak produktif kaya bekas tambang supaya lahan enggak mubazir, serai wangi bisa ditanam di lahan seperti itu," ujarnya. 

Beberapa daerah di Jawa Barat, katanya, sudah melaksanakan hal itu sebagai bentuk Corporate Social Responsibility (CSR) perusahaan. Pihaknya juga merekomendasikan tanaman serai wangi ditanam di lahan tambang untuk rehabilitasi seperti di Kalimantan.

Buah pala dan bijinya. Unsplash.com.

Lebih lanjut, Nuri mengatakan tanaman atsiri yang saat ini masih dominan di Indonesia adalah nilam, cengkeh, pala, dan serai wangi. Plus, kayu putih yang penggunaannya kian melejit di situasi pandemi. Ia menilai masyarakat dewasa ini semakin peduli dengan penggunaan natural oil untuk menunjang kesehatan.

Warisan kuno

Essential oil atau minyak atsiri keberadaannya sudah diakui sejak zaman Mesopotamia dan Mesir Kuno. Orang Mesir menanam berbagai tanaman untuk diambil minyaknya. "Kalau ada masyarakat kaum bawahan zaman dahulu ingin ngobrol sama raja disuruh makan cengkeh dulu untuk menghilangkan bau mulut," ujar Guru Besar Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Institut Pertanian Bogor (IPB), Irmanida Batubara saat berbincang dengan Alinea.id, Kamis (7/10).

Manfaat minyak atsiri, lanjutnya, masih terasa sampai saat ini seperti minyak cengkeh. Terbukti banyak produk penyegar mulut yang menggunakan bahan minyak cengkeh. Begitu juga dalam pengobatan gigi, minyak cengkeh digunakan untuk mematikan bakteri.

Cengkeh yang berupa kuncup bunga kering beraroma dari keluarga pohon Myrtaceae. Unsplash.com.

Karenanya, Irma bilang, tidak heran jika banyak tanaman atsiri yang kemudian dimanfaatkan untuk alasan kesehatan. Termasuk Eucalyptus untuk menangkal corona. Walaupun, dia bilang, masih banyak yang salah kaprah menganggap Eucalyptus sama dengan kayu putih (Melaleuca leucadendron).

"Minyak kayu putih dan Eucalyptus kan mengandung 1,8 Sineol, ini sebenarnya senyawa dominan di Eucalyptus maupun minyak kayu putih, bisa juga ditemukan di kapulaga lumayan tinggi juga, di jahe juga ada tapi sedikit beda di kadarnya," ujarnya.

Karenanya, Irma yang juga Kepala Pusat Studi Biofarmaka Tropika Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) IPB ini menilai Eucalyptus yang merupakan produk impor bisa digantikan oleh tanaman atsiri lain.

Menurutnya, segala bentuk kemasann minyak atsiri baik berupa kalung saset, inhaler, roll on dan sebagainya bisa digunakan untuk menangkal virus. Asalkan, senyawa yang terkandung di dalamnya dapat terhirup dalam sistem pernapasan manusia.

"Sehingga kalau ada bakteri dan virus di sistem pernapasan kita, mati dan enggak memperbanyak diri," jelasnya.

Irmanida juga optimistis tanaman atsiri lokal akan terus berjaya ke depannya menyusul semakin tingginya permintaan produk atsiri. Bahkan, Indonesia adalah juara dunia untuk ekspor minyak cengkeh.

Dia meyakini banyak praktisi lokal yang memproduksi turunan atsiri dalam beragam bentuk. Namun, brandingnya masih terkendala sehingga belum bisa bersaing dengan brand besar dari Amerika Serikat misalnya.

"Tapi ada beberapa teman yang membuat dan menjual di marketplace sebagai diffuser atau ada yang untuk menghilangkan sakit kepala, mual, ramuan dari produk-produk dalam negeri tapi belum terlalu terkenal," ungkapnya.

Ilustrasi Alinea.id/Enrico P. W.

Berita Lainnya
×
tekid