close icon
Scroll ke atas untuk melanjutkan
Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Thomas Lembong memberikan sambutan pada acara Bloomberg Modern Markets yang merupakan rangkaian Pertemuan Tahunan IMF - World Bank Group 2018 di Hotel Conrad Bali, Nusa Dua, Kamis (11/10). Acara tersebut memb
icon caption
Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Thomas Lembong memberikan sambutan pada acara Bloomberg Modern Markets yang merupakan rangkaian Pertemuan Tahunan IMF - World Bank Group 2018 di Hotel Conrad Bali, Nusa Dua, Kamis (11/10). Acara tersebut memb
Bisnis
Selasa, 30 Oktober 2018 17:02

BKPM: Investasi di 2018 seret karena terobosan pemerintah kurang nendang

Menurunnya investasi pada 2018 karena kebijakan Pemerintah dianggap kurang pro pada investasi
swipe

Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Thomas Lembong, mengatakan investasi pada 2018 seret atau berjalan di tempat karena eksekusi dan implementasi Presiden Joko Widodo kurang nendang pada tahun sebelumnya. Menurutnya, kebijakan pemerintah terhadap pro investasi masih kurang.

“Kita jangan berlebihan buang badan atau menyalahkan faktor eksternal. Kita harus menyikapinya dengan dewasa. Dan mengakui bahwa, mohon maaf eksekusi dan implementasi visi presiden masih kurang,” kata Thomas Lembong di Jakarta pada Selasa, (30/10).

Dia menjelaskan, realisasi peningkatan investasi di tahun tertentu bisa dipetik karena buah dari upaya atau terobosan di tahun sebelumnya. Jadi, kalau realisasi investasi di 2018 itu lemah, menurutnya, karena kebijakan pada 12 bulan sebelumnya masih kurang berhasil.

Pada triwulan II tahun 2018 investasi mulai berkurang. Hal tersebut berbeda dengan kondisi pada tahun 2016 dan 2017. Kata Thomas, pada 2016 dan 2017 kondisi investasi kuat karena adanya reformasi, program deregulasi yang diluncurkan pada 2015. Di tahun berikutnya ada program tax amnesty. Ini merupakan terobosan besar yang dilakukan di 2016. 

“Sayangnya, di 2017 tidak ada terobosan atau reformasi ekonomi yang berarti. Akhirnya, konsekuensinya investasi tahun berikutnya tidak optimal,” kata Thomas.

Pada 2017, misalnya, pemerintah mengeluarkan kebijakan tax holiday sampai 20 tahun. Tapi sayang kebijakan tersebut sepi peminat. Dalam catatannya, tidak lebih dari 10 investor yang melamar ketika itu. Kemudian, lanjut Thomas, tax holiday yang ditawarkan waktu itu hanya mencakup 3% dari semua subsektor dalam ekonomi. 

“Jadi kriterianya terlalu ketat. Terlalu sempit dan nggak nendang. Kita sekarang sedang mendorong tax holiday yang lebih nendang. Bukan hanya dari sisi jumlah tahun yang diberikan, tapi mencakup berbagai sektor dalam ekonomi,” kata Thomas. 

“Juga deregulasi atau reformasi yang lainnya yang bisa mengembalikan momentum kepada realisasi investasi.”

Menurut Thomas, tren investasi pada 2018 yang kurang menggembirakan bukan karena faktor eksternal. Pasalnya, kondisi faktor eksternal seperti melemahnya rupiah terhadap dollar AS dan ketidakpastian global akibat perang dagang di luar kendali pemerintah. Pemerintah bisa mengandalkan faktor internal dengan mengeluarkan kebijakan yang pro terhadap investasi.

Dirinya pun menekankan bahwa melambannya tren investasi itu biasanya bukan karena proyek yang batal. Tapi karena proyek yang ditunda. Ada beberapa proyek yang sudah diwacanakan sebelumnya, namun eksekusi kebijakan dan pengawalannya tidak optimal.

img
Eka Setiyaningsih
Reporter
img
Tito Dirhantoro
Editor

Untuk informasi menarik lainnya,
follow akun media sosial Alinea.id

Bagikan :
×
cari
bagikan