sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

Jokowi ultimatum akan 'gigit' mafia impor migas

Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengultimatum para mafia impor minyak dan gas (migas). Jokowi mengaku telah mengetahui nama-nama importir itu.

Nanda Aria Putra
Nanda Aria Putra Kamis, 28 Nov 2019 22:24 WIB
Jokowi ultimatum akan 'gigit' mafia impor migas

Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengultimatum para mafia impor minyak dan gas (migas). Jokowi mengaku telah mengetahui nama-nama importir 'nakal' yang kerap memasukkan migas dari luar negeri ke Indonesia.

Tak tanggung-tanggung, Jokowi mengaku tak akan segan mengganggu bisnis para mafia impor migas tersebut. Terutama terhadap mafia-mafia impor migas yang mengganggu jalannya proyek hilirisasi nasional.

"Siapa yang senang impor itu, dia yang tidak ingin impornya diganggu. Dan ini saya mau 'mengganggu'. Saya sudah tahu siapa-siapa saja," kata Jokowi dalam acara Pertemuan Tahunan Bank Indonesia 2019 di Ciputra Artpreneur, Lotte Shopping Avenue, Ciputra World, Jakarta Selatan, Kamis (28/11).

Presiden Jokowi akan menindak siapa pun yang akan mengganggu jalannya proyek hilirisasi nasional, khususnya dalam pengembangan bahan bakar biodiesel 20%-50% (B20, B30, dan B50). 

Dia pun tak segan mengatakan akan "menggigit" siapa pun yang mencoba menghalangi program pengembangan minyak kelapa sawit mentah (crude palm oil/CPO) tersebut. 

Pasalnya, proyek tersebut untuk mengurangi defisit transaksi berjalan (current account deficit/CAD) Indonesia yang disebabkan oleh impor migas yang terlalu besar.

"Siapa yang mengganggu acaranya B20 dan mengganggu acaranya B30, dan mengganggu acaranya DME (dimethyl ether) saya sampaikan pasti akan saya gigit," katanya.

Menurut Jokowi, dengan terus mengembangkan proyek hilirisasi bahan baku sumber daya alam, Indonesia akan mampu mengurangi ketergantungan akan impor, bahkan berpotensi untuk menciptakan produk ekspor.

Sponsored

Dengan demikian, katanya, Indonesia tidak perlu lagi takut dengan dilarangnya produk turunan kelapa sawit nasional oleh Eropa seperti yang terjadi beberapa waktu terakhir. Sebab, kelapa sawit dapat dikembangkan menjadi produk jadi yang dapat diserap di dalam negeri 

"Kenapa takut di-banned di Eropa kalau konsumsi dalam negeri kita juga bisa menyerap. Artinya kalau B20 dan Januari B30 berjalan dan B50 berjalan, impor minyak kita akan turun secara drastis sehingga urusan CAD kita bisa diselesaikan," ucapnya.