sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Jurus UMKM raup cuan kala Ramadan

Selain membuka lapak secara offline, penjual di era digital juga harus memanfaatkan penjualan via marketplace dengan beragam fiturnya.

Kartika Runiasari
Kartika Runiasari Senin, 04 Apr 2022 16:14 WIB
Jurus UMKM raup cuan kala Ramadan

Sejak memutuskan resign sebagai karyawan swasta, Nina (37) langsung membangun usaha kulinernya. Lulusan fakultas hukum universitas negeri di Jawa Tengah ini menjual makanan basah dan camilan dalam bentuk beku (frozen). Ia juga memutuskan merambah marketplace untuk memperluas jangkauan pemasarannya dengan jenama Parisya Snack Food.

Pastel, bakpao, samosa, donat maupun risol ia jual dalam bentuk beku. Ada pula brownies, roti sobek, bolen dan jenis pastry lainnya. Dari dapur rumahnya di kawasan Tangerang Selatan, Nina memproduksi aneka jajanan itu setiap hari. Namun, toko online makanan jelas memiliki tantangan dalam hal pengiriman.

“Pintar-pintarnya atur jenis pengiriman. Kalau samosa misalnya, itu harus pakai ojek online, enggak bisa pakai ekspedisi, nah itu saya tulis di deskripsi,” katanya saat berbincang dengan Alinea.id, Rabu (30/3).

Selain samosa, makanan beku lainnya juga hanya bisa merambah wilayah Jabodetabek saja demi menjaga kualitas makanan. Namun, meski pasarnya tak luas Nina mengaku puas bisa berjualan secara online.

Berjualan online selama enam tahun terakhir juga membuat Nina kian paham perilaku konsumennya. Dia mencatat, pesanan biasanya cukup banyak di akhir bulan hingga awal bulan atau setelah gajian.

Sebaliknya, setelah tanggal 10 hingga tanggal 25 penjualan relatif landai. “Ini saja dari Maret pertengahan sepi, masuk bulan puasa mulai agak ramai. Mungkin orang menstok buat puasa dan baru gajian,” tuturnya.

Nina pun kian paham ritme penjualan menjelang bulan Ramadan di mana pesanan biasanya melonjak cukup signifikan. Ia juga mengalami lonjakan pembelian pada masa awal pandemi. “Orang-orang mulai menstok makanan di freezer pas awal Corona,” sebutnya.

Menjalani bisnis online ini, kata dia, bukan tanpa strategi. Nina juga memanfaatkan beragam fitur yang ditawarkan marketplace demi mendongkrak penjualan. Di Tokopedia misalnya, ia memasang iklan (TopAds) pada masa awal berdiri.

Sponsored

“Jadi toko kami bisa keluar di laman-laman awal pencarian,” sebutnya.

Selain itu, Nina juga menggunakan fitur Bebas Ongkir untuk menarik lebih banyak calon pembeli ke toko. Bisa juga dengan memberikan diskon atau subsidi ongkos kirim bagi pengiriman melalui ojek online. “Jadi pembeli leluasa memilih,” singkatnya.

Dokumentasi Tokopedia.

Berbeda dengan Nina, Sari (37) justru baru pertama kali menggelar lapak online di marketplace untuk produk kue keringnya. Jelang Ramadan kali ini, ia membuka lapak di Tokopedia untuk menjangkau lebih banyak pembeli.

“Selama ini pembeli saya hanya merupakan kerabat dan teman yang sudah jadi langganan. Para pembeli yang justru minta saya buka di Tokopedia agar ada subsidi ongkir,” kisah warga Tangerang Selatan ini kepada Alinea.id, Kamis (30/3).

Sari sudah memulai bisnis kue kering sejak tahun 2014 dan menorehkan omzet puluhan juta di kala Ramadan dan Lebaran. Karena itu, untuk meningkatkan skala bisnisnya, ibu tiga anak ini tertarik untuk menjajal marketplace.

“Cuma memang ada kendala di pengiriman, karena kue kering yang rapuh sangat rentan hancur di perjalanan,” ujar karyawan swasta ini.

Namun, Sari tak berkecil hati. Ia bisa memilih opsi pengiriman dengan ojek online atau pengiriman cepat demi menjaga kualitas kue kering seperti nastar, kastengel, putri salju, dan lain-lain hingga sampai di tangan konsumen. Ia juga berniat mengikuti belanja iklan di Tokopedia demi bisa dikenal di ranah lokapasar.

Lonjakan permintaan

Tahun lalu, lembaga riset Continuum mengungkapkan aktivitas belanja online di kalangan pengguna media sosial meningkat sekitar tiga kali lipat pada rentang 1-25 April 2021 atau selama periode Ramadan. 

Riset Continuum bertajuk ‘Analisis Perilaku Konsumen Menggunakan Pendekatan Big Data’ itu merekam 1.204.102 pembicaraan di 934.671 akun media sosial.

"Tren belanja online meningkat tiga kali lipat selama Ramadan," ujar Analis Data Continuum Muhammad Azzam beberapa waktu lalu.

Menurutnya, hal ini tak lepas dari kondisi pandemi yang membatasi mobilitas masyarakat. Demi mencegah tertular Covid-19, konsumen memilih belanja online ketimbang offline. Pembicaraan mengenai belanja online di media sosial, tambah Azzam, mayoritas melakukan belanja berupa baju lebaran.

Lebih rinci, jenis belanja yang banyak dilakukan masyarakat sejak Ramadan adalah pakaian 47%, perabotan rumah tangga 18%, komunikasi dan jasa 8%, restoran 6%, dan lainnya. 

Dia menambahkan tren belanja online turut meningkatkan aktivitas konsumsi masyarakat sekitar 17% pada momen Ramadan dibandingkan sebelum Ramadan. Konsumsi masyarakat justru naik meski analisis terhadap pendapatan memperlihatkan ada penurunan sekitar 10%.

Lonjakan permintaan jelang Ramadan memang biasa terjadi dari tahun ke tahun. Perusahaan teknologi Indonesia dengan marketplace terdepan, Tokopedia, mencatat kategori Makanan dan Minuman, Kecantikan, Fesyen, Perawatan Diri, Ibu dan Anak serta Fesyen Anak sebagai beberapa kategori dengan peningkatan transaksi paling tinggi. 

AVP of Regional Growth Expansion (RGX) Tokopedia, Trian Nugroho pun membagikan sejumlah tips bagi para pegiat usaha terutama usaha menengah, kecil, dan mikro (UMKM) lokal agar bisa melakukan persiapan dengan lebih baik dalam menghadapi lonjakan permintaan menjelang Ramadan.

Yakni, seller bisa mengaktifkan opsi ‘Pengiriman Khusus Makanan’. Tokopedia sendiri mencatat peningkatan transaksi hampers hampir dua kali lipat dibandingkan periode yang sama di tahun sebelumnya. Di mana hampers makanan menjadi yang paling populer.

Namun, sebelum mengaktifkan pilihan ini, seller juga harus mengemas produk makanan dengan kedap udara agar makanan tetap aman ketika sampai di pembeli.

Tokopedia Ramadan Ekstra. Dokumentasi Tokopedia.

Kemudian, seller bisa memanfaatkan fitur ‘Modal Toko’. Penjual yang memenuhi persyaratan, bisa mendapatkan modal usaha tambahan untuk menunjang biaya operasional. Trian menyatakan terdapat berbagai promo tertentu di Modal Toko yang berlaku selama Ramadan.

“Fasilitas pinjaman modal usaha ini menyediakan limit kredit yang fleksibel serta bisa ditarik kapan pun dan berapa pun sesuai kebutuhan. Selain itu, bunga pinjaman yang ditawarkan sangat terjangkau dan flat. Proses persetujuan pinjaman juga hanya dalam hitungan menit,” kata Trian.

Namun, yang lebih penting, lanjut Trian, penjual juga perlu bergabung di komunitas penjual Keluarga Tokopedia agar bisa mendapatkan wawasan dari penjual lainnya.

Tokopedia sendiri sudah menghadirkan beragam materi edukasi di Pusat Edukasi Seller, termasuk kurikulum #SIAPRAMADAN 2022. Program ini menyediakan materi dengan berbagai tingkatan sesuai kebutuhan penjual, mulai dari tingkat beginner, intermediate, hingga advanced.

Lalu menggunakan kata kunci yang tepat. Menurutnya, penjual dapat menggunakan fitur Wawasan Pasar untuk melihat kata kunci yang paling sering digunakan pembeli, produk terlaris, rekomendasi kategori hingga inspirasi tren produk.

“Wawasan ini dapat membantu penjual berinovasi dari segi produk, misalnya dengan membuat paket bundling, agar dapat semakin mendongkrak penjualan menjelang dan selama Ramadan,” tutur Trian.

Hambatan logistik

Kemudian yang juga tak kalah penting adalah seller disarankan menggunakan fitur ‘Dilayani Tokopedia’. Trian bilang, fitur ini dapat membantu penjual menjawab tantangan logistik antar pulau dengan lebih efisien. Layanan ini memungkinkan penjual menitipkan stok produk di wilayah-wilayah dengan permintaan tinggi.

“Melalui Dilayani Tokopedia, penjual bisa memberikan ongkos kirim Rp0 se-Indonesia serta garansi barang tiba maksimal 4 jam untuk pengiriman dalam kota dan 48 jam di berbagai kota lainnya setelah pembayaran,” jelas Trian.

Sebagai negara kepulauan, salah satu tantangan penjual yang harus dihadapi adalah hambatan logistik. Jika dulu pengiriman paket belanja online membutuhkan 2-3 hari, maka kini konsumen ‘menuntut’ pelayanan pengiriman lebih cepat.

Dokumentasi Tokopedia.

Fitur ‘Dilayani Tokopedia’ ini menjadi jawaban atas tantangan hambatan logistik di tanah air. 

Associate Vice President Tokopedia Erwin Dwi Saputra menjelaskan dahulu fitur tersebut bernama Toko Cabang. Bergantinya nama fitur ini diharapkan bisa membantu penjual memaksimalkan penjualan dengan tersedianya Gudang Pintar di beberapa kota dan tentunya mendorong pemulihan ekonomi nasional. 

“Tokopedia berkolaborasi dengan beberapa mitra strategis dan memanfaatkan jaringan gudang pintar, ada di berbagai wilayah yakni Jakarta, Bandung, Surabaya, Makassar, Medan, dan Palembang,” ujarnya dalam jumpa pers virtual, Jumat (18/3).

Tokopedia mencatat selama 2021 transaksi penjual yang menggunakan fitur ‘Dilayani Tokopedia’ naik hampir dua kali lipat. Sementara secara keseluruhan, transaksi di Tokopedia melesat empat kali lipat sejak ada fitur tersebut.

“Transaksi paling tinggi terlihat di Jabodetabek, Surabaya, Bandung, Medan, Semarang, dan Yogyakarta dengan menggunakan ‘Dilayani Tokopedia’,” sebutnya. 

Secara umum, Erwin menggarisbawahi beragam keuntungan yang bisa dirasakan penjual maupun pembeli dengan adanya fitur ini. Bagi penjual misalnya, ada keuntungan seperti pelayanan pengiriman yang diproses 14 jam lebih cepat dibanding sebelum menggunakan layanan ini. 

Penjual juga tak perlu pusing menghadapi lonjakan pesanan serta lebih mudah mengembangkan bisnis. “Karena penjual bisa menerima pesanan, sampai pengemasan dan pengiriman dilayani oleh Tokopedia secara prioritas,” tambah dia.

Kondisi ini juga berimbas pada penjualan yang lebih menguntungkan. Apalagi seller pengguna baru juga bisa menggunakan layanan ini secara gratis untuk 30 hari pertama. Belum lagi dengan banyaknya kampanye penjualan yang bisa diikuti oleh para penjual. Penjual juga bisa menggunakan dashboard analisis untuk mengatur stok dan persebaran barang.

Ilustrasi Alinea.id/Firgie Saputra.

Berita Lainnya