close icon
Scroll ke atas untuk melanjutkan
Flyer e-Smart IKM. Foto istimewa
icon caption
Flyer e-Smart IKM. Foto istimewa
Bisnis
Rabu, 04 Januari 2023 22:01

Kemenperin tingkatkan produktivitas wirausaha baru sepanjang 2022

Sepanjang 2022 telah melakukan sejumlah program penumbuhan dan pengembangan wirausaha baru.
swipe

Direktorat Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (IKMA) Kementerian Perindustrian (Kemenperin), sepanjang 2022 telah melakukan sejumlah program penumbuhan dan pengembangan wirausaha baru. Pengembangan yang dilakukan antara lain pelatihan atau bimbingan teknis manajemen kewirausahaan, fasilitasi perizinan berusaha (legalitas usaha), serta fasilitasi mesin atau peralatan.

Program ini ditujukan untuk meningkatkan produktivitas wirausaha baru (WUB) industri kecil dan menengah (IKM), mulai dari program Santripreneur, penumbuhan wirausaha di daerah tertinggal, perbatasan, terluar dan pascabencana, hingga penumbuhan wirausaha yang bersinergi dengan kementerian dan lembaga lainnya, termasuk melalui dana dekonsentrasi.

Reni mengungkapkan, kehadiran WUB di sektor IKM memiliki peranan penting dalam memperkuat perekonomian nasional, terutama perluasan kesempatan berusaha dan bekerja hingga ke pelosok daerah.

“Dalam upaya peningkatan populasi wirausaha baru IKM, khususnya bagi calon wirausaha yang memiliki jiwa kewirausahaan, kami telah melaksanakan kegiatan penumbuhan wirausaha industri melalui berbagai program supaya mereka naik kelas jadi IKM yang adaptif dan inovatif,” kata Direktur Jenderal IKMA Kemenperin, Reni Yanita dalam keterangan resminya, Rabu (4/1).

“Hingga triwulan III-2022, Ditjen IKMA telah melatih sebanyak 17.763 WUB, meningkat lebih dari dua kali lipat dibandingkan 2021 yang mencapai 8.019 WUB. Selain itu, Ditjen IKMA telah mefasilitasi 6.235 WUB untuk mendapatkan legalitas usaha, atau meningkat dari 2021 sebanyak 5.330 WUB,” ujar Reni menambahkan.

Reni juga mengklaim, Ditjen IKMA selama 2022 sudah menggelar program Santripreneur untuk melatih wirausaha baru di 13 pondok pesantren, dengan peserta binaan sebanyak 670 santri. Sehingga, total santri yang dilatih sejak 2013 hingga saat ini sebanyak 10.914 santri dari 102 pondok pesantren.

Pada program Santripreneur, Ditjen IKMA telah memberikan bimbingan teknis serta fasilitasi mesin atau peralatan produksi.

“Kami berharap, dengan fasilitas tersbeut maka bisa mendorong wirausaha IKM di lingkungan pondok pesantren, sebagai upaya menciptakan lapangan kerja baru dan turut mendukung percepatan pemulihan ekonomi nasional,” tutur Reni.

Lebih lanjut, Ditjen IKMA juga kata Reni sudah menumbuhkan IKM startup berbasis teknologi melalui program Indonesia Food Innovation (IFI), Startup4Industry, Bali Creative Industry Center (BCIC) dengan program Creative Business Incubator (CBI), serta Inkubator Bisnis Teknologi Alas Kaki yang dilaksanakan oleh Balai Pemberdayaan Industri Persepatuan Indonesia (BPIPI) di Sidoarjo.

“Tercatat sebanyak 88 IKM startup tumbuh di tahun 2022, meningkat dibandingkan tahun 2021 yang hanya 54 IKM startup,” ucap Reni. 

Artikel ini ditulis oleh :

img
Erlinda Puspita Wardani
Reporter
img
Ayu mumpuni
Editor
Bagikan :
×
cari
bagikan