sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

Laba melambung, Hary Tanoe yakin MNCN tumbuh dua digit

Konglomerat Hary Tanoesoedibjo optimistis perusahaan media miliknya, PT Media Nusantara Citra Tbk. (MNCN) mampu tumbuh dua digit pada 2019.

Annisa Saumi
Annisa Saumi Kamis, 25 Jul 2019 17:41 WIB
Laba melambung, Hary Tanoe yakin MNCN tumbuh dua digit

Konglomerat Hary Tanoesoedibjo optimistis perusahaan media miliknya, PT Media Nusantara Citra Tbk. (MNCN) mampu tumbuh dua digit pada 2019.

Target double digit itu dengan acuan terhadap pendapatan pada tahun buku 2018 senilai Rp7,44 triliun. Saat itu, pertumbuhan pendapatan MNCN hanya 5,5% secara tahunan.

"Untuk sisa tahun ini, saya optimistis perseroan dapat mencapai pertumbuhan pendapatan dua digit, sama dengan pencapaian pada semester I-2019," ujar Chairman MNC Group Hary Tanoesoedibjo dalam keterangan resmi, Kamis (25/7).

Pada paruh pertama tahun ini, MNCN mengantongi pendapatan senilai Rp4,25 triliun. Capaian itu tumbuh 15% secara tahunan (year-on-year/yoy) jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya Rp3,69 triliun.

Pendapatan itu disumbang dari naiknya revenue iklan sebesar 14% menjadi Rp4,03 triliun. Rinciannya, pendapatan iklan digital melonjak 319% dari Rp77 miliar menjadi Rp325 miliar pada semester I-2019. Jumlah ini setara dengan 8% dari total pendapatan iklan yang diraih MNCN.

Saat bersamaan, pendapatan iklan reguler hanya naik 7% menjadi Rp3,71 triliun pada paruh pertama 2019 dari tahun sebelumnya Rp3,47 triliun. Kenaikan pendapatan iklan reguler ini ditopang oleh non-time consuming (NTC) ads seperti iklan built-in, virtual, dan iklan squeeze frame.

Kemudian pendapatan dari konten juga tercatat naik 20% pada semester I-2019 menjadi Rp913 miliar dari Rp761 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya. Khusus kuartal II-2019, pendapatan konten tercatat sebesar Rp453 miliar dengan kontribusi dari produksi konten baik dari dalam grup maupun yang berasal dari luar grup, lisensi konten, dan lisensi channel berbayar.

Sebaliknya, pendapatan di luar bisnis inti justru merosot 67% pada paruh pertama tahun ini menjadi Rp55 miliar dari Rp166 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya. Non-core revenue ini berasal dari bisnis cetak dan radio MNCN.

Sponsored

Hary menjelaskan, Earning Before Interest, Taxes, Depreciation, and Amortization (EBITDA) MNCN semester I-2019 tercatat mencapai 45% atau Rp1,91 triliun. Sehingga, laba bersih MNCN juga melejit 74% menjadi Rp1,22 triliun pada paruh pertama 2019 dari Rp710 miliar.

Hary Tanoe mengatakan MNCN mempertahankan posisinya sebagai pemimpin pasar, tidak hanya dari sisi pendapatan iklan, tapi juga dari performa audience share dengan total audiens sebesar 37,4% pada jam tayang utama dan 35,5% untuk seluruh jam tayang.

"Serial sinetron kami terus menjadi pilihan pemirsa selama jam tayang utama dan program pencarian bakat yang kami miliki telah viral dan tetap menjadi sangat populer di Indonesia," kata Hary.

Pada Mei 2019, YouTube memberikan MNCN roll up tool untuk beroperasi sebagai Multi-Channel Network (MCN) melalui PT Suara Mas Abadi atau yang populer dikenal sebagai Star Hits. Saat ini, MNCN melalui berbagai kanal di YouTube telah memiliki jumlah penayangan sebesar 15,3 miliar dengan 38,6 juta pelanggan pada Juni 2019.

Lisensi MCN akan meningkatkan jumlah penayangan dan pelanggan secara signifikan karena memungkinkan MNCN untuk bertindak sebagai agregator bagi pembuat konten di YouTube.

Ke depan, MNCN akan meluncurkan platform digital terbaru mereka pada akhir Agustus 2019 berupa connected TV yang diberi nama RCTI+. RCTI+ nantinya akan berupa aplikasi live streaming dari empat free to air (FTA) televisi milik MNCN yaitu RCTI, MNCTV, GTV, dan iNews. 

"RCTI+ dan MCN harus mulai memberi dampak positif pada kuartal IV-2019," ujar Hary.

Pada perdagangan Kamis (25/7), saham MNCN ditutup melonjak 1,79% sebesar 25 poin ke level Rp1.420 per lembar. Kapitalisasi pasar saham MNCN mencapai Rp20,27 triliun dengan imbal hasil 43,76% dalam setahun terakhir.

Sebagai informasi, Hary Tanoe menduduki urutan 31 dalam jajaran konglomerat paling kaya di Indonesia versi majalah Forbes 2017. Dia ditaksir memiliki kekayaan senilai US$1,1 miliar setara Rp15,4 triliun per Juli 2019.