sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Latah bisnis internet perusahaan pelat merah

Beberapa BUMN turut meramaikan bisnis layanan internet di Tanah Air.

Nurul Nur Azizah
Nurul Nur Azizah Kamis, 01 Jul 2021 06:11 WIB
Latah bisnis internet perusahaan pelat merah

Internet seolah sudah jadi kebutuhan pokok bagi keluarga Rochimawati (48). Dia bersama suami merupakan karyawan swasta yang kini bekerja dari rumah (WFH), sementara dua anaknya juga bersekolah secara daring. 

Urusan jaringan internet, perempuan yang berdomisili di Jakarta Timur itu tidak mau berkompromi. Kualitas kecepatan dan jaringan yang lancar adalah hal utama. Baru setelahnya, harga terjangkau dan pelayanan cepat.  

"Kita sempat ganti provider karena sering mati mulu dan enggak responsif pelayanannya. Pokoknya mesti cepat," ucap Rochimawati kepada Alinea.id, Senin (28/6). 

Rochimawati mengaku tidak begitu mengetahui banyak penyedia layanan internet. Termasuk layanan internet yang disediakan oleh beberapa perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Seperti, Telkom (Indihome), PLN (ICON+), PGN (Gasnet) hingga Jasa Marga (JMRB). 

"Belum pernah dapat promosi atau tawaran sih," kata dia. 

Ilustrasi Pixabay.com.

Salah satu warga Kalibata, Jakarta Selatan, Eddy (47) saat ini juga menggunakan jaringan internet milik swasta yaitu Oxygen (PT Mora Telematika Indonesia). Baginya, kualitas jaringan dan harga yang terjangkau menjadi faktor utama. 

Dalam sebulan, ongkos untuk membayar layanan internet di rumahnya mencapai Rp500.000-an (100 Mbps). 

Sponsored

"Untuk tipe penggunaan keluarga sih, kalau kantor kayaknya lebih mahal lagi," katanya ditemui di kediamannya di Kalibata, Jaksel, Selasa (29/6).

Eddy mengaku tidak menutup peluang layanan yang menawarkan fasilitas lebih berkualitas namun tetap terjangkau harganya. Baik itu perusahaan swasta maupun BUMN. 

"Bisa dipertimbangkan kalau harganya lebih murah dan pelayanan cepat," kata dia. 

Di luar Jabodetabek, Yanto (57) baru setahun  ini memasang jaringan internet (Wi-Fi) di rumahnya di kabupaten Blitar, Jawa Timur. Dia mengaku tak memiliki banyak alternatif untuk memilih provider penyedia internet. 

"Enggak mikir ini pakai apa, yang penting ada yang bisa masang Wi-Fi buat anak sekolah," ujar Yanto melalui sambungan telepon kepada Alinea.id, Selasa (29/6). 

Yanto menceritakan bahwa akses internet di kampungnya masih terbatas. Masyarakat yang bisa mengakses Wi-Fi bahkan bisa dihitung jari di desanya. Mayoritas masyarakat masih menggunakan paket data biasa untuk tersambung di internet. 

Potensi cuan bisnis internet 

Kebutuhan internet menjadi semakin penting di era kini. Dalam lima tahun terakhir ini, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, penggunaan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) oleh rumah tangga di Indonesia berkembang pesat. 

Seiring itu, kepemilikan komputer dan kepemilikan akses internet dalam rumah tangga saat ini mencapai angka 18,78% untuk kepemilikan komputer dan 73,75% untuk kepemilikan akses internet dalam rumah tangga.

Selama masa pandemi, Laporan Survei Internet APJII kuartal-II 2020 menyebutkan, penetrasi internet di Indonesia sudah mencapai 73,7% atau 196,71 juta pengguna. Kondisi ini terjadi tak lepas dari dampak pandemi yang turut mengubah gaya hidup masyarakat menjadi serba digital. Mulai dari aktivitas bekerja, belajar, mencari hiburan hingga berbelanja secara online.

Sebanyak 29,3% responden dalam survei tersebut, mengaku banyak memakai internet untuk berkomunikasi. Kemudian, disusul bermedia sosial 24,7%, mengakses hiburan 9,7%, mengakses layanan publik 7,6%, dan 4,8% berbelanja online.

Direktur Center of Economic and Law Studies (CELIOS) Bhima Yudhistira mengatakan penetrasi internet yang makin besar tersebut, menjadikan bisnis penyedia layanan internet juga begitu potensial. Bukan saja dari perusahaan swasta yang berlomba-lomba, namun juga perusahaan pelat merah yang turut jadi pemain.

"Peluang dengan pertumbuhan rata-rata 10% per tahun internet aktif, saya kira pasar Indonesia cukup menjanjikan. Salah satu yang tercepat di ASEAN," ujar Bhima kepada Alinea.id, Selasa (29/6).

Ilustrasi Pixabay.com.

Ada banyak pelaku bisnis internet yang saat ini ada di Indonesia. Di sektor swasta, setidaknya ada beberapa perusahaan yang cukup familiar seperti Biznet Network, MyRepublik ID, First Media, MNC Play, serta Transvision. Kemudian ada pula PT Mora Telematika Indonesia (Oxygen), Groovy, PT Cyberindo Aditama atau CBN Fiber, XL Home hingga Indosat Ooredoo GIG.

Sementara dari perusahaan BUMN, PLN baru-baru ini diketahui mulai menggeluti bisnis internet lewat anak usahanya, PT Indonesia Comnets Plus (ICON+). Layanan yang baru diluncurkan awal Juni 2021 ini diberi nama ICONNECT. Tarifnya beragam, mulai dari Rp185.000 per bulan untuk kecepatan 10 Mbps hingga Rp427.000 untuk menikmati kecepatan 100 Mbps yang berlaku untuk wilayah Jabodetabek.

Anak usaha BUMN yang menjalankan bisnis internet lainnya adalah Gasnet (PGN). Selama kurun waktu 7 tahun ini, Gasnet berupaya memberikan layanan internet dengan terus melakukan inovasi dan improvisasi guna mengetahui apa saja yang dibutuhkan pasar. 

"Menghadapi fase new normal menjadi tantangan baru untuk survive," bunyi keterangan Gasnet seperti dikutip dari laman gasnet.id.

Ilustrasi Alinea.id/Bagus Priyo.

Sementara itu, anak usaha BUMN yang relatif berhasil menjalankan bisnis internet ialah IndiHome (Telkom). Total pelanggan IndiHome hingga akhir Maret 2021 ini, telah mencapai 8,15 juta atau tumbuh 12,3% (yoy).  

Layanan Indihome bahkan menyumbangkan kinerja yang baik bagi Telkom. Kontribusi pendapatan IndiHome meningkat cukup signifikan yaitu dari 14,8% tahun lalu menjadi 18,7% dari total pendapatan perseroan konsolidasi. Margin EBITDA (pendapatan perusahaan sebelum bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi) IndiHome juga mengalami peningkatan cukup signifikan menjadi 45,2% dari 38,9% pada tahun 2020.

Sebagai BUMN pemain lama di bisnis ini, Vice President Corporate Communication Telkom Pujo Pramono menyebut penetrasi fixed broadband di Indonesia baru memang menyentuh 15% dari total 69 juta rumah tangga. Potensi bisnis ini masih terbuka lebar.

"Kehadiran layanan internet dari BUMN lain diharapkan dapat turut mendukung akselerasi digitalisasi dan pemerataan konektivitas di seluruh Indonesia," ujarnya kepada Alinea.id, Rabu (30/6).

Sejauh ini, IndiHome didukung jaringan fiber optic sepanjang 166.343 kilometer dari pusat kota sampai pelosok desa di seluruh wilayah Nusantara. Jaringan ini menjangkau 96,5% kabupaten/kota bahkan hingga 9 pulau terluar yakni Pulau Bintan, Pulau Karimun, Pulau Kei, Pulau Alor, Pulau Simeuleu, Pulau Weh, Pulau Sebatik, Pulau Rote dan Pulau Sabu.

Terkait dengan paket, IndiHome menyediakan beragam paket layanan yang dapat dipilih sesuai dengan kebutuhan pelanggan. Terdapat 3 layanan utama yaitu Internet, Phone dan TV Interaktif. Adapun paket yang ditawarkan antara lain Paket 3P (Internet, TV dan Phone), Paket 2P (Internet + TV) dan (Internet + Phone), dan Paket Khusus Digital.

Menurutnya, IndiHome senantiasa mengedepankan inovasi dari segala aspeknya. Seperti digitalisasi proses layanan melalui applikasi myIndiHome, menjalin kerjasama dengan penyedia konten lokal maupun global.

"Termasuk juga proaktif dalam melayani pelanggan melalui media sosial," tambahnya.

Ada pula Jasa Marga yang sedang berancang-ancang berbisnis layanan infrastruktur internet fiber optic dengan memanfaatkan infrastruktur jalan tol yang sudah ada. Rencananya, implementasinya pada akhir 2021 mendatang. Hingga kini, kajian detail terkait target pelanggan dan rencana harga masih dilakukan. 

Corporate Secretary Jasa Marga Reza Febriano mengatakan, penyediaan infrastruktur jaringan backbone fiber optic memang memiliki potensi bisnis yang besar ke depannya yaitu sebagai infrastruktur jaringan data. Hal ini seiring dengan banyaknya aplikasi online, mobile, internet dan teknologi lainnya.

Siap bersaing

Di sisi lain, pemain swasta dalam penyedia internet pun siap bersaing. Group Head Corporate Communication PT XL Axiata Tbk (EXCL) Tri Wahyuningsih menilai bertambahnya pemain bisnis internet di Tanah Air dari BUMN tentu menambah jumlah penyedia layanan broadband internet bagi masyarakat di Indonesia.

"Sekaligus hal ini juga menjadi tantangan bagi kami untuk dapat memberikan layanan data/broadband internet yang lebih baik bagi pelanggan," ujarnya kepada Alinea.id, Rabu (30/6).

Hal senada juga diungkapkan Head of Marketing Communication PT Link Net Tbk (First Media) Niki Sanjaya. Hadirnya pemain baru termasuk BUMN, kata dia, menjadi bagian dari upaya dan realisasi pemerintah dalam hal pemerataan infrastruktur TIK.

"Kami optimis, dengan tumbuhnya pemain bisnis baru layanan internet di Indonesia akan membuka peluang kolaborasi yang besar untuk dapat bersama-sama mewujudkan internet yang merata dan Indonesia yang semakin maju," katanya kepada Alinea.id, Rabu (30/1).

Tingginya permintaan akses internet tergambar pula pada kinerja First Media. Pada laporan keuangan Link Net pada kuartal-I 2021, tercatat laba bersih sebesar Rp249 miliar atau naik 26% dibandingkan dengan kuartal yang sama di tahun 2020 dengan perolehan sebesar Rp198 miliar. 

Ke depan, First Media akan fokus pada layanan unlimited internet tanpa batasan kuota dan variasi konten. "Upaya-upaya ini kami lakukan dengan menjalin kolaborasi dengan berbagai pihak termasuk penyedia layanan OTT (Over The Top) yang dapat mendukung kami untuk menjawab kebutuhan dan keinginan pelanggan serta masyarakat Indonesia," ungkapnya.

Di kuartal I-2021, pihaknya menghadirkan OTT Package, First+ yang menyediakan akses ke beragam platform OTT, diantaranya Viu, CATCHPLAY+, dan GoPlay.

"Kami yakin dan optimis dapat menghadapi persaingan bisnis," ungkapnya.

Tak sekadar latah

Direktur Eksekutif BUMN Institute, Achmad Yunus mengatakan pemerintah harus mengatur fokus bisnis (core business) BUMN. Dia bilang, jangan kemudian BUMN menjadi latah dan bersaing sendiri sesama BUMN. Termasuk, kaitannya dengan bisnis internet para perusahaan pelat merah. 

"Cukup Telkom aja disiapkan betul-betul untuk layanan bisnis internet, kalau memang pasar ini besar dan menjanjikan bisa bentuk holding perusahaan BUMN digital yang sudah ada seperti PT INTI," kata Achmad Yunus kepada Alinea.id, Selasa (29/6). 

Achmad Yunus mengingatkan bahwa BUMN perlu belajar dari Waskita Karya yang kini malah tertatih-tatih gara-gara pergeseran bisnis perusahaan, yang semula di bidang konstruksi menjadi pembiayaan konstruksi jalan-jalan tol. 

"Kalau Kementerian BUMN tidak atur fokus bisnis masing-masing BUMN, bisa saling mematikan antar BUMN," kata pengamat BUMN tersebut. 

Senada dengan Yunus, Bhima dari CELIOS pun berpendapat, perusahaan BUMN memang sebaiknya berfokus pada bisnis inti yang dijalankan. Kaitannya dengan bisnis internet, Bhima bilang, pemerintah bisa mengoptimalkan Telkom yang mempunyai jaringan dan infrastruktur yang kuat. 

"Internet ini kan sektor komersial, atau lepaskanlah ke swasta. Ngapain BUMN masuk ke arena yang sifatnya komersial dan swasta sudah banyak main di situ," kata dia. 

Pemerintah melalui BUMN, kata ekonom yang pernah bekerja di INDEF tersebut, sebaiknya juga jangan mengulang kelatahan atas potensial bisnis. Dia mencontohkan, dulu banyak perusahaan BUMN yang juga sempat masuk ke sektor perhotelan karena tren pariwisata meningkat. Kemudian, ada pula usaha Rumah Sakit (RS) yang kemudian dijadikan holding. 

"Itu bisa saja terulang. Sekarang sedang booming internet, pada ujungnya bisa juga diholding. Karena pada akhirnya keluar dari core bisnisnya," kata Bhima. 

Bisnis internet jika pun akhirnya dijalankan oleh perusahaan BUMN, Bhima menekankan, perlu berfokus pada pelayanan dan pemerataan akses bagi masyarakat. Maka dari itu, perlu merambah ke berbagai wilayah terpencil yang belum tersentuh akses internet. 

Apalagi, menurutnya dengan infrastruktur perusahaan BUMN yang relatif telah tersebar di berbagai wilayah Indonesia. Maka, bisnis internet ini harus melayani masyarakat Indonesia di luar Jawa. Bukan hanya Jabodetabek saja. 

"Walaupun cost investasi dan operasionalnya akan lebih mahal, tapi kalau BUMN kan agent of development, ya udah main aja ke situ," pungkasnya.  

 

Berita Lainnya