sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Marketplace, penyelamat UMKM di tengah lesunya ekonomi

Kanal penjualan melalui marketplace membantu UMKM meningkatkan penjualan di tengah ekonomi yang lesu.

Nurul Nur Azizah
Nurul Nur Azizah Kamis, 15 Apr 2021 12:20 WIB
Marketplace, penyelamat UMKM di tengah lesunya ekonomi

Setahun sudah dunia hidup di tengah pandemi Covid-19. Tak hanya berdampak pada kesehatan umat manusia, virus SARS-Cov-2 ini turut menyerang sendi perekonomian.

Semua sektor terdampak, tak terkecuali Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).

Namun, kehadiran marketplace telah membantu pelaku usaha untuk bangkit di saat pandemi. Saluran penjualan dari sejumlah kanal telah bergeser ke platform marketplace sejak Covid-19 masuk ke Indonesia. Salah satunya, lokapasar besutan anak bangsa; Tokopedia. Marketplace bercorak hijau ini menjadi platform paling diminati baik sebelum maupun saat pandemi.

Riset Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI) pada 2020, mencatat sebanyak 7 dari 10 pelaku usaha di Tokopedia mengalami kenaikan volume penjualan dengan median sebesar 133%.

Bertemakan “Bertahan, Bangkit, dan Tumbuhnya UMKM di Tengah Pandemi melalui Adopsi Digital”, riset tersebut menunjukkan kolaborasi antara Tokopedia dan masyarakat telah memberikan dampak besar untuk perekonomian Indonesia saat pandemi.

Pelaku usaha yang perekonomiannya terdampak pandemi Covid-19 mulai beralih ke platform online. Tokopedia menjadi salah satu platform pilihan pelaku usaha untuk tetap bertahan di masa krisis.

Ditilik dari data internal Tokopedia, terdapat peningkatan jumlah penjual dari 7,2 juta sebelum pandemi Januari 2020 lalu menjadi lebih dari 10 juta penjual saat ini.

Sebanyak 68,6% penjual yang bergabung dengan Tokopedia pada saat pandemi merupakan pencari nafkah tunggal di keluarga.

Sponsored

 

Ada berbagai alasan penjual menggunakan cara pemasaran online. Di antaranya alasan fleksibilitas waktu lebih baik (43,5%), kehilangan pendapatan karena pembatasan sosial berskala besar atau PSBB (41,6%), pencari nafkah kehilangan pendapatan (35,4%), berkurangnya pemasukan bisnis offline (31,1%), risiko lebih kecil dari bisnis offline (25,6%), dan diberhentikan dari pekerjaan sebelumnya (16%).

Frekuensi pesanan online juga terus meningkat. Rata-rata pertumbuhan frekuensi pesanan di Tokopedia saat pandemi di wilayah yang memberlakukan PSBB yaitu Januari-Februari sebesar 4,4%, Maret-April sebesar 53,7%, Mei-Juni sebesar 79,3% dan Juli-Agustus sebesar 109,3%.

Dengan aktivitas perdagangan online di berbagai provinsi, Tokopedia ikut berkontribusi meningkatkan pemerataan ekonomi di Indonesia lewat teknologi.

Riset LPEM FEB UI juga mengungkapkan tiga provinsi dengan peningkatan penjualan pelaku usaha tertinggi di Tokopedia, yaitu Nusa Tenggara Barat (NTB) (144,6%), Sulawesi Tengah (73,4%), dan Sulawesi Selatan (73,3%).

Sementara tiga provinsi dengan peningkatan jumlah pelaku usaha tertinggi di Tokopedia selama pandemi adalah Bali (66,2%), Yogyakarta (42,2%), dan DKI Jakarta (28,3%).

Tren belanja online kian meningkat

Tren belanja online di Tokopedia selama pandemi juga meningkat.

Salah satu pembeli di Tokopedia Nata (25) mengaku kebiasaannya berbelanja online meningkat selama pandemi. Berbeda halnya di masa sebelum pandemi ketika dia hanya sesekali membeli barang kebutuhan di Tokopedia. Saat pandemi, dia bahkan mengaku sangat bergantung membeli kebutuhan sehari-hari di aplikasi yang digawangi William Tanuwijaya itu.

“Dulu sebelum pandemi aku bahkan masih nebeng ke aplikasi teman untuk beli semisal casing HP, lemari bongkar pasang atau apa gitu yang perlu. Pas pandemi, sudah install sendiri dan jadi aktif beli online,” ujar Nata kepada Alinea.id, Rabu (14/4).

Aneka kebutuhan yang biasa dibeli oleh pegawai swasta di Jakarta tersebut, mulai dari kebutuhan kesehatan seperti masker, hingga vitamin. Selain itu, alat-alat kebutuhan elektronik yang menurutnya lebih terpercaya kalau beli di Tokopedia.

“Kalau di Tokopedia, biasanya memang pas untuk mencari barang-barang yang bagus. Beberapa kali mungkin harganya sedikit lebih tinggi dibandingkan marketplace lain, tapi aku merasa lebih aman karena tokonya lebih jelas,” katanya.

Hal serupa juga diungkapkan oleh Ola (28). Dia yang gemar mengejar diskonan buku, mulai lebih banyak beralih ke belanja online termasuk di Tokopedia. Selain aplikasinya yang nyaman digunakan, ia mengaku banyak menikmati keuntungan dengan potongan diskon saat pandemi yang ‘gila-gilaan’.

“Bisa sampai 70% kemarin diskonnya pas momen Big Bad Wolf (BBW). Yang harganya mestinya ratusan ribu rupiah jadi kayak puluhan ribu rupiah saja. Ya sudah, aku jadinya borong sekardus gede gitu,” kata pekerja lepas di industri kreatif ini.

Selain produk pengembangan diri seperti buku, Ola juga biasa membeli berbagai produk kecantikan seperti skincare. Ia beralasan belanja online di Tokopedia ini selain praktis, juga banyak tawaran diskon atau gratis ongkos kirim.

“Misalnya ada produk skincare yang aku pengen banget nih, terus ternyata dia juga ada di Tokopedia. Ya sudah, aku langsung masukin keranjang dan beli, karena lebih praktis saja sih,” ujarnya.

Tokopedia mencatat jumlah pengguna aktif terus mengalami pertumbuhan. Secara bulanan, pengguna yang semula lebih dari 90 juta sebelum pandemi (Januari 2020) menjadi lebih dari 100 juta saat ini.

Kepala LPEM FEB UI, Riatu Mariatul Qibthiyyah mengatakan belanja online tak dimungkiri, semakin menjadi alternatif masyarakat untuk memenuhi kebutuhan sekaligus mengurangi risiko penyebaran virus di tempat ramai.

Merujuk pada riset, dia menyebut rata-rata pengeluaran bulanan konsumen sebelum dan saat pandemi di Tokopedia meningkat 71%. Adapun transaksi online masyarakat tersebut untuk memenuhi kebutuhan kesehatan, hobi, dan tagihan yang meningkat saat pandemi.

“Platform belanja online Tokopedia semakin diandalkan berbagai kalangan. Konsumen baru dari kalangan ibu rumah tangga, pelajar, mitra aplikasi online, wirausaha tanpa karyawan dan pekerja lepas meningkat di masa pandemi,” ujar Riatu.

Sementara itu, Direktur Kebijakan Publik dan Hubungan Pemerintah Tokopedia, Astri Wahyuni mengungkapkan pandemi telah mempercepat transformasi digital di berbagai sektor.

Digitalisasi dan teknologi, kata dia, bukan lagi sekadar nilai tambah, tetapi telah berkembang pesat menjadi sebuah kebutuhan untuk menjawab tantangan pandemi.

“Tokopedia berkomitmen #SelaluAdaSelaluBisa untuk mempermudah masyarakat memenuhi kebutuhan harian hingga menciptakan peluang lewat pemanfaatan teknologi khususnya di tengah pandemi,” ujar Astri.

Pihak Tokopedia yakin, akan semakin banyak pihak yang lebih gencar berkolaborasi dalam membantu pegiat usaha di Indonesia, khususnya UMKM, untuk berkontribusi memulihkan ekonomi. Pasalnya, UMKM berkontribusi lebih dari 60% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia.

Tokopedia juga memberikan kesempatan bagi masyarakat secara luas, khususnya bagi perempuan, untuk memulai bisnis mereka. Persentase perempuan memulai usaha 5,4 poin lebih tinggi dibanding laki-laki.

“Indonesia, termasuk lebih dari 17.000 pulau di dalamnya, akan terus menjadi fokus utama dari Tokopedia. Oleh karena itu, Tokopedia berkomitmen menjadi lebih relevan untuk Indonesia.” pungkas Astri.

Dampak tren belanja online

Direktur Riset Center of Reform on Economics (Core) Indonesia Piter Abdullah menilai pandemi telah mendorong masyarakat untuk lebih menggunakan digital.

“Pandemi mempercepat gaya hidup digital, di mana kita melakukan berbagai aktivitas sosial ekonomi menggunakan layanan digital,” katanya kepada Alinea.id, Rabu (14/4).

Menurutnya, gaya hidup digital itu masih akan berlanjut meski pandemi berlalu. Karenanya, dia menyarankan semua pelaku usaha segera menyesuaikan layanan mereka menuju layanan digital.

“Mereka yang terlambat melakukan penyesuaian akan kehilangan daya saing. Demikian juga dengan UMKM,” tambahnya.

Infografik marketplace penyelamat UMKM. Alinea.id/Bagus Priyo.

Hal senada diungkapkan Direktur Program Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Esther Sri Astuti. Dia menegaskan, transformasi digital dengan membuka pasar di platform online menjadi keniscayaan.

Pasalnya, perilaku konsumen sudah mengalami perubahan menyusul perkembangan teknologi. Belum lagi pandemi Covid-19 yang telah menjalar ke seluruh dunia mempercepat perubahan perilaku konsumen tersebut.

Bahkan, menurutnya, pengertian pasar saat ini pun telah berubah. Bukan lagi tempat penjual dan pembeli bertemu secara fisik. Kini, penjual dan pembeli dapat melakukan transaksi di mana saja dan kapan saja melalui jaringan internet.

Dengan demikian, pelaku usaha yang dapat bertahan saat ini adalah mereka yang dapat memanfaatkan teknologi digital.

“Sekarang, untuk bisnis, belanja, orang sudah berpikir, untuk apa ke sana ke mari? Membuang waktu, buang bensin jauh-jauh. Mending beli online saja,” selorohnya saat berbincang dengan Alinea.id, Januari 2021 lalu.

Karena itu pula, ia menilai keberadaan marketplace menjadi penting. Terutama saat pandemi Covid-19 belum juga teratasi. Selain karena tidak mengharuskan pembeli untuk bertemu banyak orang, marketplace juga dinilai lebih aman dan efisien.

Berita Lainnya