sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id
Live Streaming

Musim dingin kripto, musiman atau bakal berkepanjangan?

Anjoknya harga-harga aset kripto disebabkan banyak hal dan diperkirakan masih berlangsung cukup lama.

Qonita Azzahra
Qonita Azzahra Senin, 20 Jun 2022 07:32 WIB
Musim dingin kripto, musiman atau bakal berkepanjangan?

Bitcoin (BTC) dan Ethereum (ETH), dua mata uang kripto paling populer di dunia mencapai puncak harga tertingginya pada 9 November 2021 lalu. Keduanya menguat bersamaan dengan cryptocurrency lainnya. Bersamaan dengan itu, kapitalisasi pasar (market cap) mata uang kripto sempat mencapai rekor tertingginya di sepanjang sejarah, yakni mencapai US$2,946 triliun. 

Mengutip CoinMarketCap, pada perdagangan Selasa (9/11/2021) harga Bitcoin sempat berada di kisaran US$68.530 per keping atau sekitar Rp1 triliun (kurs Rp14.730). Sedangkan Ethereum sempat mencapai US$4.812 per keping atau sekitar Rp70,9 juta pada perdagangan Senin (8/11/2021).

Ironisnya, hanya selang beberapa jam kemudian harga koin-koin tersebut terjerembab, hingga menyebabkan total kapitalisasi pasar mata uang kripto ikut susut. Tepat 24 jam setelahnya, yakni pada perdagangan 10 November 2021 total kapitalisasi pasar mata uang kripto hanya mencapai US$2,893 triliun.

Alih-alih membaik, tren penurunan terus terjadi hingga perdagangan Jumat (17/6/2022). Di mana pada hari itu, total kapitalisasi pasar mata uang kripto anjlok hingga hanya US$885,37 miliar atau setara dengan Rp482,39 juta. Setelah sehari sebelumnya sempat menguat hingga US$960,31 miliar.

Adapun harga tertinggi Bitcoin pada perdagangan Kamis (16/6) mencapai US$22.868,92 atau sekitar Rp336,86 juta. Bahkan, Bitcoin turun 9% menjadi USS19.217,81 dolar AS pada Sabtu (18/6), menurut data Coin Metrics. Ini adalah kejatuhan terdalam BTC setelah Desember 2020. 

Sementara harga tertinggi ETH kemarin mencapai US$1.246,14 atau setara dengan Rp18,35 juta. Sedangkan beberapa koin lainnya seperti Binance (BNB) mencapai harga tertingginya yang senilai US$236,33 atau sekitar Rp3,5 juta, Cardano (ADA) sebesar US$0,544 atau Rp8.013, serta Solana (SOL) US$35,71 atau Rp526.008.

Ilustrasi Pixabay.com.

Trader Tokocrypto Afid Sugiono mengungkapkan, terbangnya harga koin-koin tersebut pada perdagangan kemarin disebabkan oleh langkah Bank Sentral Amerika Serikat (AS) alias The Federal Reserve (The Fed) mengerek suku bunga acuan sebesar 0,75% menjadi 1,5% - 1,75%. 

Sponsored

“Kenaikan suku bunga tersebut ternyata berdampak pada berbagai aset berisiko, termasuk kripto,” katanya pada Alinea.id, Jumat (17/6).

Dalam kondisi normal, biasanya investor aset berisiko baik saham maupun mata uang kripto merespon kebijakan peningkatan suku bunga ini dengan penurunan harga. Namun, dengan tingginya tingkat inflasi di berbagai negara di dunia, pasar justru memberikan respon sebaliknya.

“Banyak trader yang mengambil posisi short untuk mencegah harga kripto anjlok karena sentimen The Fed,” imbuhnya.

Perlu diketahui, posisi short alias short position merupakan kondisi ketika investor atau trader memperkirakan bahwa harga aset akan berkurang di masa yang akan datang. Mereka pun membuat strategi khusus untuk memperoleh keuntungan. Salah satunya dengan short selling atau jual pendek.

Namun demikian, menghijaunya pasar kripto diperkirakan tidak akan bertahan lama. Setelah The Fed menaikkan suku bunga 0,75% menjadi 1,5% - 1,75%, harga mata uang kripto akan melanjutkan kembali tren penurunannya. 

Afid menilai, penurunan harga mata uang kripto yang telah terjadi sejak April ini karena ketakutan investor terhadap risiko resesi imbas inflasi tinggi dan juga pengetatan kebijakan moneter The Fed. 

Bear market (pelemahan pasar-red) akan terhenti jika The Fed melonggarkan kebijakan moneter hawkish, dengan menghentikan kenaikan suku bunga. Namun kondisi ini kemungkinan baru akan terjadi beberapa bulan ke depan,” kata dia.

Fenomena LUNA

Penurunan harga kripto tidak hanya disebabkan oleh ancaman inflasi, resesi, hingga ketakutan investor akan kebijakan hawkish Bank Sentral AS saja. Ada beberapa faktor lain yang membuat harga Bitcoin, Ethereum dan kawan-kawannya terperosok kian dalam, yakni kasus Terra LUNA yang terjadi pada pertengahan Mei yang kemudian disusul pula oleh kejatuhan Celcius.

Kejatuhan Terra LUNA bermula dari anjloknya harga koin asal Korea Selatan itu hanya dalam waktu 24 jam. Mengutip CoinMarketCap.com, koin Terra LUNA pada Rabu (11/5) dibuka di harga US$17,45 (Rp257.038) dan sempat menyentuh harga tertingginya di level US$19,17 (Rp282.374). 

Namun, pada pembukaan perdagangan hari berikutnya, harga Terra LUNA terjun bebas hingga menyentuh level US$1,07 (Rp15.761) dan kembali mengalami penurunan pada perdagangan Jumat (13/5) menjadi senilai US$0,00614 atau sekitar Rp90,44.

Sedangkan harga stablecoin Terra LUNA atau yang lebih dikenal dengan TerraUSD (UST) mulai jatuh pada Sabtu (7/5). Di mana pada saat itu harga UST hanya menyentuh level US$0,9969 atau sekitar Rp14.684 dari yang sebelumnya seharga US$0,9996 atau Rp14.724.

Anjloknya harga Terra LUNA jelas mengagetkan banyak investor di dunia. Sebab, di awal kemunculannya pada 2018 lalu, si empunya Terra LUNA Do Kwon menciptakan Terra LUNA menggunakan jaringan stablecoin. Mata uang kripto yang khusus dibuat untuk menawarkan harga stabil dan didukung aset cadangan lainnya yang bernilai tetap atau stabil, seperti mata uang negara (fiat money) berupa dolar AS, euro atau bahkan emas.

Stablecoin dirancang untuk mempertahankan stabilitas pembayaran yang menggunakan uang kripto pada mata uang tertentu, biasanya dolar AS. Tetapi stabilitasnya 'fiksi' karena 'cadangan' untuk stablecoin ini hampir selalu merupakan mata uang non-AS,” ungkap pakar Cointelegraph Sam Bourgi, mengutip geeksultd.com, Kamis (16/6).

Pasca kolapsnya Terra LUNA, Do Kwon pun berusaha memulihkan ekosistem Terra dengan meluncurkan jaringan Terra baru bernama LUNA 2.0 (LUNA). Kemudian, blockchain dan token Terra lama diubah menjadi Terra Classic (LUNC) dan UST Classic (USTC).

Ilustrasi Pixabay.com.

Saat pertama dikeluarkan, LUNA 2.0 bernilai US$14,13 atau sekitar Rp208,134 per koin dan mencapai nilai tertingginya kira-kira 20 menit kemudian, di level US$18,87 atau Rp277,955. Namun, tidak lama kemudian LUNA jatuh hingga lebih dari 70%. Sehingga diperdagangkan di harga US$4,20 atau setara Rp61.866 per koin. Pada perdagangan Jumat (18/6), LUNA dihargai sebesar US$2,23 (Rp32.847), turun 2,41% dari hari sebelumnya yang senilai US$2,27 (Rp33.437). 

“(Perdagangan-red) LUNA baru tidak berjalan baik karena investor sudah cenderung tidak percaya lagi bahwa token baru LUNA dapat lebih baik dibandingkan koin LUNA yang lama,” jelas Chief Executive Officer (CEO) Triv Gabriel Rey, saat dihubungi Alinea.id, Kamis (16/6).

Bak jatuh ditimpa tangga, kepercayaan investor kembali diuji dengan krisis likuiditas yang menimpa perusahaan peminjaman kripto asal AS Celcius Network Ltd. Dalam praktiknya, pelanggan yang menyimpan kripto (staking) di platform akan memperoleh bunga cukup tinggi. 

Adapun koin yang disimpan di platform ini salah satunya adalah Ethereum 2.0 (ETH2) alias Serenity, blockchain Ethereum yang telah diperbarui. Dengan kondisi itu, Celcius kemudian menggunakan aset kripto tersebut untuk dipinjamkan kepada pelanggan lain untuk memperoleh keuntungan.

Sementara itu, kembali hancurnya pasar kripto terjadi pada Senin (13/6) pagi, usai Celcius mengumumkan bahwa pihaknya menghentikan sementara seluruh penarikan, tukar menukar aset kripto dengan aset kripto lainnya alias swap dan transfer antar akun. Alasannya, untuk menghindari kerugian makin dalam, imbas kondisi pasar kripto yang makin melemah. Selain itu, langkah ini juga dimaksudkan untuk menstabilkan likuiditas dan aset perusahaan.

“Kasus Celcius ini membuat pasar kripto semakin hancur, karena kasusnya bisa dikatakan dua kali lebih besar dari kasus Terra LUNA kemarin,” katanya.

Bagaimana tidak, sejak Mei lalu harga berbagai mata uang kripto termasuk BTC dan ETH kompak memerah, seiring dengan kian memburuknya kondisi makroekonomi global. Sebagai salah satu lender (peminjam) kripto terbesar di dunia yang memegang jumlah Ethereum cukup besar, anjloknya harga koin yang dirilis perdana pada 30 Juli 2015 ini jelas berdampak pada Celcius.

Apalagi, dalam menjalankan bisnisnya Celcius menawarkan suku bunga tertinggi di pasar untuk Ethereum. Namun demikian, Celcius tidak mendukung pinjaman kripto konsumen dengan Ethereum mereka sendiri, melainkan dengan mengandalkan ETH2.

Sementara itu, mulai Senin (23/5) lalu sampai saat ini harga ETH nampak terus melanjutkan tren penurunan. Dengan harga pada hari itu adalah sebesar US$2.042,34 (Rp30.08 juta) dan merosot 2,38% di perdagangan hari selanjutnya, yang hanya senilai US$1.972,39 (Rp29,05 juta). Sedangkan pada perdagangan Jumat (17/6), harga ETH berada di level US$1.094 per koin (Rp16,11 juta), turun 11,10% dari hari sebelumnya dan 38,93% dalam waktu sepekan.

“Karena harga Ethereum yang terus turun, investor jadi was-was sehingga mereka mulai menjual asetnya. Dengan aksi jual besar-besaran ini Celcius terpaksa menjual Ethereum dengan harga murah,” jelas Gabriel.

Langkah ini tidak bisa dilakukan terus-terusan, maka jadi lah Celcius menghentikan transaksi penarikannya. Belum lagi, Celcius juga terancam kehilangan asetnya yang bernilai sekitar US$500 juta. Sebab, pinjaman terbesar kedua platform ini bisa jadi akan dilikuidasi segera.

Mengutip beincrypto.com, Rabu (15/6), Celsius telah meminjam 278 stablecoin dari MakerDAO. Untuk menjamin pinjaman tersebut, baik Celcius maupun MakerDAO sepakat untuk menggunakan 18.000 BTC atau senilai US$480 juta (Rp7,07 triliun). Angka pinjaman ini 2,5 kali lipat lebih banyak daripada pinjaman milik lender kedua, Nexo. 

Perlu diketahui, MakerDAO sendiri merupakan platform fasilitas kredit pinjaman aset kripto yang menyalurkan pinjaman dengan tingkat suku bunga tertentu kepada platform lainnya. Karena nilai mata uang kripto berfluktuasi alias naik turun, MakerDAO lantas menggunakan stablecoin bernama DAI untuk menentukan tingkat suku bunga pinjaman dan jumlah pinjaman yang dapat dikembalikan.

Sementara itu, dengan jumlah tersebut, ketika harga Bitcoin menyentuh US$22.500 (Rp331,42 juta), seluruh posisi pinjaman Celcius akan terlikuidasi, yang mana target harga itu sudah sangat dekat. 

“Posisi seperti itu sangat berisiko,” lanjut Gabriel.

Pasalnya, ketika pinjaman diambil, itu hanyalah snapshot dari jaminan. Jika harga jaminan, dalam hal ini BTC berubah, maka hanya ada dua opsi yang mungkin untuk dilakukan, yaitu menambahkan lebih banyak jaminan untuk didepositkan atau melunasi utang.

Celsius harus menarik Bitcoin dari exchange lain untuk menambahkannya ke jaminan yang sudah ada di MakerDAO. Nilai jaminan tersebut kurang lebih sebesar 1.501 BTC. Melalui proses ini, mereka yang bertanggung jawab mampu mendorong harga likuidasi turun menjadi sekitar US$17.000 per BTC.

“Makanya kasus Celcius ini dikhawatirkan akan memberikan dampak lebih besar kepada pasar kripto daripada LUNA. Dan dengan kondisi pasar kripto saat ini, bisa dibilang kalau crypto winter sudah mulai,” ujarnya.

Musim terdingin

Crypto winter atau musim dingin kripto merupakan istilah untuk anjloknya nilai mata uang kripto dalam waktu yang cukup lama. Musim dingin kripto pernah terjadi pada 2017-2018, saat Bitcoin anjlok hingga 80%. Bahkan, hingga April 2019 nilai Bitcoin stagnan dan cenderung mengalami penurunan. Saat itu, ribuan pekerja di bidang mata uang digital terkena pemutusan hubungan kerja (PHK).

“Dengan kondisi ekonomi dunia saat ini ditambah dengan invasi Rusia ke Ukraina yang belum juga berakhir, tren penurunan harga kripto masih akan terjadi sampai beberapa waktu ke depan,” ujar Praktisi Investasi Desmond Wira, kepada Alinea.id, Rabu (15/6).

Bahkan, menurut salah satu pendiri dari crypto exchange terkemuka Du Jun, kenaikan harga Bitcoin berikutnya tidak akan terjadi sampai tahun 2024. Sebaliknya, kemungkinkan momen tersebut akan terjadi setelah halving keempat Bitcoin, yang diperkirakan pada Juli 2024. 

Du juga menambahkan, hingga saat ini sangat sulit untuk bisa membuat prediksi mengenai pasar kripto dengan tepat, termasuk potensi crypto winter di tahun 2022. Pasalnya, ada beberapa faktor lain yang dapat ikut berkontribusi, seperti persoalan geopolitik, pandemi Covid-19, dan berbagai persoalan lainnya.

Ilustrasi Alinea.id/Aisya Kurnia.

Sementara itu, CEO Indodax Oscar Darmawan meyakini, jika anjloknya harga kripto beberapa waktu belakangan merupakan bagian dari kurva empat tahunan yang sudah wajar terjadi. Jika dilihat secara historikal, apa yang terjadi sekarang pernah dialami oleh Bitcoin di tahun 2018. 

Di mana di tahun 2017 Bitcoin menembus all time high -harga tertinggi yang dicapai oleh sebuah aset digital sejak dicatat pertama kali- dan di 2018 nilainya cukup anjlok sampai ada koreksi sebesar hampir 80%.

“Biasanya, yang terjadi di pasar kripto setelah mencapai all time high akan ada koreksi yang mendalam yang diawali oleh pola sideway turun (kondisi pasar yang datar, cenderung turun-red),” bebernya pada Alinea.id, Jumat (17/6).

Oleh karenanya, Oscar yakin jika perlemahan pasar kripto akan segera berakhir dan harga Bitcoin serta aset kripto lainnya perlahan-lahan akan naik, seiring dengan optimisme pasar terhadap pemulihan ekonomi, baik di dalam negeri maupun dunia.

 

Berita Lainnya
×
tekid