close icon
Scroll ke atas untuk melanjutkan
Ilustrasi Alinea.id/Aisya Kurnia.
icon caption
Ilustrasi Alinea.id/Aisya Kurnia.
Bisnis
Kamis, 23 Juni 2022 07:57

Pasar kripto anjlok: Menyerah atau serok di harga murah?

Investor harus berhati-hati dan menyiapkan strategi jitu menghadapi musim dingin kripto.
swipe

Euforia aset kripto di masa pandemi menemui batu sandungannya. Pasar kripto global masih terus mengalami tren penurunan atau sering disebut sebagai bearish sejak November 2021. Meski sempat menguat pada April lalu, harga mata uang kripto kembali terjerembab dan berjalan di zona merah hingga hari ini.

Para analis pun sepakat masa ini memasuki musim dingin kripto (crypto winter) yang ditandai dengan anjloknya harga-harga koin-koin besar seperti Bitcoin, Ethereum, dan lainnya. Pengetatan kebijakan Bank Sentral Amerika Serikat (AS) The Federal Reserve (The Fed) menjadi salah satu penyebabnya.

“Jika The Fed terus meningkatkan suku bunga acuannya, resesi akan segera terjadi, penurunan ekuitas, serta membawa pasar kripto dalam kejatuhan,” kata Wakil Presiden WazirX Rajagopal Menon, kepada FinancialExpress.com, seperti dikutip Alinea.id, Sabtu (18/6).

Rabu (15/6) pekan lalu, The Fed resmi menaikkan suku bunga acuannya (Fed Funds Rate) sebesar 75 basis poin (bps), menjadi di rentang 1,5%-1,75%. Ini adalah kali ketiga bank sentral AS menaikkan suku bunganya sejak Maret 2022, setelah inflasi negara tersebut melonjak hingga 8,6% pada bulan lalu, tertinggi dalam 41 tahun terakhir.

“(Kenaikan suku bunga-red) ini bukan yang terakhir, karena The Fed diperkirakan menaikkan suku bunga sampai 6 kali untuk menekan inflasi,” ujar Direktur PT TRFX Garuda Berjangka Ibrahim Assuaibi kepada Alinea.id, Selasa (21/6).

Benar saja, jika menilik plot dot alias grafik proyeksi suku bunga The Fed, bank sentral yang digawangi Jerome Powell ini memprediksi kenaikan suku bunga acuan menjadi 3,4% pada Desember nanti dan 3,8% pada akhir 2023. Untuk mencapai target tersebut, Powell dalam konferensi pers Rabu lalu telah mengisyaratkan akan kembali mengerek suku bunga sebesar 0,5 bps-0,75 bps, menjadi di kisaran 2%-2,5% pada Juli mendatang.

Ilustrasi Pixabay.com.

Dengan langkah agresif The Fed ini, Ibrahim memperkirakan jika ke depannya harga Bitcoin yang merupakan pelopor mata uang kripto dapat menyentuh level US$19.000 atau sekitar Rp281,2 juta (kurs Rp14.800). Ethereum yang merupakan koin dengan kapitalisasi pasar terbesar kedua di dunia bahkan mengalami penurunan lebih dalam, yakni kurang dari US$1.000 atau setara dengan Rp14,8 juta per keping.

“Kalau Bitcoin dan Ethereum segitu, harga koin yang lain bisa lebih (rendah-red) dari itu,” imbuhnya.

Melihat pasar kripto yang makin lemah, ditambah adanya potensi kenaikan suku bunga The Fed, Ibrahim pun menyarankan agar investor kripto dapat wait and see -menunggu dan melihat- perkembangan dari kondisi pasar kripto. Tujuannya tak lain agar investor tidak salah langkah dalam mengambil keputusan dalam pembelian aset kripto.

“Karena aset kripto itu sangat volatile (mudah berubah-red), bahkan lebih volatile dari valuta asing, saham, atau aset berisiko lainnya. Selain itu juga tidak ada underlying-nya,” imbuhnya.

Karenanya, ketika harga Bitcoin dan kawan-kawan semakin jatuh, kerugian yang akan diderita oleh para investor kripto praktis akan semakin besar pula. Tak heran, potensi kerugian ini membuat banyak investor memindahkan dananya dari kripto ke aset yang lebih aman. Sebut saja, obligasi pemerintah atau sekadar menyimpan uangnya di lembaga keuangan tradisional seperti perbankan.

“Karena kripto jatuh, mereka keluar dan masuk ke aset yang menguntungkan. Dengan kenaikan suku bunga yang masih akan terus terjadi, aset yang menguntungkan jelas obligasi pemerintah AS,” kata Ibrahim.

Riset pasar

Namun demikian, tidak ada salahnya bagi investor yang ingin tetap bertahan di pasar kripto. Apalagi jika melihat kondisi yang terjadi pada 2017-2018 lalu, pelemahan pasar kripto akan diikuti oleh kenaikan harga Bitcoin dan token-token lainnya.

“Hanya saja, yang menjadi catatan ketika investor tetap memilih bertahan, mereka harus aktif melakukan riset pasar untuk mengetahui peluang serta token apa saja yang sekiranya masih bisa memberi keuntungan di tengah kesulitan dan untuk menghindari kerugian di masa mendatang,” beber VP Marketing Tokocrypto Aditya Raflein, kepada Alinea.id, Selasa (21/6).

Dengan berbekal hasil riset tersebut, investor dapat melakukan strategi Dollar Cost Averaging (DCA) alias rata-rata biaya dolar, yakni melakukan investasi regular dalam jumlah lebih kecil secara berkala. Misalnya saja, investor melakukan pembelian Bitcoin senilai Rp50.000 setiap minggu, dalam waktu satu tahun.

Upaya tersebut dapat dikombinasikan dengan strategi Buy The Dip atau melakukan pembelian aset ketika harga turun atau lebih tepatnya ketika harga tenang. Untuk mendapatkan keuntungan secara bertahap, investor dapat menjual aset kripto yang dimilikinya dengan cepat saat situasi pasar bullish dan harga naik.

“Strategi ini dapat menjadi peluang yang menguntungkan, ketika market kembali bull run,” katanya.

Harga kripto yang sedang terdiskon seperti saat ini dapat dipandang sebagai langkah tepat bagi para investor dan trader yang ingin melakukan investasi jangka panjang untuk menambah portofolio kripto mereka. Sedangkan untuk investor yang berinvestasi jangka pendek, CEO Indodax Oscar Darmawan menyarankan agar mereka membeli aset token derivatif yang bergerak terbalik.

Ilustrasi Pixabay.com.

Sebab, ketika harga Bitcoin, Ethereum dan kripto sedang turun, maka harga token derivatif ini akan naik. Beberapa token derivatif yang dimaksud, misalnya seperti HEDGE dan BEAR yang merupakan short token dari Bitcoin, BNBHEDGE yang merupakan short token dari BNB, ETHHEDGE yang merupakan short token dari Ethereum, XRPHEDGE yang merupakan short token dari Ripple.

“Jadi, ketika harga Bitcoin, ETH, BNB dan Ripple sedang turun maka token short tersebut akan naik jadi trader bisa meraup untung meskipun market sedang bearish,” ungkap Oscar.

Kripto unggulan

Strategi lain yang dapat diambil oleh investor ialah dengan membeli kripto blue chip. Berbeda dari saham yang status blue chip-nya dapat dilihat dari fundamental perusahaan melalui analisis laporan keuangan dan perusahaan, kripto blue chip dapat dilihat dari penerbit proyek dan teknologinya. 

Berdasarkan Coinvestasi, kripto blue chip memiliki ciri-ciri relatif sama dengan saham. Seperti kapitalisasi pasar besar, volume dan likuiditas tinggi, umur dewasa, dan kegunaan dari token atau koin proyeknya.

“Gampangnya, 10 koin dengan kapitalisasi pasar terbesar di CoinMarketCap itu bisa disebut sebagai kripto blue chip,” jelas Founder dan Chief Excecutive Officer (CEO) Triv Gabriel Rey, kepada Alinea.id, Senin (20/6).

10 Aset kripto dengan kapitalisasi pasar terbesar (Juni 2022)
Aset kripto Kapitalisasi Pasar
Bitcoin (BTC) US$565 miliar
Ethereum (ETH) US$219 miliar
Tether (USDT) US$72 miliar
US Dollar Coin (USDC) US$54 miliar
Binance Coin (BNB) US$49 miliar
XRP US$19 miliar
Cardano (ADA) US$18 miliar
Binance USD (BUSD) US$18 miliar
Solana (SOL) US$14 miliar
Dogecoin (DOGE) US$11 miliar

Sumber: Forbes, Coinmarketcap.com

Namun demikian, dari koin-koin yang ada, kripto blue chip yang paling aman tidak lain adalah BTC dan ETH. Sebab, kedua koin tersebut memiliki kapitalisasi pasar dan juga volume tertinggi, di antara mata uang kripto lainnya.

“Untuk Ethereum sendiri di Triv dapat di-stakcing dan mendapatkan dividen dari ethereum sekitar 4%-6% per tahun,” katanya.

Berbeda dengan Triv, exchanger Kripto, Zipmex menyediakan fitur ZipLock untuk melakukan stacking atau membeli dan menyisihkan atau menyimpan sejumlah aset kripto. Di dalam fitur tersebut, investor dapat melakukan stacking pada aset blue chip yang terdapat di Zipmex, seperti Bitcoin, Litecoin, hingga Ethereum. 

Sementara untuk yang memiliki profil risiko rendah dan cenderung berinvestasi ke stable coin, ZipLock mengakomodir stacking untuk USDT dan USDC. USDT dan USDC adalah stable coin yang nilainya berbasis pada dolar AS. Stacking juga menjadi salah satu alternatif investasi yang menguntungkan investor di tengah kondisi pasar yang cenderung tidak menentu ini. 

“Jadi, sambil menunggu kondisi pasar membaik, investor bisa melakukan stacking untuk mendapatkan untung,” jelas Head of Growth Zipmex Indonesia Siska Lestari, dalam keterangannya yang diterima Alinea.id beberapa waktu lalu.

Ikut terkoreksi

Di sisi lain, koreksi yang terjadi pada pasar kripto global berdampak pula terhadap pasar kripto nasional. Meski selama Mei hingga Juni rata-rata transaksi kripto pada platform jual beli aset kripto Tokocrypto mengalami peningkatan hingga 15%, pada kisaran US$300 juta-US$400 juta per minggu, namun ada kalanya volume transaksi kripto mengalami koreksi.

Ilustrasi cryptocurrency. Pixabay.com.

Bahkan, beberapa hari lalu sempat menyentuh volume transaksi terendahnya, yang hanya senilai US$15 juta per hari. Padahal, jika dibandingkan dengan kondisi normal transaksi di Tokocrypto dapat mencapai US$50 juta-US$70 juta per hari.

“Tapi 2 sampai 3 hari terakhir, sudah meningkat kembali di level US$25 juta-US$30 juta per hari,” ungkap Chief Operating Officer (COO) Tokocrypto Teguh Kurniawan Harmanda, kepada Alinea.id, Jumat (17/6).

Sementara itu, dalam kesempatan lain Head of Public Relation Tokocrypto Anindita Sekar Jati mengatakan, agar tidak semakin terdampak kondisi pasar kripto global, industri atau dalam hal ini adalah platform jual beli aset kripto (exchanger) dapat mengantisipasinya dengan memperluas jangkauan pasar. Sebagaimana kita tahu, jumlah investor paling banyak didominasi oleh mereka yang berdomisili di Jabodetabek.

Perlu diketahui, hingga akhir Februari 2022, jumlah investor mata uang kripto telah mencapai 12,4 juta orang. Jumlah ini bertambah 532.102 orang dibandingkan tahun 2021 dengan transaksi aset kripto hingga periode tersebut mencapai Rp83,8 triliun.

“Di Jabodetabek market saturation-nya sudah sangat terasa, sehingga perluasan edukasi ke kota kota non-metro menjadi penting,” ujar Anindita saat dihubungi Alinea.id, Kamis (16/6).

Lebih lanjut, yang dimaksud sebagai perluasan jangkauan pasar, menurutnya lebih mengarah kepada upaya untuk membangun komunitas serta edukasi. Diharapkan ketika pasar sudah mulai membaik nantinya, komunitas-komunitas baru yang sudah dilengkapi dengan ilmu serta support system yang mumpuni membuat investor siap. Terutama ketika pasar kripto mulai bangkit.

Crypto winter ini bukan sebagai sesuatu yang exclusive terjadi pada industri kripto saja. Keadaan market in general memang sedang loyo, tidak hanya kripto, saham pun demikian,” katanya.

Sebaliknya, ini merupakan sebuah periode di mana proyek-proyek kripto dengan teknologi dan use cases atau nilai guna tinggi akan tetap bertahan. Sebaliknya, proyek-proyek kripto minim manfaat dengan utility akan tersaring secara otomatis.

“Itu juga kenapa Tokocrypto memperluas ekosistem ke program-program lain, salah satunya adalah TokoLabs program inkubasi dan akselerasi startup web 3.0, dengan fokus ke startup dengan beragam solusi berbasis blockchain,” imbuh Anindita.

Ilustrasi Pixabay.com.

Terpisah, Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Nailul Huda mengatakan, ketika kondisi pasar kripto sedang terpuruk, keamanan para investor menjadi satu hal yang sangat perlu diperhatikan. Salah satu caranya adalah dengan merealisasikan terbentuknya bursa kripto yang telah lama tertunda.

Layaknya yang terjadi pada bursa saham yang dapat melakukan pembatasan minimum dan maksimum (auto reject) ketika harga saham mengalami lonjakan terlalu tinggi atau sebaliknya, dengan adanya bursa kripto pun diharapkan dapat melakukan hal yang sama. 

“Misalnya, kalau harga kripto sudah terlalu tinggi akan ada auto reject atas dari bursa kripto. Sebaliknya, kalau harga jauh terlalu dalam akan ada ARB (auto reject bawah-red). Ini sangat perlu saat ini karena harga sangat volatile,” kata Nailul saat dihubungi Alinea.id, Rabu (15/6).

Menanggapi permintaan tersebut, Menteri Perdagangan baru Zulkifli Hasan mengungkapkan bahwa saat ini pihaknya tengah mempersiapkan kembali pembentukan bursa kripto. Menurutnya, pembentukan bursa kripto membutuhkan waktu yang tidak sebentar lantaran harus benar-benar memperhatikan keamanan investor nantinya.

Sehingga, pemerintah dan pihak-pihak yang berkaitan saat ini tengah mengecek kelengkapan dari bursa kripto itu sendiri. Mulai dari syarat kelengkapan, teknis, administrasi, prosedur validasi, sampai pengecekan entitas perusahaan jual beli kripto yang nanti akan bersama-sama menjadi bagian stakeholder di bursa. 

“Itu mungkin proses, saya hanya bisa bilang sedang divalidasi dan mudah-mudahan secepatnya bisa di-launching. Target mudah-mudahan tahun ini,” ungkap Zulkifli belum lama ini.

Dalam kesempatan terpisah, Kepala Biro Pembinaan dan Pengembangan Pasar Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti) Tirta Karma Sanjaya mengungkapkan, belum lama ini pihaknya telah menerima jawaban kesiapan dari calon bursa kripto. Oleh karenanya, untuk memastikan kesiapan tersebut, pihaknya bakal melakukan pengecekan fisik kantor bursa kripto tersebut.

Di saat yang sama, Bappebti juga masih terus menunggu progres kelanjutan dari pembentukan calon kliring dan kustodi yang juga belum usai sampai saat ini. “Untuk memastikan  kesiapan sistem di bursa agar terintegrasi dengan ekosistem lainnya kliring kustodi dan para pedagang,” ungkapnya, saat dihubungi Alinea.id, Selasa (21/6).

Sementara itu, di tengah kondisi pasar yang tidak menentu dan cenderung melemah, Tirta mengingatkan agar para investor lebih memperkuat literasi mereka terkait industri kripto. Selain itu, perlu juga bagi para investor untuk memastikan bahwa mereka telah menanamkan modalnya di tempat yang terpercaya atau dalam hal ini adalah perusahaan exchanger yang sudah diketahui sepak terjangnya.

“Karena banyak oknum yang manfaatkan situasi, sehingga masyarakat terjebak investasi ilegal dengan iming-iming keuntungan tinggi,” pungkasnya.

Ilustrasi Alinea.id/Aisya Kurnia.
 

img
Qonita Azzahra
Reporter
img
Kartika Runiasari
Editor

Untuk informasi menarik lainnya,
follow akun media sosial Alinea.id

Bagikan :
×
cari
bagikan