sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Perempuan pegiat UMKM: Membuka peluang kesetaraan dalam bisnis

Perempuan pegiat usaha di marketplace mampu memberdayakan ibu rumah tangga, kaum difabel serta lanjut usia dalam membangun bisnis.

Kartika Runiasari
Kartika Runiasari Rabu, 27 Apr 2022 15:34 WIB
Perempuan pegiat UMKM: Membuka peluang kesetaraan dalam bisnis

Tidak mudah bagi Difansa Rachmani meramu makanan bagi anak sulung dan anak keduanya yang didiagnosa autis. Begitu banyak pantangan bahan makanan hingga cara memasak membuat ibu empat anak ini harus memutar otak.

“Tahun 2017 sudah dapat diagnosisnya, kami cari infonya bagaimana mereka bisa hidup lebih baik karena perilakunya beda dengan anak lain,” sebutnya saat berbagi kisah dalam ‘Virtual Media Briefing: Hari Kartini, Tokopedia Dorong Kesetaraan Peluang untuk Bersama Pulihkan Ekonomi Indonesia’, Kamis (21/4).

Difa kemudian bergabung dengan komunitas orang tua anak berkebutuhan khusus (ABK). Dari situ ia mengetahui ternyata anak autis tidak hanya membutuhkan terapi, tetapi juga diet khusus agar tidak mengakibatkan perubahan perilaku.

“Untuk makanan harus dijaga, misalnya bikin keripik goreng dengan minyak kelapa. Alat masak juga harus yang dari kaca atau stainless steel, karena ada residu yang bisa sebabkan mereka lebih hiperaktif jika menggunakan alat masak lain,” ungkapnya.

Hasil diskusi dengan para orang tua ABK akhirnya banyak melahirkan resep-resep penganan dan minuman yang ‘aman’ bagi ABK. Hingga tercetuslah ide untuk membuat toko khusus yang menjual makanan bagi special needs. 

“Kami berharap bisa beri kesempatan yang sama untuk ABK agar bisa mengakses produk makanan dan minuman yang sesuai kebutuhan,” tambah warga Depok, Jawa Barat ini.

Pada tahun 2020, Difa beserta para ibu-ibu lainnya akhirnya mulai berjualan makanan special needs di Tokopedia. Terdapat 200 varian produk makanan baik camilan maupun minuman untuk para ABK.

Salah satu penganan Diet Special Needs. Dokumentasi.

Sponsored

“Semua menggunakan bahan-bahan khusus, pantangan kami enggak boleh gluten, gula pasir, kedelai, telur, MSG (monosodium glutamat), banyak sekali pantangannya,” bebernya.

Produk seperti kue semprit, kue semprong, keripik kentang menjadi best seller. Tidak hanya menjual makanan atau camilan jadi, toko ‘Diet Special Needs’ ini juga menjual bumbu, kaldu, serta bahan baku makanan non-gluten. Meski harganya lebih mahal dibanding produk biasa sejenis, namun Difa memastikan produknya sangat terjangkau.

“Hikmahnya jual produk ini adalah bisa bantu masyarakat luas karena masih sangat jarang yang menjual makanan dengan pantangan,” sebutnya.

Pihaknya bahkan membuka opsi untuk special request bagi pelanggan dengan pantangan yang begitu banyak. Pada akhirnya, produk ‘Diet Special Needs’ juga diburu oleh para penderita penyakit seperti diabetes, kanker, hipertensi yang memiliki banyak pantangan makanan untuk alasan kesehatan.

Difa menyebut pihaknya memiliki beberapa dapur masak dan 10 karyawan. Termasuk sang ibunda yang dilibatkan pada proses accounting. “Usia beliau 60-an tetap diberdayakan karena banyak kontribusinya dan memang perempuan lebih telaten apalagi masalah makanan dan minuman, jadi komunitas banyak berdayakan ibu rumah tangga,” cetusnya.

Cerita senada juga dikisahkan Yaniar Fernanda (Nia), asal Yogyakarta. Dengan jenama ‘Dekayu’ Nia memberdayakan sejumlah perajin kayu sekaligus ibu rumah tangga di Dusun Gemawang, Desa Putat, Gunungkidul. Mereka menghasilkan berbagai peralatan makan serta dekorasi rumah khusus dari kayu jati dan serat alam lainnya.

Usaha yang dibangun sejak 2017 itu fokus pada memberi nilai tambah produk kayu yang jamak ditemui di pasar Malioboro atau Beringharjo, Yogyakarta. “Itu kan kerajinan, tapi dilihat sebagai dekoratif atau kerajinan. Kami ingin tambah value dari sisi fungsional biar produk enggak hanya jadi hiasan dekoratif tapi bisa digunakan sehari-hari,” sebutnya.

Awalnya, Nia dan rekannya membuka toko offline dari hasil pengembangan produk kayu bernilai fungsional. Namun, baru saja toko dibuka tahun 2019, awal 2020 langsung terkena dampak pandemi.

“Karena itu, kami memperkenalkan produk secara digital lalu join digital ke Tokopedia tahun 2020 agar kanal penjualan menjadi lebih luas. Kami bertahan karena digital, karena toko (offline) sama sekali tidak ada kunjungan,” kisahnya.

Kini, Dekayu memberdayakan para wanita ibu rumah tangga di Wonosari, Yogyakarta sebagai perajin di proses finishing. Sementara para perajin pria terlibat dalam proses pembentukan kayu raw material.

Founder dan Marketing Director Dekayu, Yaniar Fernanda. Dokumentasi.

“Perempuan perannya sangat besar karena telaten. Saat ini terdapat hampir 50% dari total perajin yang berkarya di Dekayu merupakan perempuan,” imbuh Nia.

Lonjakan omzet

Keputusan bergabung dalam ekosistem digital memang tak pernah salah bagi Nia maupun Difa. Bisnis keduanya berhasil ‘selamat’ melalui ujian pandemi karena pasar tak lagi terbatas.

Menurut Nia, bisnis yang semula ia jalani via media sosial akhirnya makin menanjak saat bergabung dengan Tokopedia. Pada awalnya, Nia langsung menuju Pusat Edukasi Seller untuk menggali strategi berjualan online. 

Mulai dari upload foto produk, penggunaan fitur voucher toko untuk follower baru hingga mengklaim diskon, TopAds, dan fitur Bebas Ongkir. “Kami aktifkan semua jadi penjualannya makin luas,” sebutnya.

Terbukti, hingga saat ini produk Dekayu sudah menjangkau penjualan ke seluruh Indonesia. Mereka juga mampu membangun kepercayaan pelanggan karena masuk dalam ekosistem Tokopedia. 

Menyambut bulan Ramadan, Nia pun sudah berancang-ancang sejak jauh hari dengan inovasinya yakni hampers Ramadan. Produk kitchen ware didesain secara estetik untuk produk hantaran menyambut Idulfitri. Ia pun bergabung dengan kampanye Parsel Ramadan Tokopedia sejak pertengahan Maret lalu.

Nia juga mengaku Ramadan mendatangkan berkah tersendiri. Pada 2021 sebagai tahun pertama Ramadan Dekayu di Tokopedia, transaksinya meningkat hingga empat kali lipat. 

“Minggu-minggu ini paling genting bagi tim Dekayu, on fire banget layani customer yang cari hampers last minute,” ungkapnya.

Produk hampers Dekayu laris manis saat Ramadan. Dokumentasi.

Nia pun membagikan kiat agar jualan makin laris manis di Tokopedia. Caranya dengan mengaktifkan semua fitur promosi yang ditawarkan demi menggaet lebih banyak pelanggan. Pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) juga harus peka membaca tren kebutuhan konsumen dan menyiapkannya sejak jauh hari.

Sementara itu, Diet Special Needs bahkan mengaku mengalami lonjakan pembelian hingga 100% berkat fitur TopAds. “Awalnya kami tidak menggunakan TopAds sama sekali. Tapi setelah pakai, jadi naik 100% mungkin karena ditongolin terus jadi Alhamdulillah sampai sekarang naik 10 kali lipat dibanding sebelum menggunakan TopAds,” beber Difa.

Di bulan Ramadan, Difa dan kawan-kawan pun kebanjiran order. Bahkan, timnya harus selalu siap siaga menjawab chat di kala tengah malam atau waktu sahur. Biasanya, Difa mencatat kenaikan penjualan hingga 15% di bulan suci ini. Bahkan, produknya pun sudah menjangkau pengiriman ke seluruh wilayah Indonesia. 

Komitmen kesetaraan

Sementara itu, VP of Seller Experience Tokopedia Puput Hidayat menilai Tokopedia berkomitmen penuh pada kesetaraan peluang, tidak hanya untuk laki-laki namun juga perempuan. Tidak hanya orang muda tetapi juga usia lanjut. 

“Tokopedia sebagai perusahaan memiliki lebih dari 6.000 Nakama (karyawan Tokopedia) berasal dari talenta-talenta yang punya beragam profil baik laki-laki, perempuan, difabel, kami beri kesempatan untuk berkontribusi,” katanya.

Perusahaan bercorak hijau ini juga berkomitmen memberikan fasilitas terbaik bagi para Nakama. Misalnya ruang menyusui untuk karyawan ibu menyusui dan memberikan cuti melahirkan kepada karyawan laki-laki (paternity leave) agar maksimal membantu sang istri yang baru melahirkan. 

Hal tersebut dilakukan Tokopedia lewat inisiatif Hyperlocal. Inisiatif ini akan menguntungkan bagi penjual terutama di masa pandemi karena pasarnya semakin lebar. Sementara, bagi pembeli akan memberikan pilihan belanja terdekat dengan ongkos lebih murah.

Masih dalam perayaan hari Kartini, Tokopedia juga mencatat kenaikan signifikan jumlah pegiat usaha perempuan yakni mencapai 2,5 kali lipat. “Ini sangat membanggakan, para perempuan bisa produktif meningkatkan bisnis online,” sebutnya. 

Peningkatan pegiat usaha perempuan, lanjutnya, tertinggi ada di Pekanbaru, Palembang, Pekalongan, Denpasar dan Balikpapan. Menurutnya, perkembangan di kota besar kini juga bisa dirasakan oleh UMKM di kota-kota kecil melalui inisiatif Hyperlocal

“Penjual-penjual bisa ditemukan dengan mudah oleh para pembeli,” sebutnya.

Hari Kartini, Tokopedia dorong kesetaraan peluang untuk bersama pulihkan ekonomi Indonesia. Dokumentasi.

Puput pun memberikan sejumlah tips bagi para pegiat UMKM untuk mendongkrak penjualan. Pertama, yang terpenting adalah melihat tren kebutuhan konsumen. Misalnya di saat Ramadan semua kebutuhan di tiap kategori mengalami lonjakan penjualan. Terutama kategori makanan dan minuman, fashion muslim, serta kecantikan dan perawatan diri.

Kedua, tambah dia, seller harus memanfaatkan semua fitur di Tokopedia sebagai ajang promosi. Misalnya fitur Parsel Ramadan sehingga toko seller lebih mudah ditemukan penawarannya. 

Ilustrasi Alinea.id/M.T Fadillah.

Berita Lainnya