sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

PGN targetkan 1 juta jaringan gas baru selesai pada 2021

Dana pembangunan jaringan gas akan berasal dari APBN dan kas perusahaan.

Annisa Saumi
Annisa Saumi Kamis, 08 Agst 2019 12:55 WIB
PGN targetkan 1 juta jaringan gas baru selesai pada 2021
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 385.980
Dirawat 63.556
Meninggal 13.205
Sembuh 309.219

PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk. (PGN) berencana membangun sejumlah 1 juta jaringan gas (jargas) baru hingga 2021. Dana pembangunan 1 juta jargas baru tersebut akan berasal dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) pemerintah serta dana mandiri PGN.

Direktur Utama PGN Gigih Prakoso mengatakan pihaknya akan menyiapkan belanja modal yang berasal dari pinjaman dan dana internal untuk membangun 500.000 jargas baru tanpa menggunakan dana APBN.

"Pembangunan 500.000 jargas baru itu akan dimulai pada 2020," kata Gigih di Kementerian BUMN, Jakarta, Kamis (8/8).

Untuk membangun jargas tanpa APBN, PGN sudah menyiapkan beberapa skema pendanaan yakni Kerja Sama Pemerintah Badan Usaha (KPBU), atau kerja sama dengan Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) dengan skema build and rent telah dipertimbangkan manajemen sebagai opsi pembangunan jargas baru tanpa mengandalkan APBN. 

Sementara itu, untuk pembangunan jargas yang menggunakan dana APBN, PGN akan membangun 293.533 jargas baru pada 2020 dan 206.467 jargas baru pada 2021. Dengan demikian, Gigih memperkirakan hingga 2025, PGN bisa mencapai target 4,7 juta sambungan baru untuk kebutuhan rumah tangga.

Adapun pada tahun ini, PGN mendapatkan penugasan untuk membangun 78.216 sambungan gas rumah tangga dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM). Untuk diketahui, sejak tahun 2009 hingga 2019, PGN telah membangun 564.445 sambungan rumah (SR). 

Sementara untuk produksi gas pada semester I-2019, PGN mengakui ada penurunan secara volume karena pasokan gas di Jawa Timur mengalami gangguan di bulan Februari. Gangguan tersebut menyebabkan produksi gas di Jawa Timur mengalami penurunan 30% hingga 40%. 

"Dari monitoring kami di bulan Juni sebenarnya sudah recover, sesuai dengan kebutuhan normal kita 900 mm sampai 150 mm bbtud," kata Gigih. 

Sponsored
Berita Lainnya