sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Siap-siap resesi, Sri Mulyani prediksi pertumbuhan ekonomi kuartal III minus 2%

Kunci utama untuk menghindari pertumbuhan negatif terletak pada konsumsi dan investasi.

Annisa Saumi
Annisa Saumi Selasa, 25 Agst 2020 13:00 WIB
Siap-siap resesi, Sri Mulyani prediksi pertumbuhan ekonomi kuartal III minus 2%
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 406.945
Dirawat 58.868
Meninggal 13.782
Sembuh 334.295

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati memperkirakan pertumbuhan ekonomi pada kuartal III-2020 berada pada kisaran 0% hingga minus 2%. Dengan pergeseran pergerakan yang belum solid, dia memprediksi pertumbuhan ekonomi pada 2020 berada pada kisaran minus 1,1% hingga 0,2%.

Sri menyebut kunci utama untuk menghindari pertumbuhan negatif tersebut, terletak pada konsumsi dan investasi. Sebab, jika kedua hal tersebut tidak menunjukkan perbaikan, maka akan sulit bagi ekonomi Indonesia untuk masuk ke dalam zona netral 0% pada 2020.

"Kalau konsumsi dan investasi masih di zona negatif, meskipun pemerintah all out dari segi belanjanya, akan sangat sulit masuk di dalam zona netral 0% tahun 2020 ini," kata Sri Mulyani dalam konferensi pers APBN KiTa, Selasa (25/8).

Mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia tersebut melanjutkan, kunci dari pertumbuhan konsumsi ini tidak bisa hanya mengandalkan bantuan sosial (bansos) pemerintah. Apabila konsumsi hanya didorong dari bansos, maka hal tersebut tidak bisa mengungkit pertumbuhan konsumsi mendekati 0%. 

"Pertumbuhan masih akan bisa negatif kalau kelas menengah belum melakukan pemulihan belanja konsumsinya. Kalau hanya berasal dari bansos, meskipun tumbuh 55% dari tahun lalu, dan kami sudah membelanjakan Rp170 triliun untuk bansos, kami tetap tidak bisa sendirian mengembalikan fungsi konsumsinya" ujarnya.

Selain pertumbuhan konsumsi, Sri berharap investasi juga bisa mulai pulih pada kuartal III dan IV ini, minimal mendekati 0%. Dia menilai, investasi pada kuartal II-2020 telah terkontraksi cukup dalam.

"Jadi outlook kami sangat tergantung pada pemulihan di sektor konsumsi dari sisi permintaannya dan investasi. Pemerintah akan menggunakan berbagai instrumen untuk mengembalikan kepercayaan di bidang investasi maupun di bidang pemulihan konsumsi," tuturnya. 

Badan Pusat Statistik (BPS) sebelumnya mencatat konsumsi rumah tangga pada kuartal II-2020 minus 5,51%, dibandingkan pada 2019 dalam periode yang sama. Hanya dua komponen rumah tangga yang tak terkontraksi pada kuartal II-2020, yakni komponen perumahan dan perlengkapan rumah tangga yang tercatat masih tumbuh 2,36%, serta komponen kesehatan dan pendidikan dengan pertumbuhan 2,02%.

Sementara itu, Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) mencatat realisasi investasi pada kuartal II-2020 turun 4,3% ketimbang periode yang sama tahun sebelumnya menjadi Rp191,9 triliun.

Sponsored
Berita Lainnya