close icon
Scroll ke atas untuk melanjutkan
Direktur Jenderal (Dirjen) Direktorat Jenderal Perikanan Tangkap Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Muhammad Zaini menyampaikan program “Bangga Menjadi Nelayan” dalam sambutannya di acara Musyawarah Nasional (Munas) Kesatuan Nelayan Tradisional Indo
icon caption
Direktur Jenderal (Dirjen) Direktorat Jenderal Perikanan Tangkap Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Muhammad Zaini menyampaikan program “Bangga Menjadi Nelayan” dalam sambutannya di acara Musyawarah Nasional (Munas) Kesatuan Nelayan Tradisional Indo
Bisnis
Selasa, 19 Juli 2022 14:37

Stigma buruk buat keengganan anak muda geluti profesi nelayan

Kesenjangan sosial yang dialami nelayan jadi stigma buruk nelayan.
swipe

Direktur Jenderal (Dirjen) Direktorat Jenderal Perikanan Tangkap Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Muhammad Zaini menyampaikan, stigma mengenai nelayan selama ini menjadi faktor keengganan generasi muda menekuni bidang profesi itu. Bahkan, banyak alumni-alumni sekolah tinggi tidak mau jadi nelayan karena stigma buruk yang menempel.

“Selama ini nelayan kita dikenal sebagai yang terbelakang, miskin, kumuh, dan jelek-jelek lainnya,” tutur Zaini dalam acara Munas KNTI IV di Jakarta, Selasa (19/7).

KKP sendiri sudah memiliki program Bangga Menjadi Nelayan yang bertujuan untuk menghilangkan anggapan nelayan yang hanya dijadikan objek.

Adanya stigma buruk ini, katanya, dipicu kesenjangan baik pendidikan maupun informasi dan kurang berpihaknya masyarakat pada nelayan. Zaini mencontohkan, dirinya sebagai mantan nelayan yang berhasil mengenyam pendidikan mengucap syukur.

 “Seandainya saya tak ada kesempatan untuk punya pendidikan, mungkin saat ini ketika saya umur 60 tahun ini, saya niscaya tetap jadi nelayan tradisional,” ucapnya.

Oleh karena itu, Zaini mewakili KKP bersama pemerintah telah menyediakan akses pendidikan yang sangat penting bagi nelayan dan putra-putri nelayan. Akses pendidikan itu disebut Zaini telah dibuka secara luas berupa pendidikan-pendidikan vokasi yang 80% alokasinya diperuntukkan bagi pelaku-pelaku utama di bidang kelautan dan perikanan.

“Tidak ada itu nelayan bodoh, mereka tidak tahu karena tidak ada kesempatan untuk mendapatkan pendidikan. Nelayan tidak bodoh, karena kita setiap hari makan ikan,” tutur Zaini.

Ia berharap agar keluarga nelayan bisa memanfaatkan sebaik-baiknya kesempatan untuk memperoleh pendidikan, sehingga tak ada lagi alasan anak nelayan tidak bisa bersekolah. Kesenjangan pendidikan antara nelayan dan profesi lainnya pun akan semakin berkurang.

“Ini tolong dimanfaatkan sebaik-baiknya. Nelayan belum ada yang jadi presiden, semoga ke depan ada. Kalau jadi menteri sudah ada, dirjen juga sudah banyak,” tutur Zaini seraya memotivasi para nelayan yang hadir dalam acara Munas KNTI IV tersebut.

Diketahui melalui data KKP, kementerian ini telah memiliki 25 unit satuan pendidikan yang di dalamnya terdiri dari 9 Sekolah Usaha Perikanan Menengah (SUPM) dan 11 satuan pendidikan tinggi yang terdiri dari 10 politeknik dan 1 akademi komunitas dengan peserta didik seluruhnya sebanyak 8.440 orang. 

Artikel ini ditulis oleh :

img
Erlinda Puspita Wardani
Reporter
img
Ayu mumpuni
Editor
Bagikan :
×
cari
bagikan