sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Strategi industri farmasi menghadapi new normal

New normal mengakibatkan terjadinya pergeseran perilaku konsumen.

Annisa Saumi
Annisa Saumi Selasa, 23 Jun 2020 18:29 WIB
Strategi industri farmasi menghadapi new normal
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 939.948
Dirawat 149.388
Meninggal 26.857
Sembuh 763.703

Pandemi Covid-19 memaksa berbagai bisnis harus mendesain ulang model bisnis mereka di masa new normal, tak terkecuali industri farmasi. Ketua Umum Gabungan Perusahaan Farmasi Indonesia F. Tirto Kusnadi mengatakan new normal adalah low touch economy yang mengacu pada cara bisnis yang dipaksakan beroperasi dengan pendekatan baru agar berhasil di era Covid-19.

"Di new normal, kita dipaksa beradaptasi dengan kebijakan ketat. Terjadi juga pergeseran perilaku konsumen akibat banyaknya peraturan baru yang muncul," kata Tirto dalam webinar Selasa (23/6).

Selain itu, new normal menghendaki ekonomi yang mengacu pada berkurangnya interaksi antar manusia. Tatanan kehidupan baru juga dinilai telah mengubah jalannya rantai pasok  selama ini.

Untuk menyikapi perubahan-perubahan yang terjadi di new normal ini, Tirto mengatakan pabrikan farmasi harus menyusun ulang forecast penjualan mereka dan neraca produksi. Penyusunan ulang tersebut dilakukan agar produksi yang dilakukan bisa sesuai dengan kebutuhan pasar sekaligus untuk mempertahankan daya saing.

Sponsored

"Penurunan ini sudah dirasakan sekali oleh industri farmasi. Memang ada yang mencatatkan penjualan double, tetapi hanya untuk produksi tertentu, seperti vitamin atau suplemen makanan. Sedangkan penjualan dalam bidang lain mengalami penurunan," ujarnya.

Tirto menyarankan industri farmasi melakukan penyesuaian portofolio produk, dengan perubahan perilaku hidup masyarakat.

"Lakukan inovasi dalam bisnis proses, tapi tak terbatas pada sektor pemasaran. Kemudian industri farmasi juga perlu mempelajari dan menyesuaikan dengan perkembangan epidemologi," tuturnya.

Selain itu, Tirto mengatakan pabrikan farmasi juga perlu mengembangkan urusan distribusi mereka dengan masuk ke e-commerce atau melakukan skema business to business (b2b) untuk menjawab isu physical distancing dan memperpendek rantai distribusi. 

Berita Lainnya
×
img