sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

Tiket diskon bikin Garuda dan Lion Air berdarah-darah

Penetapan diskon tarif tiket pesawat oleh pemerintah membuat kinerja maskapai Lion Air dan Garuda Indonesia berdarah-darah.

Cantika Adinda Putri Noveria
Cantika Adinda Putri Noveria Rabu, 24 Jul 2019 21:48 WIB
Tiket diskon bikin Garuda dan Lion Air berdarah-darah

Penetapan diskon tarif tiket pesawat oleh pemerintah membuat kinerja maskapai Lion Air dan Garuda Indonesia berdarah-darah.

Manajemen PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk., PT Lion Mentari Airlines, dan PT Indonesia Airasia Tbk., mengatakan persoalan penetapan tarif tiket pesawat saat rapat kerja dengan Komisi V DPR, Rabu (24/7).

Direktur Niaga Garuda Indonesia Pikri Ilham Kurniansyah mengatakan struktur biaya yang diterapkan perseroan sudah tidak bisa ditanggung dengan harga tiket saat ini. Sehingga, manajemen Garuda harus memutar strategi agar kerugian bisa ditekan.

Menurut dia, kondisi keuangan Garuda terbilang tidak stabil dalam dua tahun terakhir. Tahun 2017, emiten Badan Usaha Milik Negara (BUMN) bersandi saham GIAA itu menderita kerugian Rp3 triliun. 

Kemudian pada Januari-September 2018, maskapai penerbangan pelat merah ini masih menderita rugi Rp1,6 triliun. Sehingga, Garuda telah mencatat kerugian setidaknya Rp5 triliun dalam dua tahun terakhir.

"Memang struktur biaya tidak bisa di-cover dengan harga yang dilempar ke pasar kemarin. Sehingga mau tidak mau, mencari jalan agar kerugian ini setidak-tidaknya berkurang," ujarnya.

Bahkan, dia mengaku kesulitan untuk mendapatkan keuntungan meski hanya satu rupiah. Menjual harga tiket seharga biaya produksi saja tidak dapat dilakukan.

"Bagaimana menutup, agar tidak usah untung katakan, hanya Rp1 BEP (break even point/balik modal). Kalau kami lihat temuan BPK, laporan keuangan kami memang dinilai BPK bahwa kami menjual harga tidak sesuai HPP (harga pokok penjualan), ini yang kami evaluasi dan kami lakukan penyesuaian harga jual kami," tuturnya.  

Sponsored

Setali tiga uang, Managing Director Lion Air Group Daniel Putut mengatakan, komponen harga tiket bukan hanya tarif batas atas dan bawah saja, tetapi juga termasuk pajak, asuransi, dan pajak bandar udara (airport tax).

Menurut dia, komponen harga tiket juga ditambah fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat. Kurs rupiah dinilai turut membebani komponen biaya lantaran mayoritas beban operasional menggunakan mata uang asing.

Nilai tukar rupiah, kata dia, tak lagi bersahabat bagi industri penerbangan sejak 2013. Baginya, kurs rupiah yang nyaman bagi industri berada pada kisaran Rp11.000 per dolar AS.

Mata uang Garuda terus melemah terhadap dolar AS sejak 2013, dengan rentang Rp13.000-Rp15.000 per dolar AS. Seluruh komponen biaya operasional maskapai penerbangan nyaris 50% menggunakan mata uang asing, terutama biaya sewa pesawat.

"Kami punya komponen berbeda lessor, penyewa pesawat kami dari 314 pesawat yang kami miliki lessor beda-beda dan harganya beda-beda dan itu menggunakan dolar AS," urainya pada kesempatan yang sama.

Kondisi berbeda diungkapkan oleh Head of Global Affairs & Policy AirAsia Eddy Krismeidi. Sesuai dengan slogan AirAsia everyone can fly, maka manajemen justru tak mempersoalkan penetapan tarif tiket pesawat murah.

Penetapan harga murah itu menurut Eddy justru membuat maskapai milik Tony Fernandes tersebut berhasil menekan kerugian. Tahun lalu saja, AirAsia menekan kerugian hingga Rp1 triliun dan berlanjut pada kuartal I-2019 senilai Rp75 miliar.

"Karena kami diprinsipkan yang kami jual sebagai moto itu tetap kami pegang, walaupun memang dalam kondisi rugi. Kuartal terakhir ini sudah kami tekan sampai Rp3 miliar. Mudah-mudahan kuartal ini bisa lebih baik," kata Eddy. 

Menanggapi hal itu, Wakil Ketua Komisi V DPR Lassarus mempertanyakan, bagaimana bisa AirAsia yang menjual tiketnya dengan murah, malah bisa menekan kerugian begitu besar. 

"AirAsia yang menjual tiket dengan murah, malah bisa menekan kerugian. Tapi kok Garuda dan Lion Air, yang tiketnya mahal malah mengatakan rugi. Ini yang perlu jadi bahan evaluasi kita bersama," ujarnya. 

Seperti diketahui, Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian menetapkan diskon tarif tiket pesawat maskapai berbiaya murah (low cost carrier/LCC) hingga 50%. Diskon tarif itu berlaku untuk maskapai Lion Air dan Citilink Indonesia pada rute, hari, jam, dan tipe pesawat tertentu.