Perkembangan teknologi informasi (IT) diperkirakan akan semakin cepat dan berdampak langsung pada arah strategi bisnis sepanjang 2026. Dunia usaha tidak lagi cukup hanya mengikuti tren digital, tetapi juga dituntut mampu membangun sistem yang efisien, terintegrasi, dan aman untuk menjaga daya saing.
Tren IT pada 2026 diproyeksikan akan berfokus pada penguatan infrastruktur digital, pemanfaatan kecerdasan buatan (AI), integrasi sistem, serta peningkatan keamanan siber sebagai fondasi utama transformasi bisnis.
Direktur PT Nusa Network Prakarsa, Edward, menilai tahun 2026 akan menjadi fase krusial bagi perusahaan dalam mengevaluasi kesiapan infrastruktur IT mereka. Transformasi digital, menurutnya, kini telah berubah menjadi kebutuhan strategis, bukan lagi pilihan.
“Perusahaan tidak bisa lagi hanya mengandalkan sistem IT konvensional. Di tahun 2026, kami melihat tren IT akan semakin mengarah pada sistem yang terintegrasi, scalable, dan aman. Infrastruktur IT yang kuat akan menjadi penentu keberlanjutan bisnis,” ujar Edward, dalam keterangan resminya yang diterima Alinea.id, Senin (2/2).
Salah satu tren utama yang diprediksi mendominasi adalah meningkatnya adopsi cloud dan hybrid infrastructure. Model ini dinilai memberikan fleksibilitas lebih besar bagi perusahaan dalam mendukung mobilitas kerja, integrasi aplikasi, serta efisiensi biaya operasional.
Dengan sistem hybrid, perusahaan tidak lagi sepenuhnya bergantung pada infrastruktur fisik, melainkan dapat mengelola sumber daya IT secara lebih dinamis sesuai kebutuhan bisnis.
Selain cloud, penggunaan Artificial Intelligence (AI) diperkirakan akan semakin meluas di berbagai sektor usaha. AI tidak hanya dimanfaatkan untuk otomatisasi, tetapi juga untuk analisis data, prediksi perilaku pasar, hingga peningkatan pengalaman pelanggan.
“AI akan menjadi enabler penting dalam transformasi digital. Namun, penerapannya harus didukung oleh sistem yang terintegrasi dan data yang dikelola dengan baik. Tanpa fondasi IT yang kuat, pemanfaatan AI tidak akan optimal,” jelas Edward.
Di sisi lain, seiring meningkatnya ketergantungan pada sistem digital, risiko keamanan siber juga diprediksi akan semakin kompleks. Kasus kebocoran data, serangan ransomware, hingga ancaman berbasis AI mendorong perusahaan untuk menjadikan keamanan siber sebagai bagian inti dari strategi IT.
“Ancaman siber akan semakin kompleks. Oleh karena itu, perusahaan perlu mengimplementasikan sistem keamanan yang menyeluruh, mulai dari firewall, network monitoring, hingga perlindungan endpoint. Pendekatan keamanan yang terintegrasi akan menjadi standar baru,” tuturrnya.
Tren berikutnya adalah pemanfaatan data dan otomatisasi dalam pengambilan keputusan bisnis. Dengan sistem IT yang terintegrasi dan dukungan AI, perusahaan dapat mengolah data secara real-time untuk meningkatkan efisiensi operasional serta memahami kebutuhan pasar secara lebih akurat.
Kondisi ini mendorong kebutuhan akan infrastruktur jaringan yang stabil dan andal agar seluruh proses bisnis berjalan tanpa hambatan.
Edward juga menekankan bahwa peran system integrator akan semakin penting pada 2026. Banyak perusahaan membutuhkan mitra teknologi yang mampu mengintegrasikan berbagai sistem, aplikasi, cloud platform, hingga solusi AI agar selaras dengan tujuan bisnis.
“System integrator bukan hanya bertugas memasang teknologi, tetapi juga memastikan solusi yang diterapkan benar-benar sesuai dengan kebutuhan bisnis klien. Pendekatan konsultatif dan pemahaman menyeluruh terhadap proses bisnis menjadi kunci,” tambah Edward.
Melihat arah tren IT tersebut, perusahaan yang mampu mempersiapkan infrastruktur digital sejak dini diproyeksikan akan memiliki keunggulan kompetitif. Investasi pada teknologi cloud, AI, dan keamanan siber diyakini dapat membantu bisnis menjadi lebih adaptif, efisien, dan aman dalam menghadapi tantangan di masa depan.