close icon
Scroll ke atas untuk melanjutkan
Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani. Foto YouTube Kemenkeu
icon caption
Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani. Foto YouTube Kemenkeu
Bisnis
Jumat, 21 Oktober 2022 15:14

Update harga komoditas, Menkeu: CPO turun drastis tetapi jagung mulai naik

Harga komoditas tersebut terpantau masih memiliki volatilitas cukup tinggi dan masih sangat tidak pasti.
swipe

Sejumlah harga komoditas utama dunia, menurut Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani, masih sangat memengaruhi kesehatan perekonomian di beberapa negara. Dari laporan Kementerian Keuangan, harga komoditas tersebut terpantau masih memiliki volatilitas cukup tinggi dan masih sangat tidak pasti.

“Harga gas sempat naik, kemudian merosot, dan merosot lagi,” ungkap Menkeu Srimul dalam konferensi pers APBN Kita, Jumat (21/10).

Harga gas dunia saat ini berada di US$6,44 per MMBtu yang sebelumnya ada di US$9,40 MMBtu. Kemudian harga batu bara dilaporkan masih di kisaran US$400 per metric ton, tepatnya US$394,5 per metric ton atau mengalami kenaikan 130,5% year to date (ytd). Komoditas lain yang mengalami fluktuasi harga yaitu, minyak yang terus mengalami penurunan, sebelumnya sempat di level US$126,0 per barel sekarang menjadi US$90,8 per barel.

“Crude Palm Oil (CPO) kita juga mengalami penurunan yang cukup drastis sejak 1 hingga 1,5 bulan terakhir,” katanya.

CPO terpantau menurun di posisi US$817,1 per ton dan mengalami penurunan minus 32,3% (ytd). Lalu harga gandum juga menurun yakni menjadi US$850,1 per bushels. Kemudian, harga kedelai mengalami penurunan namun masih bergejolak yaitu US$1.377,5 per bushels. Sedangkan harga jagung yang sempat menurun mulai merangkak naik di level US$682,0 per bushels setelah sebelumnya sempat di level US$582,5 per bushels.

Ketidakpastian harga komoditas yang terkadang cenderung tinggi, dijelaskan oleh Srimul faktor yang memengaruhi masih adanya perang geopolitik Rusia dan Ukraina.

“Perang ini yang mengganggu sisi pasokan dan distribusi, sehingga cenderung membuat harga dari komoditas-komoditas ini jadi tinggi dan mudah bergejolak,” terangnya.

Tingginya volatilitas harga komoditas tentu membuat inflasi terjadi di berbagai negara yang ditandai dengan harga-harga umum di masyarakat umum mengalami kenaikan. Guna menekan inflasi, aksi menaikkan suku bunga acuan oleh beberapa bank sentral di dunia turut dilakukan.

Dari pantauan Kementerian Keuangan (Kemenkeu), inflasi di Inggris telah menyentuh 10,1% yang membuat bank sentral Inggris menaikkan suku bunga 200 basis poin (bps) sepanjang 2022 dan diperkirakan terus bertahan di level tinggi. Tingginya inflasi di Inggris juga kata Menkeu sudah memengaruhi politik di negara tersebut.

“Mulai dari menteri keuangannya diganti, sekarang perdana menteri Inggris juga turun. Ini menandakan kekacauan ekonomi dan keuangan telah berimbas pada politik,”

Di Amerika Serikat (AS), inflasi September berada di 8,2% dan membuat kenaikan Fund Fed Rate (FFR) menjadi 3,25% atau sudah naik 300 bps sepanjang 2022. Dan diperkirakan FFR terus menaikkan suku bunga secara agresif hingga mencapai 4,5% di akhir tahun ini.

Untuk Indonesia, Bank Indonesia (BI) baru saja menaikkan suku bunga acuan menjadi 4,75% atau naik lagi 50 bps. Adapun inflasi Indonesia saat ini sudah di angka 6,0%. 

img
Erlinda Puspita Wardani
Reporter
img
Hermansah
Editor

Untuk informasi menarik lainnya,
follow akun media sosial Alinea.id

Bagikan :
×
cari
bagikan