sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

AS: Inggris berkesempatan untuk tinjau kembali soal Huawei

AS mengklaim ada risiko China dapat mengeksploitasi peralatan Huawei untuk melakukan pengintaian.

Khairisa Ferida
Khairisa Ferida Kamis, 30 Jan 2020 12:08 WIB
AS: Inggris berkesempatan untuk tinjau kembali soal Huawei
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 23165
Dirawat 15870
Meninggal 1418
Sembuh 5877

Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Mike Pompeo mengatakan bahwa informasi dari Amerika Serikat seharusnya hanya melewati jaringan tepercaya. Pompeo akan bertatap muka dengan Menteri Luar Negeri Inggris Dominic Raab pada Rabu (29/1), satu hari setelah London memutuskan mengizinkan keterlibatan Huawei dalam pengembangan jaringan 5G mereka.

Pompeo menyatakan bahwa pihaknya belum jelas tentang implikasi praktis dari keputusan Inggris dan dia ingin membahas hal ini dengan Raab.

"Kami akan mengevaluasi apa yang dilakukan Inggris. Sedikit tidak jelas apa persinya yang akan mereka izinkan dan tidak izinkan. Jadi, kami membutuhkan waktu untuk mengevaluasinya," ujar Pompeo dalam perjalanannya ke Inggris.

"Tetapi pandangan kami adalah kita harus memiliki sistem Barat dengan aturan Barat, dan informasi yang dibagikan AS seharusnya hanya melewati jaringan tepercaya, dan kami akan memastikan itu."

Ketika didesak soal apakah AS akan mengurangi kerja sama berbagi intelijen dengan Inggris, Pompeo mengatakan itu akan bergantung pada bagaimana Inggris mengimplementasikan keputusannya. Namun, Pompeo menuturkan bahwa ada peluang bagi Inggris untuk berubah pikiran.

"Ada kesempatan bagi Inggris untuk meninjau kembali soal ini sementara implementasinya bergerak maju," tutur Pompeo.

Sementara itu, Menlu Raab mengungkapkan bahwa harus ada ruang bagi perbedaan pendapat terkait Huawei.

"Sebagai teman dekat, hubungan Inggris-AS dewasa sehingga kami memiliki rasa percaya diri untuk bicara jujur tentang unsur-unsur yang tidak kami setujui," tutur Raab.

Sponsored

Meski mengizinkan penggunaan peralatan Huawei, namun pemerintah Inggris mengecualikan raksasa telekomunikasi China itu dari jaringan yang digunakan untuk mengirimkan informasi sensitif atau mendekati situs sensitif seperti pembangkit listrik.

Uni Eropa ikuti langkah Inggris

Pernyataan Pompeo tersebut muncul setelah Uni Eropa mengikuti jejak Inggris dengan mengizinkan Huawei membantu pembangunan jaringan 5G mereka.

Sama halnya dengan Inggris, Komisi Eropa juga mengecualikan vendor berisiko tinggi seperti Huawei dari bagian jaringan telekomunikasi 5G yang kritis dan sensitif. Di lain sisi, Uni Eropa akan meminta perusahaan-perusahaan agar memiliki strategi demi menjaga rantai pasokan mereka beragam. 

Keputusan mengenai Huawei oleh Komisi Eropa disebut telah mendorong argumen internal di seluruh Eropa, terutama di Jerman, di mana partai berkuasa terpecah atas isu tersebut.

Menurut laporan di surat kabar Handelsblatt, intelijen yang dibagikan AS kepada pemerintah Jerman menunjukkan bahwa Huawei bekerja sama dengan otoritas keamanan China. Hal itu disebut bukti yang seharusnya membuat Huawei tidak diizinkan terlibat pembangunan infrastruktur telekomunikasi.

Selama ini, Gedung Putih telah berusaha melobi negara-negara di seluruh dunia, terutama sekutunya, untuk melarang total penggunaan peralatan Huawei. AS mengklaim bahwa ada risiko China dapat mengeksploitasi peralatan Huawei untuk melakukan pengintaian.

Namun, Pusat Keamanan Siber Nasional Inggris (NCSC) mengungkapkan pada Selasa bahwa risiko yang ditimbulkan dari peralatan Huawei dapat dikelola.

Merespons keputusan Inggris, senator Republikan Ben Sasse mengatakan, "Inilah kenyataan yang menyedihkan: Hubungan spesial kita menjadi kurang istimewa sekarang karena Inggris merangkul negara pengintai."

Tom Cotton, senator Republikan lainnya menuturkan bahwa keputusan Inggris mengizinkan penggunaan peralatan Huawei seperti membolehkan KGB membangun jaringan telepon selama Perang Dingin.

Dia menyerukan AS untuk melakukan peninjauan menyeluruh atas kerja sama berbagi intelijen dengan Inggris. (Sky News dan The Guardian)

Berita Lainnya