sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

China kritik campur tangan terkait penangkapan jurnalis Bloomberg

FCCC mengatakan, bahwa mereka tengah mencari kejelasan mengapa pihak berwenang menahan Fan.

Valerie Dante
Valerie Dante Senin, 14 Des 2020 18:48 WIB
China kritik campur tangan terkait penangkapan jurnalis Bloomberg

China menegaskan bahwa penangkapan seorang jurnalis yang bekerja untuk media Bloomberg adalah urusan internal. Pemerintah memperingatkan agar pihak luar tidak ikut campur dalam isu tersebut.

Warga negara China, Haze Fan, ditahan oleh pihak berwenang pada pekan lalu setelah dia dituduh membahayakan keamanan nasional.

Penangkapan Fan merupakan yang terbaru dari serangkaian  pengusiran jurnalis di Negeri Tirai Bambu.

Uni Eropa menanggapi tindakan tersebut, dengan mendesak agar Tiongkok membebaskan seluruh jurnalis yang ditahan terkait dengan pemberitaan mereka.

Dalam pernyataan yang dirilis pada Minggu (13/12), Uni Eropa mengharapkan, pihak bewenang China memberikan bantuan medis jika diperlukan, akses terhadap pengacara pribadi, serta kontak dengan keluarga.

Foreign Correspondents Club in China (FCCC) juga mengutarakan solidaritasnya, menuturkan bahwa media internasional sangat bergantung pada staf yang mereka punya di China.

Namun, Kedutaan Besar China untuk Uni Eropa pada Minggu menanggapi dengan menjelaskan, bahwa Fan dicurigai terlibat dalam kegiatan kriminal yang membahayakan keamanan nasional dan Biro Keamanan Negara telah mengambil tindakan sesuai untuk menanganinya.

Di akun WeChat resmi Kedubes China, mereka memaparkan bahwa kasus tersebut sedang diselidiki sesuai dengan hukum yang berlaku dan hak Fan sepenuhnya dijamin.

Sponsored

"Persoalan ini sepenuhnya urusan internal China dan tidak ada negara atau organisasi lain yang berhak ikut campur," jelas pernyataan tersebut.

Fan telah bekerja di Bloomberg sejak 2017, setelah sebelumnya bekerja untuk kantor berita Reuters, CNBC, Al Jazeera, serta CBS News.

Dia terlihat dikawal dari gedung apartemennya oleh petugas keamanan pada 7 Desember 2020, tak lama setelah dia berhubungan dengan salah satu editornya.

"Kami sangat prihatin padanya dan telah secara aktif berbicara dengan pihak berwenang China untuk lebih memahami situasinya," kata juru bicara Bloomberg yang berbasis di New York, Amerika Serikat. "Kami terus melakukan segala yang kami bisa untuk mendukungnya sembari mencari lebih banyak informasi."

Dalam sebuah twit, FCCC mengungkapkan solidaritas mereka dengan Fan.

"Warga China menawarkan penelitian kritis dan dukungan linguistik untuk liputan asing di China. Tanpa dukungan mereka, akan sulit bagi media asing untuk beroperasi di China," kata mereka, merujuk pada Fan.

FCCC juga mengatakan, bahwa mereka tengah mencari kejelasan mengapa pihak berwenang menahan Fan.

Fan bukanlah jurnalis pertama yang mengalami masalah dengan otoritas China pada tahun ini.

Sebelumnya pada 2020, China daratan mengusir wartawan dari tiga surat kabar terkemuka AS ketika memerintahkan wartawan dari New York Times, Washington Post, dan Wall Street Journal untuk mengembalikan surat izin mereka dalam beberapa hari setelah hubungan Washington dan Beijing memburuk.

Pada Agustus, pihak berwenang di Beijing menahan warga negara Australia kelahiran China, Cheng Lei, jurnalis yang bekerja untuk penyiar CGTN milik pemerintah China, dengan alasan keamanan nasional.

Kemudian pada September, dua koresponden asal Australia tiba-tiba meninggalkan China setelah mereka diinterogasi oleh otoritas setempat. (BBC)

Berita Lainnya